Pengamat Wanti-wanti Reli IHSG Rawan Koreksi Imbas Saham Gorengan
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) konsisten menunjukkan tren kenaikan bahkan beberapa kali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all high time/ATH) sejak akhir tahun 2025 hingga awal tahun. Namun, penguatan dinilai menyimpan risiko tersembunyi.
IHSG menguat 0,44 persen atau 39,66 poin menjadi 8.984,47 pada akhir sesi pertama perdagangan Kamis, 8 Januari 2026. Indeks domestik terpantau sempat bergerak di kisaran level 9.000 yang merupakan rekore tertinggi secara intraday.
Penutupan IHSG
Peneliti Senior Departemen Ekonomi Center for Strategic and International Studies (CSIS), Deni Friawan, mengingatkan potensi gelembung harga (bubble) di balik reli IHSG yang tengah berlangsung. Peringatan ini merespons optimisme Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa yang memprediksi IHSG bisa menembus level 10.000 pada 2026.
Deni menilai penguatan IHSG tidak sepenuhnya ditopang oleh saham-saham berfundamental kuat. Kenaikan IHSG justru didorong saham-saham perusahaan baru dengan valuasi sangat tinggi.
Padahal, emiten-emiten besar dengan kinerja solid justru tidak menjadi motor utama penguatan pasar.
"Kebanyakan ini kan adalah perusahaan-perusahaan baru yang bahkan PER (price to earning ratio)-nya saja sampai 500 kali,” ujar Deni dikutip dari Antara pada Kamis, 8 Januari 2026.
Menurutnya, kondisi ini mencerminkan kenaikan harga saham yang tidak sejalan dengan kinerja dan fundamental perusahaan. Jika dibiarkan, reli IHSG berisiko lebih menyerupai pembentukan gelembung harga (bubble) ketimbang cerminan kekuatan ekonomi nasional yang sehat.
Deni mengingatkan, risiko utama dari situasi ini adalah terjadinya siklus boom and bust. Kondisi terjadi ketika ekspektasi pasar tidak lagi selaras dengan realisasi kinerja emiten yang berpotensi mengakibatkan koreksi tajam hingga memicu gejolak di pasar keuangan.
“Ini menurut saya yang harus dikawal. Jangan sampai praktik-praktik seperti ini menciptakan hal yang semu,” tegasnya.
Pergerakan IHSG yang tidak sejalan dengan nilai tukar rupiah. Deni menilai penguatan indeks tidak diiringi apresiasi mata uang karena dorongan utama datang dari aktivitas domestik bukan aliran modal asing serta aktivitas saham gorengan.
“Naiknya IHSG ini bukan karena capital inflow, tapi lebih banyak domestik yang goreng-menggoreng (saham),” kata Deni.
CSIS menilai pengawasan terhadap struktur pasar dan kualitas penguatan indeks menjadi kunci untuk menjaga stabilitas pasar keuangan ke depan. Terlebih, peringatan ini muncul di tengah keyakinan pemerintah terkait ruang kenaikan IHSG yang masih besar.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan IHSG berpeluang menembus level 10.000 pada akhir 2026. Ia bahkan menilai secara fundamental indeks seharusnya sudah berada di level yang lebih tinggi.