Kucing Calico Dilantik Jadi Kepala Stasiun di Jepang, Terima Gaji Berupa Makanan

Seekor kucing bernama Yontama menjadi kucing ketiga yang diangkat sebagai kepala stasiun di Jalur Kishigawa, Prefektur Wakayama, setelah pendahulunya meninggal dunia tahun lalu.
Dalam pelantikan pada Rabu (7/1/2026), Yontama tampak digendong oleh Presiden Wakayama Electric Railway, Mitsunobu Kojima.
Yontama adalah seekor kucing calico yang secara resmi diangkat sebagai kepala stasiun di Stasiun Kishi, Jepang bagian barat.
Dilansir dari South China Morning Post, Sabtu (10/1/2026), jabatan tersebut bersifat jenaka dan seremonial, namun sekaligus memiliki peran penting dalam menjaga kelangsungan hidup jalur kereta pedesaan tersebut.
Upacara pengangkatan tersebut menarik perhatian para penggemar, fotografer, serta pejabat setempat.
Dalam kesempatan tersebut, Mitsunobu Kojima mengalungkan medali ke leher Yontama, yang disambut tepuk tangan tamu yang hadir.
Dalam tugas resmi mereka, para kepala stasiun kucing “bekerja” dari kantor khusus yang diadaptasi dari bekas loket tiket, menyambut penumpang dengan kehadiran mereka, serta membantu menarik wisatawan ke Jalur Kishigawa.
Mereka mengenakan topi kepala stasiun, mengikuti jam kerja yang telah dijadwalkan, dan menerima “gaji” berupa makanan.
Biografi kucing kepala stasiun
Yontama adalah kucing ketiga yang menyandang gelar kepala stasiun di Jalur Kishigawa, setelah pendahulunya, Nitama, meninggal dunia pada November lalu.
Nitama telah bertugas hampir satu dekade dan kini dianugerahi gelar Kepala Stasiun Kehormatan.
Dalam pelantikan Yontama, pihak perusahaan juga memperkenalkan rekrutan kucing terbaru mereka, yaitu Rokutama.
Rokutama adalah seekor kucing calico muda, yang tidak disebut sebagai magang, melainkan “kandidat kepala stasiun".
Menurut keterangan operator, Rokutama diselamatkan saat masih kecil pada musim semi tahun lalu, setelah perusahaan meminta jaringan kesejahteraan hewan memberi kabar jika menemukan kucing calico yang cocok.
Permintaan itu pun terjawab hanya dalam hitungan hari.
Profil resmi Rokutama sendiri lebih menyerupai deskripsi karakter ketimbang daftar riwayat hidup.
Rokutama disebut gemar makan dan bermain sendiri, tidak menyukai suara keras serta pemotongan kuku, dan digambarkan oleh staf sebagai kucing yang keras kepala namun tidak agresif.
Untuk sementara, Rokutama akan bertugas pada hari-hari ketika kucing senior tidak bertugas, agar ia dapat beradaptasi secara bertahap dengan perannya.
Kucing-kucing yang menyelamatkan jalur kereta
Dalam upacara tersebut, Kojima sempat dengan berseloroh mengatakan bahwa Rokutama belum sepenuhnya menjadi kepala stasiun dan meminta kesabaran publik selama ia belajar menjalani tugas.
Kojima sangat berharap Yontama dapat menjadi penunjuk arah sebagai kepala stasiun di masa ketika jalur kereta lokal berada di titik balik perubahan besar.
Jalur Kishigawa sendiri pertama kali menarik perhatian nasional pada 2007, ketika seekor kucing liar bernama Tama diangkat sebagai kepala stasiun di Stasiun Kishi, saat jalur kereta itu terancam ditutup.
Apa yang awalnya dianggap sebagai hal konyol, dengan cepat berubah menjadi sebuah fenomena.
Kehadiran kucing kepala stasiun ini menarik wisatawan dari berbagai penjuru Jepang maupun luar negeri, mendorong penjualan suvenir, serta mengubah stasiun tersebut menjadi destinasi wisata tersendiri.
Para peneliti memperkirakan dampak ekonomi yang dihasilkan Tama mencapai ratusan juta yen, bahkan kemungkinan melebihi 1 miliar yen (sekitar 6,3 juta dollar AS) dalam beberapa tahun.
Dampak ini membuat stasiun kereta yang hampir mati itu tetap bertahan secara finansial.
Pengaruh Tama begitu kuat dan bertahan lama. Setelah kematiannya pada 2015, ia diperingati melalui sebuah kuil kecil di dalam stasiun.
Para penerusnya pun mewarisi bukan hanya gelar kepala stasiun, tetapi juga perannya sebagai duta paling efektif bagi perusahaan kereta tersebut.
Pada tahun yang sama, Nitama menggantikan posisi Tama, dan menjalankan tugas hingga mati pada musim gugur tahun lalu.
Selama menjabat, Nitama menyambut para penumpang dari kantor berdinding kaca yang menjadi salah satu titik paling sering difoto di sepanjang jalur kereta itu.
Kucing dan anjing yang jadi kepala stasiun
Yontama, sang kepala stasiun baru, lahir pada 2016.
Yontama telah menjalani masa “pelatihan” selama bertahun-tahun, dan menapaki jenjang karier ala perusahaan, dari calon kepala stasiun, lalu “super kepala stasiun”, hingga akhirnya mendapat promosi terbaru sebagai kepala stasiun utama di Stasiun Kishi.
Stasiun itu sendiri sepenuhnya mengusung tema kucing, dengan bangunan berwajah kucing, dan kafe serta toko yang menjual berbagai produk bertema Tama.
Hal ini mengubah perjalanan rutin dengan kereta menjadi semacam ziarah kecil bagi para pencinta kucing.
Bagi pengikut setia seperti Chisako Asano, seorang ibu rumah tangga asal Prefektur Osaka yang menghadiri upacara pekan ini, para kucing tersebut lebih dari sekadar maskot.
“Saya berharap para kepala stasiun kucing ini terus menjaga Jalur Kishigawa,” ujarnya, dilansir dari Kyodo.
Keberhasilan Jalur Kishigawa menginspirasi jalur-jalur kereta lain yang tengah kesulitan untuk menunjuk kepala stasiun versi mereka sendiri demi menarik pengunjung dan perhatian publik.
Di wilayah Tohoku, anjing seperti Wasao dan pasangannya Tsubaki pernah diangkat sebagai kepala stasiun pariwisata di jalur JR.
Namun, kucing tetap menjadi duta yang paling lama bertahan, dan paling kuat secara ekonomi.
Di Hitachinaka Seaside Railway, kucing penghuni stasiun seperti Osamu dan Minisamu telah menjadi pemandangan akrab di peron.
Sementara itu, di Stasiun Ashinomaki-Onsen pada Jalur Aizu Railway, sejumlah kucing secara bergantian menyandang gelar kepala stasiun kehormatan.
Melestatikan nama Tama
Dilansir dari Tokyo Weekender, kucing-kucing di Jalur Kishigawa mengikuti sistem penamaan khas yang mencerminkan garis keturunan mereka.
Setiap nama berakar dari “Tama”, kucing kepala stasiun pertama yang diangkat pada 2007, dengan awalan angka untuk menandai urutan generasi.
Setelah Tama, hadirlah Nitama (Tama II) dan Yontama (Tama IV).
Tahun lalu, Gotama (Tama V) bergabung, memperluas tim dan berbagi tugas antara Stasiun Kishi dan Idakiso.
Kini, ada pula Rokutama (Tama VI), yang melestarikan tradisi penomoran ala Tama tersebut.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang