4 Pilot TNI AU Lulus Pelatihan Jet Tempur Rafale di Prancis, Kunci Operasional Rafale Mulai 2026

Empat penerbang TNI AU menyelesaikan pelatihan mengawaki pesawat tempur Rafale
Empat penerbang TNI AU menyelesaikan pelatihan mengawaki pesawat tempur Rafale

 TNI Angkatan Udara mencatat langkah penting dalam penguatan alat utama sistem senjata udara. Empat penerbang tempur yang tergabung dalam Tim Pilot Rafale Batch-A resmi menuntaskan pelatihan pengoperasian pesawat tempur Rafale di Prancis, setelah menjalani pendidikan intensif selama empat bulan.

Pelatihan tersebut dilaksanakan di Skadron Transformasi Rafale, Pangkalan Udara 113 Saint-Dizier, Prancis, dan berlangsung sejak Agustus 2025. Program ini menjadi bagian krusial dalam kesiapan Indonesia mengoperasikan pesawat tempur generasi 4,5 buatan Dassault Aviation tersebut.

Kepala Dinas Penerangan TNI AU, I Nyoman Suadnyana, menjelaskan bahwa selama pelatihan para penerbang dibekali berbagai materi strategis. Materi tersebut meliputi latihan air to air siang dan malam, air to ground, low level navigation, hingga konversi backseater untuk kebutuhan instruktur.

Ia menambahkan, setiap penerbang juga telah melaksanakan dua kali penerbangan solo, masing-masing satu penerbangan siang dan satu penerbangan malam, sebagai bagian dari standar kelulusan pelatihan Rafale.

VIVA Militer: Pesawat Jet Tempur Dassault Rafale

Usai menyelesaikan program di Saint-Dizier, para pilot tidak langsung kembali ke Indonesia. Mereka akan melanjutkan pendidikan lanjutan di Paris untuk mengikuti kursus AASM Hammer yang diselenggarakan oleh Safran. AASM Hammer merupakan sistem persenjataan presisi tinggi yang menjadi salah satu senjata andalan pesawat tempur Rafale.

"Usai menuntaskan pelatihan tersebut, para pilot akan melanjutkan pendidikan ke Paris untuk mengikuti kursus AASM Hammer yang diselenggarakan oleh Safran," kata I Nyoman dikutip Antara.

Setelah seluruh rangkaian pendidikan di Prancis rampung, keempat penerbang tersebut direncanakan mulai bertugas sebagai instruktur penerbang Rafale di Indonesia pada awal 2026. Peran ini dinilai strategis untuk menyiapkan generasi penerbang Rafale berikutnya sekaligus mendukung pengoperasian pesawat secara optimal, baik dari sisi teknis penerbangan maupun organisasi satuan.

"Upaya itu dilakukan untuk menyiapkan generasi penerbang Rafale berikutnya serta mendukung pengoperasian pesawat Rafale secara optimal, baik dalam aspek penerbangan maupun organisasi satuan," tutup I Nyoman. (Ant)