Badai Salah Menghantam Liverpool: Inikah Ending Salah?

ARTIKEL saya "" (Kompas.com, 7/9/2025) mulai terbukti.
Waktu itu saya menulis, "Dengan persaingan yang kian edan, tidak gampang buat Slot mengulangi kisah suksesnya di musim lalu. Betapa pun kini Liverpool telah dihuni pemain supermahal. Sejak 1992/1993, baru Alex Ferguson, Jose Mourinho dan Pep Guardiola yang sanggup juara Liga Premier Inggris secara beruntun dalam dua musim. Arsene Wenger, Carlo Ancelotti, Antonio Conte, Roberto Mancini, Claudio Ranieri atau Juergen Klopp tak pernah mampu melakukannya.
Arne Slot atau Arend Martijn Slot, yang datang dari Feyenoord Rotterdam, Belanda, perlu sihir dan keajaiban besar guna mempertahankan trofi EPL. Mikel Arteta, Enzo Maresca, dan bahkan Pep Guardiola bisa saja menjungkalkan Slot."
Dua puluh hari selepas itu, The Reds terantuk batu. Sang juara bertahan bertemu masalah. Setelah memetik lima kemenangan beruntun di Liga Premier Inggris, pasukan Slot menyerah di tangan Crystale Palace (1-2).
Ini klub yang juga memukul Liverpool di ajang Community Shield. Palace lalu melukai Liverpool sekali lagi di Carabao Cup sebulan kemudian dengan skor telak 3-0.
Sejak bertekuk lutut di tangan Palace itu, Virgil van Dijk dkk seperti hilang. Berturut-turut menyerah pada Chelsea, Manchester United, Brentford (Liga Premier) serta Galatasaray (fase awal Liga Champions Eropa).
Pendek kata, Liverpool menangis di bulan Oktober--sesuatu yang mengejutkan dan tak terduga karena Si Merah sudah belanja besar musim ini.
Kekalahan seolah tak mau pergi dari Liverpool. Mereka kembali digasak Manchester City dan Nottingham Forest. Skornya menyolok mata: Tiga gol tanpa balas.
Pasukan Pep Guardiola menang gampang dalam duel yang selama ini berlangsung ketat, menunjukkan persaingan antara kedua klub yang berkibar sejak era Juergen Klopp.
Namun, duel di November itu bak episode "ayam sayur" bagi Liverpool. Juara bertahan sedang krisis. Di fase awal Liga Champions pun, Liverpool digampar PSV Eindhoven, 1-4, di Stadion Anfield yang selama ini angker.
Liverpool yang krisis menyingkirkan Mohamed Salah di tiga laga berikutnya. Tulung punggung tim bertahun-tahun itu dianggap jadi biang kerok penurunan kinerja Liverpool.
Kontra West Ham United, Sunderland dan Leeds United, Salah terbuang dari line up utama. Masuk sebagai pemain pengganti versus Sunderland dan tak merumput sama ketika berduel dengan West Ham serta Leeds.
Slot lebih memilih Florian Wirtz dibanding Salah. Gelandang ini adalah pekerjaan rumah buat Slot karena belum masuk dalam sistem permainan Liverpool. Ketika kinerja Salah dinilai sedang turun, pemain berpaspor Jerman itu menggantikannya.
Tiga laga tak terpakai, Salah meradang. Ia menolak dianggap sebagai kambing hitam. Salah mengungkap jika hubungannya dengan Slot memburuk.
“Kami tidak lagi punya hubungan. Saya tidak tahu kenapa, tapi saya melihat seseorang tidak menginginkan saya di klub,” ujar bintang asal Mesir ini (Kompas.com, 8/12/2025).
Salah balik menuding. Ia mencium klub telah menjerumuskannya. Pernyataan Salah ini seperti perang terbuka pada Arne Slot dan Liverpool.
The Reds yang sedang krisis dihantam badai dari sang megabintang: Mohamed Salah. Seorang yang telah memberi Liverpool seabrek trofi, termasuk satu trofi Liga Champions serta dua trofi Liga Premier.
Di level individu, sedikitnya empat kali Salah meraih Sepatu Emas. Setara dengan legenda Arsenal, Thiery Henry.
Belum lagi penghargaan pemain terbaik "bulan ini" dan keran golnya yang begitu deras. Dalam delapan musim berturut-turut, Salah berkontribusi lebih dari 20 gol di semua kompetisi untuk The Reds (detik.com, 25/6/2025).
Sejak berseragam Liverpool tahun 2017 silam, Salah telah melesakkan 250 gol. Ini meletakkan pentingnya peran Salah dalam klub.
Slot, Salah dan manajemen sedang berada di pusaran krisis. Badai Salah ini sangat penting untuk diselesaikan.
Sebagai manajer atau pelatih kepala, tanggung jawab pertama berada di tangan Slot. Ia dituntut menggerakkan klub di rel yang benar. Dia tahu apa yang sedang terjadi pada klub, serta apa yang perlu dibenahi dan ditingkatkan.
Salah adalah "jimat" klub, setidaknya begitu hingga musim lalu ketika pemain warisan Klopp memberi satu trofi Liga Premier untuk klub dengan reputasi gemilang ini.
Sebagai bintang, ia punya reputasi, kompetensi, juga harga diri, emosi dan ego. Ketika ia bicara kepada pers, besar kemungkinan karena komunikasi antara Slot dan manajemen dengan Salah, tidak baik-baik saja.
Telur sudah pecah dan itu terbuka di ruang publik. Ia bisa disebut badai besar. Namun, bukan kiamat buat Liverpool jika para pihak mau duduk bersama untuk menemukan solusi.
Pertanyaan pertama untuk Slot: Apakah Salah sumber masalah buat Liverpool? Apa kekurangan atau titik lemah Salah dalam skema dan gaya permainan Slot?
Selanjutnya, Slot juga harus fair bertanya: Apa masalah terbesar Liverpool sebelum akhir tahun 2025 ini: Salah atau kuartet lini pertahanannya yang rapuh?
Van Dijk, Ibrahima Konate, Milos Kerkez dan Conor Bradley tidak sekokoh kuartet musim lalu ketika Trent Alexander Arnold masih betah di gang Anfield. Kebobolan yang terlalu besar atau produktivitas gol yang meletakkan Liverpool dalam krisis?
Slot sudah belanja besar musim ini, sangat besar. Bahkan, ini di luar kebiasaan klub itu. Dua penyerang haus gol, Alexander Isak dan Hugo Ekitike, dibawa ke Anfield.
Di mana peran Salah akan diletakkan oleh Slot? Sebab hingga lima laga pertama, semua baik-baik saja buat Liverpool, Slot dan Salah.
Berikutnya jika peran Salah akan dikurangi, dalam laga-laga apa sang bintang akan diturunkan?
Liverpool sejauh ini masih punya Liga Champions yang bergengsi. Apakah Salah bakal diplot untuk lebih berperan di kompetisi tertinggi Eropa itu?
Atau apakah ia diinginkan untuk "berbagi menit bermain" dengan pemain yang beroperasi di sayap kanan? Jika tidak, Slot mencari alternatif posisi untuk Salah? Misalnya diberi peran nomor 10 atau second striker.
Jika Slot dan Liverpool masih menginginkan Salah, maka mereka harus bicara dengan terbuka dan fair. Jangan biarkan ledakan-ledakan emosi menggunung, lalu pecah, dan berakhir tanpa solusi.
Kecuali The Reds sudah tak menginginkan Salah, sesuatu yang kontras dengan situasi Salah masih terikat hingga 2027 mendatang.
Kini situasi Salah menuju "point of no return". Saking murkanya dengan apa yang dialami, Salah tak menutup peluang untuk pergi.
“Dalam sepak bola, Anda tidak pernah tahu. Saya tidak menerima situasi ini. Saya sudah melakukan banyak hal untuk klub ini,” tegas si kidal yang kembali mengantar negerinya, Mesir ke Piala Dunia itu.
Salah dkk menyegel tiket ke-19 Piala Dunia 2026 usai menyikat tuan rumah Maroko, 3-0, dalam duel 8 Oktober 2025.
Slot tahu di antara barisan pemain Liverpool, Salah yang paling senior, salah satu terlama serta yang paling kontributif untuk klub.
Salah tak pantas diperlakukan tidak adil, tapi tak boleh menuntut keistimewaan. Seluruh awak The Reds harus tahu yang paling prioritas adalah misi musim ini: Jago di Inggris dan kampiun Eropa.
Hingga pekan ke-15, Liverpool terjungkal ke posisi 9 hasil 7 kali menang, 2 seri dan 6 kali kalah.
Liverpool memasukkan 24 gol, tapi kebobolan 24 gol. Produktivitas gol mereka masih oke, bahkan cuma minus 4 gol dari sang pemuncak, Arsenal.
Hasil ini mengabarkan hal absolut: Lini pertahanan yang keropos adalah sumber masalah The Reds. Van Dijk dan Konate sudah kendor, sementara bek kiri dan bek kanan mereka belum selevel Arnold dan Andrew Robertson di masa emas.
Semasa menukangi MU, 2018 silam, Jose Mourinho pernah menyanjung Robertson setinggi langit. "Saya masih lelah memandang Robertson! Dia melakukan sprint sejauh 100 meter tiap menit, sungguh luar biasa. Seperti itulah kualitas mereka."
Bek kiri asal Skotlandia itu masih ada dalam tim. Namun seiring usia, kinerja Robertson menurun. Adapun sang pengganti di posisi bek kiri, Kerkez, masih beradaptasi dengan DNA Liverpool.
Jendela transfer musim dingin tinggal tiga pekan lagi. Liverpool seyogianya berpikir untuk meningkatkan kinerja di sektor pertahanan. Bukan malah terjerumus, membiarkan Salah pergi.
Salah itu tetap kartu as buat Liverpool. Jika tak masuk the winning team, Salah bisa diharapkan sebagai supersub. Pemain yang turun sebagai pemain pengganti dan menentukan hasil akhir laga karena sumbangannya untuk umpan kunci, assist dan gol.
Bola berada di tangan Slot dan manajemen. Salah telah ditunggu Mesir yang akan berkiprah di Piala Afrika 2025, yang digelar di Maroko pada 21 Desember 2025 hingga 18 Januari 2026.
Sebelum bergabung dengan Mesir, lebih elok jika Slot dan manajemen Liverpool sudah merampungkan "badai Salah" ini.
Jika ia diharapkan membantu Geng Anfield, Slot perlu memberi menit bermain saat Liverpool berduel dengan Brighton & Hove Albion, 13 Desember mendatang.
Kalau tidak, bisa-bisa Salah membawa luka itu ke Piala Afrika. Ketika solusi tak didapat alias buntu, mulai saat ini, Liverpudlian harus bersiap dengan ending yang muram. Berpisah dengan sang bintang dengan cara yang tak pernah mereka impikan.
Arne Slot bukan Alex Ferguson yang begitu dominan dan menguasai pemainnya, termasuk level bintang dan megabintang.
Cristiano Ronaldo, Wayne Rooney hingga David Beckham tak pernah mengalahkan Sir Alex---pelatih yang memang memberi kejayaan dan kemegahan kepada Manchester United.
Entahlah jika manajemen Liverpool telah memberikan otoritas dan kewibawaan ala Sir Alex itu kepada Slot.
Salah juga bukan "mesin atau robot" yang kapasitas fisik serta talentanya serupa Ronaldo. Ia bintang, punya keterbatasan dan tak dapat mengelak dari rongrongan usia.
Pada 15 Juni lalu, Mohamed Salah telah berumur 33 tahun. Tidak terlalu tua, tapi telah melewati usia emasnya.
Saya kira, Salah tetap ingin bersama Liverpool yang dibesarkannya dan membesarkan Salah. Ada simbiosis mutualisme antara Salah dan Liverpool.
Dan Salah juga tahu: Bermain di klub lain tak selalu identik dengan kejayaan. Salah pernah bergabung dengan Chelsea. Alih-alih topcer, talentanya gagal berkembang di sana.
Kalaulah Salah dan Liverpool mesti berpisah, pecinta bola ingin menyaksikan perpisahan yang manis.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.