Rempah dan Skincare Jadi Aset Finansial Baru dari Tanah Jawa
Jawa Barat kian menunjukkan peran pentingnya dalam peta ekonomi kreatif dan perdagangan global. Di tengah geliat industri lokal yang terus beradaptasi, dua sektor menonjol sebagai wajah baru kekuatan finansial daerah: produk berbasis rempah dan skincare alami. Keduanya tidak hanya mewakili kekayaan sumber daya alam Tanah Jawa, tetapi juga simbol inovasi dan transformasi gaya hidup yang bernilai ekonomi tinggi.
Selama beberapa tahun terakhir, Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) terus mendorong pelaku usaha lokal agar mampu menembus pasar ekspor.
Inisiatif ini dijalankan lewat berbagai program pendampingan, pelatihan, hingga fasilitasi sertifikasi halal dan Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP) bagi pelaku industri pangan.
Langkah tersebut menjadi bagian dari implementasi Peraturan Gubernur Jabar Nomor 94 Tahun 2022 tentang Pemberdayaan dan Pengembangan Pelaku Usaha Kecil yang Berorientasi Ekspor (KOMPOR), yang menjadi payung bagi kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat rantai nilai ekspor.
Hasilnya mulai terlihat jelas. Dalam ajang West Java Expo (WJX) 2025—yang digelar bersamaan dengan Trade Expo Indonesia (TEI)—produk-produk unggulan dari sektor personal care dan food and beverages menjadi primadona. Rempah-rempah seperti cengkeh dan vanila mencatat penjualan retail tertinggi melalui PT Mekar Saluyu Grup, sementara produk skincare alami dari PT Aquila Natural Globalindo berhasil meraih nilai transaksi ekspor terbesar melalui penandatanganan Memorandum of Understanding dengan sejumlah mitra luar negeri.
Pencapaian ini menegaskan bahwa komoditas tradisional seperti rempah dapat bertransformasi menjadi aset finansial modern bila dikelola dengan pendekatan inovatif. Di sisi lain, tren global terhadap produk alami dan berkelanjutan turut membuka peluang besar bagi industri kecantikan lokal untuk merambah pasar internasional.
“West Java: Unlocking Opportunities in the Globally Integrated Market” bukan sekadar tema pameran, tetapi cerminan dari arah baru ekonomi kreatif Jabar yang semakin terhubung dengan gaya hidup global.
Disperindag Jabar juga memperluas dukungan lewat pembentukan Desa Devisa Kopi di Kabupaten Subang bersama Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), serta berbagai kegiatan business matching dengan mitra dari Manila hingga Dubai. Dari seluruh rangkaian kegiatan Road to WJX, tercatat nilai transaksi mencapai Rp36,81 miliar atau setara USD2,22 juta, sementara total transaksi keseluruhan di WJX 2025 mencapai Rp328,6 miliar.
Menariknya, sebagian besar pembeli datang dari negara-negara dengan tren konsumsi sehat dan alami yang kuat, seperti Korea Selatan, Jepang, Australia, hingga Jerman. Fakta ini menunjukkan bahwa rempah dan skincare lokal bukan sekadar produk konsumsi, melainkan aset finansial yang merefleksikan nilai budaya, inovasi, dan keberlanjutan.
Dengan semakin kuatnya ekosistem ekspor dan dukungan regulasi yang berpihak pada pelaku usaha kecil, Jawa Barat tengah menapaki fase baru ekonomi kreatifnya: dari hasil bumi yang dulu sekadar komoditas, kini menjelma menjadi produk bernilai tambah tinggi yang mampu bersaing di pasar global.