Magnum Debut di Bursa Amsterdam Usai Lepas dari Unilever, Targetkan Pertumbuhan 5 Persen

Magnum Ice Cream Company
Magnum Ice Cream Company

Magnum Ice Cream Company resmi melantai di Bursa Saham Amsterdam pada Senin, 8 Desember 2025. Langkah ini menandai berakhirnya proses pemisahan bisnis (spinoff) dari Unilever dan membuka babak baru sebagai perusahaan es krim independen. 

Pencatatan saham Magnum di bursa Amsterdam ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan bisnis yang selama ini terhambat strategi prioritas Unilever di sektor personal care. Tantangan Unilever samakin berat karena mencuatnya perselisihan dengan Ben & Jerry’s.

Saham Magnum dibuka pada level 12,20 euro, sedikit lebih rendah dari harga yang ditegapkan sebesar 12,80 euro. 

Namun, saham perusahaan tersebut justru menguat ke posisi 12,97 euro pada penutupan perdagangan Eropa. Kenaikan mendongkrak nilai kapitalisasi pasar menjadi 7,9 miliar Euro atau sekitar Rp 154 triliun (estimasi kurs Rp 19.500 per Euro). Magnum juga tercatat melakukan secondary listing di London dan New York.

Ilustrasi Indeks Wall Street.

"Sebagai perusahaan independen yang terdaftar di bursa saham, kami akan lebih gesit, lebih fokus, dan lebih ambisius dari sebelumnya," ujar CEO Magnum, Peter ter Kulve, dikutip dari CNBC Internasional pada Kamis, 11 Desember 2025.

Sebagai informasi, Unilever pertama kali mengumumkan rencana pemisahan unit es krim yang mencakup Ben & Jerry’s, Magnum, dan Cornetto pada Maret tahun 2024. Keputusan ini datang setelah tekanan investor agar Unilever merombak struktur bisnisnya yang terlalu luas. 

Divisi es krim mencatat pendapatan 7,9 miliar Euro pada 2023. Pencapaian ini dianggap akan berkembang lebih optimal sebagai entitas mandiri.

Pada bulan September 2025, Magum menetapkan target untuk menumbuhkan pendapatan antara 3 persen hingga 5 persen dalam jangka menengah mulai tahun 2026. Namun, analis melihat target tersebut sangat ambisius bagi Magnum.

"Fakta bahwa mereka telah menjalankan bisnis independen sejak Juli tahun ini benar-benar telah meningkatkan kemampuan untuk fokus pada bisnis krim es krim. Saya pikir kita dapat melihat bagaimana mereka (Magnum) bisa mencapai batas bawah kisaran itu, tetapi 3 persen hingga 5 persen, itu terasa sangat, sangat ambisius,” katq Analis RBC, James Edwardes Jones.

Ia menilai pemisahan ini wajar mengingat Unilever tidak mampu memberikan fokus penuh pada bisnis es krim. Menurutnya, Unilever tidak punya bandwidth untuk menangani Magnum saat sedang mengejar pertumbuhan di personal care. 

"Dengan IPO, manajemen bisa fokus 100 persen pada biaya, belanja modal, dan strategi eskalasi bisnis es krim,” imbuh Jones.