Menyoal Islah dalam Kemelut PBNU

Rais Aam KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU Gus Yahya islah
Rais Aam KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU Gus Yahya islah

(Artikel Opini Ini Ditulis oleh Mukti Ali, Penulis Buku Islam Mazhab Cinta & Kisah Ajaib Imam al-Ghazali)

Source : Dok. Pribadi

 Suara Islah berhembus di kemudian hari setelah sekian minggu seorang Ketua Umum Tanfidziyah KH. Yahya Cholil Tsaquf (biasa disapa Gus Yahya) dinyatakan dipecat secara tidak terhormat oleh Rois Am KH. Miftahul Akhyar melalui rapat Suriyah. Suara Islah itu kemudian menjadi tema menarik dalam diskursus publik. Berbagai analisa dan penafsiran tentang islah bermunculan memperkaya polemik yang semakin menghangatkan suasana. Sekaligus mempertanyakan apakah islah adalah jalan yang tepat sebelum substansi persoalan belum didudukkan pada proporsinya? Sebab, ada dua persoalan substansial dan kelas berat yang dijadikan alasan Rois Am dan Suriyah dalam memecat Gus Yahya, yaitu afiliasi Gus Yahya dengan jaringan zionisme dan tata kelola keuangan yang bertentangan dengan syar’i dan berpotensi mengancam eksistensi organisasi. 

Jauh-jauh hari, di mana suasana sedang berada di puncak panas dan sangat membara, pada 25 November 2025, KH. Imam Jazuli—dipanggil Kiai Ijul—melempar wacana ke publik berupa “Roadmap Tebaik Syuriyah PBNU” yang berisi di dalamnya ada point Islah. Sebelum gegap gempita Islah yang menggema dari Jawa Timur, seorang ulama Cirebon Jawa Barat Kiai Ijul sudah menyuarakannya. 

Dalam Roadmapnya itu, Kiai Ijul memberikan tawaran 5 langkah, yaitu: 1. Rapat Pleno Syuriah. 2. SK Pemecatan Ketum PBNU. 3. SK Pengangkatan PJS Ketum PBNU. 4. Pengajuan dan Penerbitan SK KEMENKUHAM. 5. Islah di Lirboyo. Agaknya 3 point ini sudah terlaksanan. Hanya saja point ke-4 belum terlaksanan, dan terkoyak oleh desakan Islah yang ingin diprioritaskan.

Kiai Ijul menempatkan Islah paling terakhir setelah proses secara organisasi selesai, berbeda dengan sebagian kalangan yang menyuarakan Islah tanpa mempertimbangkan dua alasan Rois Am dan Suriyah dalam memecat Gus Yahya serta tanpa mempertimbangkan prosedur keorganisasian. Lalu bagaimana islah dalam perspektif keagamaan?

Selesaikan Masalah, Islah Kemudian

Belakangan ada pandangan keagamaan tentang islah yang mengisi diskursus publik—entah apakah dalam rangka khusus untuk merespons wacara islah di tubuh PBNU atau bertujuan memberi pandangan islah secara  konseptual umum?—di antaranya dari Dr. KH. Imam Nakhai seorang ulama yang terkenal ahli ushul fikih dan murid KH. Afifuddin Muhajir Situbondo Rois Suriyah PBNU yang pandangan keagamaannya dijadikan landasan teologis atas pemecatan Gus Yahya yang viral itu. 

Halaman Selanjutnya
Di dalam facebooknya, pada Senin 30 Desember 2025 terpajang tulisan yang berjudul “Tidak Ada 'Islah", tanpa Pengakuan Dosa”, Kiai Imam Nakhai menulis bahwa: 
Halaman Selanjutnya Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.