Dongkrak Standar Keselamatan Industri Manufaktur, SSG Gelar HSE Championship
Pertumbuhan sektor manufaktur Indonesia sebesar 5,58 persen secara year-on-year (yoy) pada kuartal III-2025, menunjukkan momentum yang kuat. Namun, peningkatan produktivitas perlu diimbangi dengan standar keselamatan dan ketahanan operasional yang lebih tinggi.
Karenanya, mitra solusi terkemuka di bidang Kesehatan, Keselamatan, Keamanan, Lingkungan, Energi, dan Keberlanjutan atau HSSEE, Synergy Solusi Group (SSG), memperkenalkan HSE Championship sebagai kompetisi profesional pertama di industri manufaktur, yang mengukur kompetensi keselamatan kerja berdasarkan kerangka Certified Safety Professional (CSP) internasional.
Chief Marketing Officer SSG, Hisyam menegaskan, kehadiran program ini juga menjadi bagian dari rangkaian perayaan 20 Tahun Proxsis sebagai ekosistem bisnis yang menaungi SSG, sebagai bentuk kontribusi nyata bagi peningkatan kapabilitas industri nasional.
Ilustrasi industri manufaktur.
Menurutnya, peningkatan kapasitas SDM menjadi bagian penting dari strategi industri memasuki fase kompetitif baru.
“Melalui Manufacturing Indonesia 2025, kami memosisikan Synergy Solusi Group bukan hanya sebagai penyedia layanan, tetapi sebagai mitra solusi HSSEE dan keberlanjutan," kata Hisyam dalam keterangannya, Selasa, 9 Desember 2025.
"Tujuan kami adalah mendukung perusahaan dalam meningkatkan standar operasional, memastikan kepatuhan regulasi, dan memperkuat ketahanan bisnis melalui pendekatan berbasis data," ujarnya.
Hisyam menjelaskan, tahun ini SSG hadir sebagai strategic partner Pamerindo Indonesia, untuk menghadirkan ekosistem One Stop HSSEE Solutions bagi lebih dari 39.000 pengunjung industri yang hadir pada gelaran Manufacturing Indonesia 2025 di JIExpo Kemayoran.
HSE Championship yang digelar pada 6 Desember 2025 di Main Stage Gedung Pusat Niaga, merupakan hasil kolaborasi SSG, Pamerindo Indonesia, dan Kawan Lama Solution. Tidak seperti kuis teknis tradisional, kompetisi ini menyusun evaluasi dalam tiga segmen progresif.
Ketiganya yakni Quick Recall yang menilai ketepatan pengetahuan dasar HSE, Scenario Analysis yang menguji kemampuan analisis risiko dan respons terhadap situasi operasional, serta Procedural Simulation yang menilai praktik keselamatan kritis seperti Lockout/Tagout (LOTO).
“HSE Championship dirancang sebagai platform kompetitif sekaligus edukatif. Kami menguji kompetensi inti yang benar-benar relevan di industri, terutama prosedur keselamatan bernilai tinggi seperti LOTO,” ujarnya.
Tahun ini, sebanyak sebelas tim dari berbagai perusahaan manufaktur nasional mengikuti kompetisi dan memperebutkan total hadiah sebesar Rp22,5 juta. Selain kompetisi, SSG menghadirkan sejumlah program edukasi berbasis pengalaman untuk menjawab tantangan nyata perusahaan manufaktur.
Dalam sesi SHE Mastery Session, Direktur SSG Fahmi Munsah Ismail membawakan materi “Manufacturing Without Guesswork” yang menekankan penggunaan safety tools prediktif untuk mencegah kecelakaan, mulai dari Hazard Identification, Risk Assessment, and Determining Control (HIRADC) hingga teknik pengendalian risiko berbasis ISO 31010.
Pada Kaizen Clinic, para pengunjung mendapatkan kesempatan konsultasi langsung bersama pakar Kaizen dan HSE seperti Agung Sedayu dan Delita Emira untuk merumuskan solusi implementatif terkait efisiensi proses dan penguatan Sistem Manajemen K3 (SMK3).
SSG juga menjadi juri resmi kompetisi Forklift Heroes yang menilai keterampilan operator forklift berdasarkan ketepatan prosedur, akurasi manuver, dan kepatuhan keselamatan. Booth interaktif SSG dilengkapi permainan berbasis AI, photo booth, serta ruang konsultasi yang menarik perhatian ribuan pengunjung selama empat hari penyelenggaraan.