Afsel Curiga Penerbangan Misterius Bawa Ratusan Warga Palestina Agenda Pengosongan Gaza
Menteri Luar Negeri Afrika Selatan Ronald Lamola mengkritik sebuah pesawat carteran yang tiba di negaranya dengan lebih dari 150 warga Palestina sebagai bagian dari "agenda yang lebih luas" untuk membersihkan Gaza dan Tepi Barat melalui jaringan penerbangan carteran.
Lamola tidak menyebutkan siapa yang diyakini Afrika Selatan sebagai dalang pesawat carter yang tiba di Johannesburg pada hari Kamis, berisi 153 warga Palestina tersebut, tetapi komentarnya dianggap menuduh Israel berada di balik kampanye untuk memindahkan orang-orang dari wilayah Palestina dan mengirim mereka ke negara lain.
"Memang, kami sebagai pemerintah Afrika Selatan curiga terhadap keadaan seputar kedatangan pesawat dan penumpang yang ada di dalamnya," kata Lamola dilansir AP, Selasa, 18 November 2025.
"Tampaknya ini merupakan agenda yang lebih luas untuk memindahkan warga Palestina dari Palestina ke berbagai belahan dunia dan ini merupakan operasi yang jelas-jelas diatur karena mereka tidak hanya dikirim ke Afrika Selatan. Ada negara-negara lain yang telah menerima penerbangan serupa," sambungnya
Otoritas Israel yang bertanggung jawab atas penerapan kebijakan sipil di wilayah Palestina mengatakan bahwa warga Palestina yang berada di pesawat carteran menuju Afrika Selatan meninggalkan Jalur Gaza setelah mendapat persetujuan dari negara ketiga untuk menerima mereka sebagai bagian dari kebijakan pemerintah Israel yang mengizinkan warga Gaza untuk pergi.
Otoritas tersebut tidak menyebutkan nama negara ketiga tersebut.
Pemerintah Israel sebelumnya telah menyetujui janji Presiden AS Donald Trump untuk mengosongkan Gaza secara permanen dari lebih dari 2 juta warga Palestina dalam sebuah rencana yang menurut kelompok hak asasi manusia akan menjadi pembersihan etnis. Saat itu, Trump mengatakan mereka tidak akan diizinkan untuk kembali.
Trump kemudian menarik kembali rencana tersebut dan menjadi perantara gencatan senjata antara Israel dan kelompok militan Hamas yang memungkinkan warga Palestina untuk tetap tinggal di Gaza.
Israel mengadakan diskusi dengan Sudan Selatan awal tahun ini tentang kemungkinan memukimkan kembali warga Palestina di sana dari Gaza sebagai bagian dari upaya Israel yang lebih luas untuk memfasilitasi emigrasi massal dari wilayah tersebut. Israel juga mengajukan rencana pemukiman kembali bagi warga Palestina dengan pemerintah Afrika lainnya.
Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa mengatakan akan ada penyelidikan oleh badan intelijen terkait siapa dalang di balik pesawat yang membawa warga Palestina yang tiba di Bandara Internasional O.R. Tambo, Johannesburg, dari Bandara Ramon di Israel selatan melalui persinggahan di Kenya.
"Kami tidak ingin ada penerbangan lagi yang datang karena ini agenda yang jelas untuk mengusir warga Palestina dari Gaza dan Tepi Barat," kata Lamola.
Otoritas Afrika Selatan mengatakan bahwa warga Palestina — termasuk keluarga dengan anak-anak dan seorang perempuan yang sedang hamil sembilan bulan — tidak memiliki dokumen yang benar untuk bepergian ke Afrika Selatan atau dokumen keluar yang sah dari Israel.
Mereka akhirnya diizinkan masuk setelah dicegah turun dari pesawat oleh petugas imigrasi dan ditahan di landasan bandara selama sekitar 12 jam. Langkah otoritas Afrika Selatan ini menuai kritik keras dari kelompok-kelompok hak asasi manusia.
Afrika Selatan telah lama menjadi pendukung Palestina dan pengkritik Israel.
Komentar Lamola menyusul tuduhan yang dilontarkan oleh kelompok-kelompok sipil Afrika Selatan bahwa sebuah organisasi yang berbasis di Yerusalem bernama Al-Majd mengatur pengiriman pesawat ke Afrika Selatan dan memiliki hubungan dengan Israel. Kelompok-kelompok tersebut tidak memberikan bukti apa pun atas klaim mereka tentang hubungan dengan Israel.
Seorang pejabat militer Israel, yang berbicara secara anonim untuk membahas informasi rahasia, mengatakan bahwa Al-Majd mengatur pengangkutan sekitar 150 warga Palestina dari Gaza ke Afrika Selatan dan memperoleh dokumen perjalanan yang sah bagi mereka.
Sebuah LSM Afrika Selatan mengatakan bahwa pesawat carteran yang tiba di Johannesburg pekan lalu adalah yang kedua dari Israel dalam beberapa pekan terakhir, setelah penerbangan yang mendarat pada 28 Oktober dengan lebih dari 170 warga Palestina di dalamnya.