Gubernur Ahmad Luthfi Sebut Jawa Tengah 'Minimarket Bencana': Semua Potensi Bencana Ada
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyebut provinsinya sebagai 'minimarket bencana', saat menanggapi longsor di Desa Pandanarum, Kecamatan Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara, Senin, 17 November 2025.
Menurut Luthfi, Jawa Tengah memiliki hampir seluruh jenis bencana, mulai banjir, tanah gerak, gempa bumi, hingga rob.
"Jawa Tengah ini memang minimarket bencana. Dari Batang, Banjarnegara, Brebes, Magelang, hingga Temanggung, potensi gerakan tanah dan longsor selalu ada. Pencegahan dini wajib dilakukan agar kejadian tidak berulang," kata Luthfi di Pendopo Kabupaten Pemalang, usai menghadiri wisuda 1.000 KPM PKH, Senin.
Evakuasi korban bencana longsor di Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap
Laporan awal menyebut 847 warga terdampak mengungsi, sementara ada indikasi 26 warga masih belum terdata, diduga berada di hutan saat longsor terjadi mendadak. "Ini baru indikasi, by name by address belum diketahui," ujarnya.
Pemprov Jateng bersama Pangdam, Basarnas, dan Deputi BNPB langsung menggelar rapat koordinasi untuk penelusuran data dan titik pencarian. Gubernur menambahkan, beberapa klaster dibentuk, termasuk klaster pengungsi, logistik, surplus, dan kesehatan, agar mobilitas orang, barang, dan bantuan lebih terkoordinasi.
Pemprov juga telah menggeser anggaran besar untuk percepatan penanganan bencana. Di Cilacap, anggaran hampir Rp400 miliar digunakan untuk relokasi 16 rumah terdampak. Untuk Banjarnegara, pemerintah menyiapkan Rp700 miliar.
Menteri Sosial Saefullah Yusuf yang hadir menambahkan, Kemensos menurunkan bantuan kedaruratan berupa tenda, dapur umum, logistik, dan bantuan lain untuk warga terdampak.
"Kami bersama Gubernur melakukan langkah kedaruratan dengan mendirikan tenda, dapur umum, logistik, dan bantuan lain yang diperlukan," kata Mensos.
Rawan Longsor dalam 10 Tahun Terakhir
Terpisah, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan Kabupaten Banjarnegara dan Cilacap merupakan daerah dengan jumlah korban longsor terbanyak dalam 10 tahun terakhir di Jawa Tengah.
Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari mengatakan bahwa catatan historis menunjukkan pola kejadian longsor di Jawa Tengah tidak pernah lepas dari wilayah tengah hingga selatan provinsi itu.
"Tingkat kerawanan longsor tidak berubah tanpa perbaikan lingkungan. Kalau historisnya pernah terjadi, kemungkinan akan terulang lagi seperti yang saat ini terjadi," kata Muhari.
Berdasarkan data 2015–2024 BNPB mencatat Banjarnegara menempati urutan pertama wilayah dengan korban meninggal dan mengungsi akibat tanah longsor. Pada periode tersebut ada sebanyak 13.351 orang warga mengungsi akibat tanah longsor dan 330 orang menunggal dunia.
Sementara Kabupaten Cilacap berada pada posisi kedua 9.547 orang warga mengungsi dan 276 orang warga meninggal dunia karena longsor. Selanjutnya disusul Kabupaten Magelang, Wonosobo, dan Purbalingga.
Abdul menjelaskan bahwa longsor kerap terjadi di wilayah perbukitan yang memiliki struktur tanah gembur dan porositas tinggi sehingga ketika hujan turun dalam durasi lama, air mengisi rekahan dan memicu bidang luncuran tanah.
Kondisi tersebut dinilai sebagai pemicu bencana tanah longsor hingga sepanjang satu kilometer dari pusat runtuhan yang melanda Desa Cibeunying, Majenang, Cilacap, Jawa Tengah, Jumat.
BNPB mengkonfirmasi hingga Senin malam, dari 23 warga yang dilaporkan hilang, 16 korban ditemukan meninggal dunia dan 7 masih dalam pencarian.
Dengan demikian, ia mengingatkan pentingnya kewaspadaan masyarakat terhadap tanda awal longsor seperti pohon yang miring atau rekahan tanah di lereng, dan keberadaan sistem peringatan dini longsor berbasis teknologi sudah sangat dibutuhkan, karena berfungsi sebagai alarm bagi masyarakat untuk segera mengungsi ketika hujan deras turun.
"Upaya pencegahan hanya dapat dilakukan melalui penguatan vegetasi, penataan ruang, dan kesadaran masyarakat terhadap kondisi geografis setempat," kata dia.