Top 7+ Tips Memotret Alam dan Satwa Liar ala Fotografer Senior, Nggak Cuma Sekadar Estetik!
Indonesia memiliki kekayaan alam dan biodiversitas yang membuat siapa pun tergoda menekan tombol kamera. Dari jamur hutan yang unik, satwa liar yang endemik, hingga lanskap bawah laut yang memesona, semuanya terlihat seperti materi foto yang Instagramable.
Banyak pemula mengira fotografi alam cukup dengan mencari angle cantik atau efek bokeh dramatis. Padahal, memotret alam membutuhkan lebih dari sekadar visual yang yang memuaskan mata, apalagi jika foto tersebut akan diikutsertakan dalam lomba.
Fotografer senior Riza Marlon dan Marrysa Tunjung Sari, yang terlibat dalam penjurian kontes foto tahunan yang diselenggarakan organisasi nirlaba lingkungan, Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) bertemakan Suara Alam Nusantara membagikan cara menghasilkan jepretan alam dan stawa liar yang ciamik. Maryssa menekankan bahwa foto tidak hanya sekadar estetik belaka.
“Kata estetik ini kan agak menjebak ya. Estetik ini bisa karena kita melihat sesuatu yang bokeh,” ujar Marrysa di sela-sela pengumuman pemenang kontes foto dan video, 4 Desember 2025 di Jakarta.
Sebagai fotografer kawakan yang mengabdikan diri memotret satwa liar, Riza juga memiliki beberapa tips memotret alam agar hasil fotomu tidak hanya estetik, tetapi juga bermakna.
Fotografer senior Riza Marlon
1. Latih Mata agar Tidak Terjebak Estetika
Foto dengan warna mencolok, bokeh indah, atau komposisi dramatis memang memikat. Maryssa menegaskan bahwa fotografer pemula harus melatih ulang cara pandang mereka. Artinya, lihat lebih dalam pada subjek: perilaku, konteks, dan pesan yang ingin digaungkan.
“Pasti terbius oleh hal-hal yang estetik. Kita balikin lagi ke brief,” ujarnya.
2. Prioritaskan Pesan dalam Foto
Artis Ramon Tungka yang juga menjadi juri mengingatkan pentingnya makna dalam sebuah karya. Pesan membuat foto menonjol dan lebih kuat pada kompetisi.
“Ketika sebuah momen berhasil ditangkap, foto itu membawa pesan apa? Apakah membuat kita berpikir ulang atau memantik kita berbuat lebih baik bagi lingkungan?” katanya.
3. Hargai Usaha di Balik Momen
Beberapa foto tampak sederhana, tetapi membutuhkan usaha luar biasa. Foto yang mengandung perjuangan akan terasa berbeda. Maryssa mencontohkan foto jamur langka yang parasit pada serangga jenis yang sulit ditemukan dan membutuhkan waktu panjang untuk diabadikan.
“Effort itu penting,” tegasnya.
4. Jangan Merusak Alam
Etika menjadi faktor penting dalam penjurian. Riza secara tegas mengingatkan agar fotografer tidak merusak habitat atau melakukan animal abuse. Banyak peserta memotret hewan ikonik Indonesia, tetapi tidak semua dilakukan dengan cara yang benar.
“Itu yang harus dihindari,” katanya.
5. Jangan Menghalalkan Segala Cara
Riza juga menyoroti kelompok fotografer bounty hunter yang berburu hadiah dan sering menghalalkan cara untuk mendapatkan foto dramatis. Fotografer harus memegang integritas, bukan sekadar mengejar kemenangan.
“Bikin foto dengan segala cara agar cantik padahal itu menyiksa (satwa),” ucapnya.
6. Pilih Spesies 'Menarik'
Dengan kekayaan biodiversitas terbesar kedua di dunia, Indonesia menawarkan ribuan spesies menarik. Riza mendorong fotografer untuk memberi usaha lebih dalam mencari subjek yang unik. Ini bukan hanya soal estetika, tetapi juga kontribusi dalam mengenalkan keragaman hayati Indonesia.
7. Siapkan Fisik yang Kuat
Memotret alam bukan hanya soal teknis kamera, tetapi juga kekuatan fisik. Tanpa stamina, fotografer bisa kelelahan sebelum momen terbaik datang.
“Untuk mendapatkan momen ciamik, fotografer harus menempuh perjalanan jauh sambil membawa lensa berat,” ujar Riza.