Denada Digugat Miliaran, Pihak Ressa Sebut Cicilan Mobil Jadi Awal Konflik
Saat ini, penyanyi Denada tengah menghadapi tuntutan hukum terkait dugaan penelantaran anak.
Seorang pemuda berusia 24 tahun bernama Ressa Rizky Rosano mengajukan gugatan perdata dengan nilai miliaran rupiah.
Terkait gugatan tersebut, pihak keluarga Ressa menyebut persoalan cicilan mobil menjadi pemicu utama konflik yang kemudian berujung pada langkah hukum.
Masalah bermula dari kendaraan yang sejak awal dipahami sebagai pemberian, tetapi belakangan diketahui masih berstatus kredit.
Cicilan itu pun menimbulkan beban finansial bagi Ratih Puspita Dewi, perempuan yang membesarkan Ressa sejak bayi.
Lantas, bagaimana cicilan mobil membuat keluarga Ratih memutuskan bertindak?
Cicilan mobil disebut tidak dijelaskan sejak awal
Berdasarkan keterangan keluarga, mobil yang digunakan Ressa disebut diberikan saat ia masuk SMA oleh Emilia Contessa, ibu Denada.
Namun, belakangan baru diketahui kendaraan tersebut masih memiliki cicilan yang harus dibayar dalam jangka waktu panjang.
"(Saya) pikir ya dikasih. Ternyata kan masih bayar bulanan sampai 5 tahun," ujar Ratih dalam perbincangan di YouTube Curhat Bang Denny Sumargo, Selasa (27/1/2026).
Ratih menyebut, meski sempat terkejut mengetahui fakta tersebut, ia memilih tetap melanjutkan pembayaran cicilan demi Ressa.
Cicilan bulanan mobil itu, menurut keluarga, justru ditanggung oleh Ratih.
Selain itu, menantu Ratih bernama Ronald menjelaskan bahwa dokumen kendaraan seperti BPKB tidak berada di tangan Ressa karena mobil masih berstatus leasing.
Mobil dijual, cicilan berlanjut ke kendaraan pengganti
Pihak keluarga menuturkan, mobil tersebut kemudian dijual dengan alasan akan diganti kendaraan lain karena Emilia Contessa menganggap kendaraan itu kurang layak untuk Ressa.
Dari hasil penjualan mobil lama senilai Rp 99 juta, keluarga menyebut hanya sebagian dana yang digunakan sebagai uang muka mobil pengganti.
"Lakunya Rp 99 juta. Itu cuma Rp 20 juta yang di-DP-kan ke mobil baru. Sisanya ke pihak lain," ujar perwakilan keluarga.
Ressa, menurut keluarga, sempat mengira seluruh hasil penjualan mobil lama digunakan untuk kendaraan baru.
Namun, faktanya cicilan mobil pengganti tetap berjalan dan harus ditanggung sendiri.
"Ditawari mobil, ternyata kok disuruh membayar sendiri cicilannya," kata Ronald.
Cicilan mobil pengganti tersebut disebut mencapai sekitar Rp 4 juta per bulan, jumlah yang dinilai berat bagi Ressa yang saat itu belum memiliki penghasilan tetap.
Penagihan cicilan berdampak pada Ratih
Persoalan cicilan disebut memuncak ketika terjadi penagihan dari pihak leasing.
Keluarga menyatakan Ratih, yang tidak memahami detail persoalan tersebut, justru ikut terdampak secara langsung.
"Mama yang enggak tahu apa-apa didatangi polisi," ujar Ronald.
Kuasa hukum Ressa itu juga menuturkan Ratih sempat menangis setelah didatangi pihak penagih di rumahnya.
"Didatangi orang pakai seragam, sampai nangis-nangis," sambung Ronald.
Sebagai anak, pihak keluarga mengaku tidak tega melihat kondisi Ratih yang disebut mengalami tekanan mental akibat persoalan tersebut.
"Bayangkan saya sebagai anaknya, apa enggak menggila pikiran saya melihat ibu saya diperlakukan seperti itu," tambahnya.
Berawal dari kedatangan pihak lain terkait cicilan mobil, akhirnya keluarga berusaha mengubungi Denada untuk meminta bantuan.
Namun karena tidak dibukanya komunikasi, pihak Ressa pun melaporkan gugatan dugaan penelantaran anak yang dialami oleh pemuda berusia 24 tahun itu.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang