Susunan Pemain Liverpool Jika Gunakan Formasi Andalan Xabi Alonso
Spekulasi soal masa depan kursi pelatih Liverpool kembali menguat seiring munculnya nama Xabi Alonso. Mantan gelandang The Reds itu kini berada di persimpangan karier, setelah masa singkatnya bersama Real Madrid berakhir dan membuka ruang bagi kemungkinan petualangan berikutnya di level elite Eropa.
Di saat Arne Slot masih menjaga rekor tak terkalahkan Liverpool, tanda tanya soal kecocokan jangka panjangnya tetap ada. Dalam konteks inilah, gagasan kembalinya Alonso, dengan identitas taktik yang sudah teruji, mulai kembali dibicarakan di Merseyside.
Xabi Alonso berstatus tanpa klub dan berada dalam posisi ideal untuk menunggu proyek yang benar-benar sesuai dengan visinya. Meski gagal menancapkan ide-ide taktisnya secara utuh di Real Madrid, reputasinya sebagai pelatih elite tak pernah surut, terutama setelah kesuksesan sensasional bersama Bayer Leverkusen.
Pelatih Real Madrid, Xabi Alonso
Di sisi lain, Arne Slot memang berhasil membawa Liverpool melewati periode sulit dengan catatan 11 laga tanpa kekalahan. Namun, performa tersebut belum sepenuhnya menghapus keraguan soal kemampuannya memaksimalkan skuad baru The Reds dalam jangka panjang.
Jika Liverpool benar-benar mempertimbangkan perubahan arah, gaya bermain Alonso dengan formasi 3-4-2-1 menawarkan gambaran menarik. Skema ini terbukti sukses besar di Leverkusen dan berpotensi memberi solusi struktural pada sejumlah persoalan Liverpool saat ini.
Di bawah mistar, posisi Alisson Becker nyaris tak tersentuh. Pergantian sistem tak akan mengubah statusnya sebagai kiper utama, meski Giorgi Mamardashvili diproyeksikan sebagai penerus jangka panjang.
Lini belakang tiga bek akan menjadi area krusial. Joe Gomez berpeluang mendapat menit bermain lebih konsisten, terutama karena minimnya opsi bek tengah yang benar-benar fit. Sementara itu, Virgil van Dijk mungkin diuntungkan oleh sistem yang memberinya perlindungan ekstra, seiring faktor usia yang mulai menjadi pertimbangan.
Ibrahima Konate masih menjadi teka-teki. Meski menunjukkan peningkatan, ia kerap terlibat dalam momen krusial yang merugikan tim. Namun, keterbatasan stok bek membuatnya tetap menjadi pilihan realistis.
Sektor wingback menjadi ciri khas utama sistem Alonso. Jeremie Frimpong, yang lebih menyerupai winger daripada bek, sangat cocok dengan peran ini, meski kompatibilitasnya dengan Mohamed Salah tetap menjadi tanda tanya. Di sisi berlawanan, Milos Kerkez dinilai memiliki profil menyerang yang selaras dengan tuntutan sistem, meski konsistensinya masih perlu dibuktikan.
Di lini tengah, transformasi Ryan Gravenberch menjadi gelandang bertahan memberi fondasi solid yang bisa tetap efektif dalam sistem berbeda. Dominik Szoboszlai, dengan energi dan fleksibilitasnya, menjadi aset ideal bagi pelatih mana pun—baik sebagai gelandang box-to-box maupun pemain yang didorong lebih maju.
Dua peran gelandang serang membuka panggung bagi Florian Wirtz dan Cody Gakpo. Wirtz memang belum mencapai performa puncaknya, tetapi sinyal kualitasnya tetap terlihat jelas, terlebih jika kembali bekerja di bawah pelatih yang memolesnya menjadi bintang. Gakpo, di sisi lain, berpeluang menemukan peran yang lebih alami sebagai penyerang pendukung, meski persaingan internal tak akan ringan.
Di lini depan, Alexander Isak menjadi proyek besar yang belum sepenuhnya terbayar. Cedera menghambat momentumnya, namun manajemen klub tampak menjadikannya pilar utama masa depan, bersama Wirtz, dalam investasi lebih dari £200 juta.
Apakah Liverpool akan benar-benar membuka pintu bagi kembalinya Xabi Alonso masih menjadi tanda tanya besar. Namun, dengan dinamika performa tim dan identitas permainan yang masih dicari, bayangan mantan arsitek lini tengah itu tampaknya belum sepenuhnya pergi dari Anfield.