Jet Tempur J-10 Pakistan Pernah Tembak Jatuh Rafale India

Jet tempur Chengdu J-10 China
Jet tempur Chengdu J-10 China

 Pesawat jet tempur J-10 buatan China saat ini sedang menjadi sorotan lantaran dibeli oleh Indonesia. Tahukah bahwa jet tempur ini ternyata juga pernah digunakan Pakistan saat konflik dengan India? 

Dalam konflik antara dua negara bersenjata nuklir, India dan Pakistan, dunia kembali dibuat cemas. Namun di tengah kekhawatiran global terhadap potensi perang besar-besaran, ada kejadian yang mencuri perhatian para analis militer dunia, Pakistan menggunakan jet tempur buatan China untuk menembak jatuh pesawat tempur canggih buatan Prancis milik India, Rafale.

Peristiwa ini menjadi catatan sejarah, karena ini adalah pertama kalinya jet tempur J-10C buatan China, serta rudal canggih PL-15 yang dibawanya, digunakan dalam situasi pertempuran nyata.

Semua bermula dari serangan militan pada April lalu di wilayah Kashmir yang dikuasai India. Serangan tersebut menewaskan 26 orang, dan India menuduh Pakistan sebagai dalangnya. Sebagai respons, India meluncurkan rudal ke wilayah Pakistan. Tidak tinggal diam, Pakistan membalas dengan serangan udara dan penggunaan drone.

Dalam salah satu serangan balasan, Pakistan mengklaim berhasil menembak jatuh beberapa jet tempur India. Yang mengejutkan, jet-jet itu dikatakan ditembak jatuh oleh jet tempur J-10C buatan Cina yang dilengkapi rudal PL-15, menarget pesawat Rafale milik India.

Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, menyampaikan langsung ke parlemen bahwa pesawat-pesawat Rafale India berhasil dijatuhkan oleh pilot Pakistan yang menerbangkan J-10C. Dar juga mengungkap bahwa pemerintah Cina merasa puas dengan performa pesawat buatan mereka, seperti dilansir dari The Guardian

Menurut para ahli, keberhasilan ini menjadi momen penting bagi China karena bisa melihat langsung performa senjata mereka dalam konflik nyata. Selama ini, uji coba militer biasanya dilakukan dalam latihan atau simulasi, tetapi pertempuran sebenarnya memberi data yang jauh lebih akurat.

Siemon Wezeman, peneliti senior dari Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), menyebut bahwa semua produsen senjata ingin tahu seberapa efektif produk mereka dalam peperangan sebenarnya. Ini adalah ujian sesungguhnya bagi J-10C dan rudal PL-15.

Lebih dari itu, ini juga memberi sinyal ke dunia bahwa persenjataan China kini bukan hanya kuantitas, tetapi juga mulai menandingi bahkan melampaui teknologi Barat dalam beberapa aspek.

India selama ini dikenal sebagai negara yang memiliki kerja sama militer erat dengan Rusia dan Amerika Serikat. Meskipun dalam konflik kali ini India tidak menggunakan senjata buatan AS, performa Rafale, yang merupakan jet tempur andalan buatan Prancis, dibandingkan dengan J-10C menjadi perhatian besar.

Beberapa analis menyebut bahwa keberhasilan Pakistan ini bisa menjadi "peringatan awal" terhadap kekuatan udara China, terutama jika dikaitkan dengan kemungkinan konflik di Selat Taiwan.

Pakistan adalah pelanggan terbesar senjata China, dengan lebih dari 80% peralatan militer Pakistan berasal dari Negeri Tirai Bambu. Hubungan strategis ini menjadikan Pakistan sebagai “etalase” utama bagi promosi senjata China ke negara lain.

Analis Andrew Small bahkan menyebut, Pakistan seperti "panggung pertunjukan" bagi Cina. Jika senjata mereka sukses digunakan oleh Pakistan dalam konflik nyata, maka negara lain akan lebih tertarik membeli produk mereka.

Tak heran, saham perusahaan pembuat J-10C, Chengdu Aircraft Corporation, langsung melonjak setelah berita ini tersebar. Begitu juga dengan Indonesia yang dikabarkan membeli pesawat jet tempur ini.