Pangeran Harry dan Keluarganya Kembali Mendapat Pengawalan Kerajaan Inggris?
Upaya panjang Pangeran Harry untuk mendapatkan kembali pengamanan resmi bersenjata dari negara saat berada di Inggris tampaknya mulai menemui titik terang. Majalah People melaporkan adanya sinyal positif dari pemerintah Inggris terkait kemungkinan pemulihan perlindungan setiap kali Harry berkunjung ke negara tersebut.
Meski belum ada keputusan final, sumber internal menyebutkan bahwa optimisme terus meningkat dan pengamanan Harry berpeluang untuk ditingkatkan.
Perkembangan ini muncul setelah adanya laporan bahwa sebuah peninjauan resmi menyimpulkan Duke of Sussex memenuhi kriteria untuk masuk dalam tingkat perlindungan keamanan tertinggi di Inggris.
Peninjauan penting di balik layar
Setelah bertahun-tahun berjuang lewat jalur hukum dan berbagai kampanye termasuk satu kasus pengadilan besar yang akhirnya ia kalah, Harry akhirnya mendapatkan peninjauan keamanan menyeluruh pada Desember lalu.
Peninjauan tersebut melibatkan penilaian risiko resmi oleh Royal and VIP Executive Committee (Ravec). Ravec merupakan komite yang bertugas menentukan siapa saja yang berhak mendapatkan perlindungan keamanan dari negara. Anggotanya terdiri dari perwakilan Kementerian Dalam Negeri Inggris, Kepolisian Metropolitan, serta pihak istana kerajaan.
Pada 4 Januari, The Mail on Sunday melaporkan bahwa komite tersebut telah menyimpulkan Harry memenuhi ambang batas untuk mendapatkan pengamanan tingkat atas.
“Sekarang ini tinggal formalitas saja,” kata seorang sumber dekat dengan Harry dikutip dari laman Times of India, Selasa 6 Januari 2026.
Sumber dari Kementerian Dalam Negeri juga mengisyaratkan bahwa pengamanan bagi Harry hampir pasti diberikan kembali. Menurut pihak-pihak yang memahami proses ini, kecuali ada penolakan mendadak di menit-menit terakhir, Harry diperkirakan akan kembali mendapatkan pengawal bersenjata dan dukungan institusional seperti saat ia masih menjalankan tugas sebagai anggota kerajaan aktif.
Mengapa keamanan begitu penting bagi Harry
Harry sudah berulang kali menegaskan betapa krusialnya masalah ini. Ia menyatakan bahwa tanpa pengamanan resmi, ia tidak merasa aman membawa keluarganya ke Inggris.
Keluarga tersebut termasuk istrinya, Meghan Markle serta dua anak mereka, Archie dan Lilibet yang kini dibesarkan di California. Jika keputusan soal keamanan ini dibalik, anak-anak mereka akhirnya bisa bepergian ke Inggris dan menghabiskan waktu bersama kakek mereka, Raja Charles.
Kekhawatiran soal keamanan semakin meningkat setelah terungkap bahwa seorang penguntit perempuan sempat berada sangat dekat dengan Harry dalam dua kesempatan berbeda saat kunjungan amalnya ke Inggris pada September 2025 lalu.
Awal Mula Harry Tak Dapat Pengamanan Kerajaan
Harry kehilangan pengamanan penuh setelah ia dan Meghan mundur dari tugas kerajaan pada tahun 2020. Pada Mei 2025, ia kalah dalam upaya banding untuk menentang keputusan tersebut. Dalam proses persidangan, terungkap bahwa baik Harry maupun keluarganya tidak pernah menjalani penilaian keamanan formal sejak 2019.
Namun, persoalan itu tidak berhenti di situ. Pada Oktober 2025, Harry kembali berupaya, kali ini dengan mengajukan permohonan langsung kepada Menteri Dalam Negeri Inggris, Shabana Mahmood, yang membawahi urusan kepolisian dan pencegahan kejahatan.
Dua bulan kemudian, peninjauan menyeluruh oleh Ravec resmi dimulai.
Dalam sebuah wawancara dengan BBC pada Mei lalu, setelah kalah dalam banding, Harry sempat menyiratkan bahwa ayahnya mungkin dapat memengaruhi hasil keputusan tersebut. Namun pihak istana berulang kali membantah dan menegaskan bahwa Raja Charles tidak memiliki wewenang dalam urusan keputusan keamanan.
Langkah selanjutnya
Harry dijadwalkan kembali ke Inggris akhir bulan ini untuk menghadiri sidang pengadilan terkait gugatan hukumnya terhadap Associated Newspapers, penerbit Daily Mail, Mail on Sunday, dan MailOnline.
Sementara itu, pemerintah Inggris masih enggan memberikan keterangan lebih lanjut.
“Sistem perlindungan keamanan pemerintah Inggris bersifat ketat dan proporsional. Sudah menjadi kebijakan lama kami untuk tidak mengungkapkan detail terkait pengaturan tersebut, karena hal itu dapat merusak integritas sistem dan membahayakan keamanan individu yang bersangkutan,” kata seorang juru bicara pemerintah Inggris.