Wamen Stella Christie Desak Kenaikan Dana Riset 10 Persen Demi Pertumbuhan Ekonomi RI

Wamendiktisaintek Stella Christie
Wamendiktisaintek Stella Christie

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie, menilai peningkatan anggaran riset menjadi kunci strategis untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional. Ia mendorong pemerintah menaikkan belanja riset hingga 10 persen dapat mendongkrak Produk Domestik Bruto (PDB) dalam jangka pendek maupun panjang.

Stella menilai tanpa investasi yang memadai pada ide dan inovasi, pertumbuhan ekonomi berisiko stagnan. Pernyataannya merujuk pada teori pertumbuhan ekonomi Paul Romer yang mana investasi pada sumber daya manusia, pengetahuan, dan inovasi memberikan efek yang signifikan terhadap perekonomian. 

Ia mengatakan, kenaikan investasi riset sebesar 10 persen dapat meningkatkan PDB sekitar 0,2 persen dalam jangka pendek. Sedangkan, pertumbuhan ekonomi nasional bisa mencaapi 0,9 persen dalam jangka panjang. 

“Tanpa investasi pada ide dan inovasi, pertumbuhan ekonomi akan berhenti pada kondisi steady state,” ujar Stella dalam acara Human Development Synergy Forum bertajuk Kemitraan Multi-Pihak untuk Memperkuat Kebijakan Ekosistem Pendidikan dan Riset Nasional di Jakarta pada Kamis, 18 Desember 2025.

Ilustrasi arah investasi

Wamendiktisaintek Stella Christie

Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, anggaran riset tahun 2025 naik signifikan menjadi Rp 3,2 triliun. Nominal ini melonjak 218 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp1,47 triliun.

“Peningkatan terbesar ini karena kami mendapatkan dana riset dari LPDP yang bisa disalurkan langsung kepada universitas,” kata Stella.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya membangun research university yang kuat dengan kualitas riset berdampak ekonomi, bukan sekadar mengejar jumlah publikasi. Stella mencontohkan Stanford University yang mampu menciptakan manfaat ekonomi tahunan sekitar US$2,7 triliun dan membuka jutaan lapangan kerja.

“Ini bukan opini, melainkan fakta ekonomi,” tegasnya.

Namun, Stella mengingatkan investasi riset perlu diarahkan secara strategis melalui spesialisasi. Menurutnya, Indonesia tidak bisa menyebar investasi kecil di semua bidang, melainkan fokus pada sektor yang memiliki keunggulan kompetitif.

“Jangan investasi kecil-kecil di semua bidang. Kita harus pintar mengatur investasi riset untuk spesialisasi di mana Indonesia punya niche,” tambah Stella.

Ia menyinggung sektor rumput laut yang masih didominasi ekspor bahan mentah. Padahal nilai pasarnya mencapai US$12 miliar.

Isu lain yang turut disoroti adalah brain drain, yakni keluarnya talenta terbaik ke luar negeri. Stella mendorong pergeseran paradigma menuju brain gain dan brain circulation melalui kolaborasi riset dan transfer pengetahuan dengan diaspora, sejalan dengan visi penguatan SDM nasional.

Dari sisi tantangan struktural, Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Pendidikan Kemenko PMK, Ojat Darojat, menilai daya saing inovasi Indonesia masih terhambat pola pembelajaran yang terlalu berorientasi hafalan. Ia menekankan perlunya pergeseran ke pembelajaran berbasis critical thinking dan kebutuhan industri.

“Kita masih memproduksi pengetahuan, belum mengaplikasikannya,” tutur Ojat.

Sejalan dengan pernyataan Ojat, Data Global Innovation Index 2024 menunjukkan Indonesia berada di peringkat 55 dunia, tertinggal dari sejumlah negara ASEAN. Posisi input dan output inovasi yang belum seimbang mengindikasikan tantangan dalam mengonversi riset menjadi dampak ekonomi nyata.

Executive Director Yayasan Bicara Data Indonesia (YBDI), Yenny Bachtiar, menekankan bahwa tantangan brain drain tidak seharusnya dimaknai sebagai kehilangan semata. Kondisi ini melainkan peluang untuk membangun brain gain melalui kemitraan yang terarah dan berkelanjutan. 

“Kebijakan pendidikan dan riset harus dibangun dari data yang akurat, terbuka, dan dapat dipertanggungjawabkan,” ucap Yenny.

Sementara itu, Program Manager Friedrich-Ebert-Stiftung (FES), Rina Julvianty, menekankan pentingnya kemitraan multipihak sekaligus fondasi daya saing bangsa. FES memposisikan diri sebagai jembatan antara riset dan kebijakan publik, menghubungkan praktik baik internasional dengan kebutuhan nasional. 

Melalui forum bertajuk Brain Drain: Membangun Kemitraan Global dalam Pendidikan dan Riset untuk Masa Depan Indonesia, serta Benchmarking Kemitraan Global Dalam Pendidikan dan Riset, para pemangku kepentingan sepakat mendorong peta jalan kolaboratif yang terukur. Mulai dari penguatan pendanaan riset, program riset bersama, hingga insentif untuk menarik talenta global. 

Dengan strategi tersebut, peningkatan dana riset diharapkan tidak hanya memperkuat ekosistem inovasi, tetapi juga menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berkelanjutan.