Dari Pegunungan Italia ke Nusantara: Perjalanan Sanpellegrino Bersama BGV
Di balik berkembangnya dunia kuliner Indonesia, ada satu detail yang kini semakin mendapat perhatian: bagaimana pengalaman bersantap dibangun secara utuh, bukan hanya lewat makanan, tetapi juga melalui minuman yang menyertainya. Dalam lanskap ini, air mineral tak lagi dipandang sekadar pelepas dahaga, melainkan bagian dari cerita rasa dan suasana.
Fenomena inilah yang mendorong masuknya Sanpellegrino ke Indonesia melalui PT Bahana Genta Viktory (BGV). Merek asal Italia yang telah berdiri sejak 1899 ini dikenal luas sebagai bagian dari tradisi bersantap di berbagai restoran dan hotel kelas dunia. Kehadirannya di Tanah Air menandai perubahan cara konsumen memaknai kualitas dalam pengalaman makan sehari-hari. Scroll untuk tahu lebih lanjut, yuk!
Sanpellegrino membawa filosofi khas Italia, di mana standar premium bukanlah sesuatu yang eksklusif, melainkan kebiasaan. Kualitas hadir dalam hal sederhana: karakter mineral yang seimbang, tekstur yang halus di lidah, serta kemampuan menyatu dengan makanan tanpa mendominasi rasa.
Nilai inilah yang selama puluhan tahun membuat S.Pellegrino dan Acqua Panna menjadi pilihan di banyak restoran Michelin. BGV melihat momen ini sebagai waktu yang tepat.
“Konsumen Indonesia semakin menghargai kualitas dan pengalaman. Mereka bukan hanya mencari minuman, tetapi sesuatu yang melengkapi momen, baik saat bersantap di restoran maupun di rumah,” ujar Riandra Ghazyla, Brand Marketing Lead BGV dalam keterangannya, dikutip Jumat 19 Desember 2025.
“Sanpellegrino membawa cita rasa Italia yang autentik, dan kami ingin memastikan pengalaman itu bisa dinikmati tanpa jarak,” sambungnya.
Perkembangan industri F&B di Indonesia memang menunjukkan arah yang semakin matang. Restoran dengan pendekatan chef-owned tumbuh pesat, café dengan konsep kurasi semakin beragam, dan penikmat kuliner kian sensitif terhadap detail kecil yang membentuk suasana. Dalam konteks ini, air mineral premium menjadi elemen yang ikut diperhitungkan.
Di ruang restoran, S.Pellegrino dan Acqua Panna kerap diposisikan sebagai bagian dari narasi yang ingin disampaikan sang chef. Sementara di ranah domestik, tren menjamu dalam skala kecil—memasak hidangan sederhana, menata meja makan, dan menciptakan suasana hangat—mulai menjadi bagian dari gaya hidup urban.
“Ada perubahan besar dalam cara masyarakat menghargai pengalaman bersantap. Bahkan di rumah, mereka ingin menghadirkan suasana yang curated, dan Sanpellegrino sangat cocok untuk itu,” ungkapnya.
“Kami melihat permintaan yang tumbuh bukan hanya dari sektor hospitality, tetapi juga dari konsumen retail yang ingin membawa sentuhan elegan Italia ke rutinitas mereka,” sambungnya.
Akses terhadap produk pun kini semakin luas. Sanpellegrino dapat dijangkau melalui kanal daring Bahana Genta Viktory ID di berbagai platform e-commerce, menyesuaikan dengan kebiasaan belanja masyarakat urban. Meski demikian, BGV menekankan pentingnya menjaga konsistensi kualitas dalam distribusi.
“Kami ingin pengalaman menikmati Sanpellegrino terasa sama seperti di luar negeri, dengan handling yang tepat dan ketersediaan yang konsisten,” pungkasnya.
Pada akhirnya, kehadiran Sanpellegrino di Indonesia tidak hanya berbicara tentang sebuah produk impor. Ia mencerminkan pergeseran cara menikmati hidup—menghargai detail kecil, merayakan momen makan dengan lebih sadar, dan menempatkan pengalaman sebagai bagian penting dari budaya kuliner modern. Sebuah kebiasaan sederhana, yang di Italia telah lama menjadi seni hidup.