Menelisik Shwe Kokko di Myanmar, Proyek Kontroversial She Zhijiang Raja Judol-Scam Asia Tenggara

Raja Judol She Zhijiang dideportasi dari Thailand ke China
Raja Judol She Zhijiang dideportasi dari Thailand ke China

 She Zhijiang,  warga negara China yang diduga membangun kerajaan judi online (judol) illegal dan penipuan online di Myanmar akhirnya diekstradisi dari Bangkok ke China setelah buron lebih dari 10 tahun. She Zhijiang diketahui telah ditahan di Thailand sejak tahun 2022 lalu setelah aparat kepolisian menerbitkan surat perintah internasional dan red notice Interpol yang diminta oleh China. 

Melansir laman The Guardian Kamis 13 November 2025, pengadilan pidana Thailand memutuskan untuk mengekstradisi She pada Mei tahun lalu, dan keputusan itu kembali ditegaskan oleh pengadilan lain pada Senin lalu setelah tim kuasa hukumnya mengajukan banding.

“Pihak Tiongkok meminta ekstradisi terhadap tersangka, dan kasusnya menjadi prioritas tinggi bagi mereka,” ujar, asisten komisaris jenderal kepolisian Thailand, Letnan Jenderal Polisi Jirabhop Bhuridej  kepada wartawan.

She Zhijiang dikenal sebagai salah satu tokoh paling besar yang dikaitkan dengan pusat-pusat penipuan online di Asia Tenggara. Jaringan tersebut telah menjebak ribuan warga Tiongkok dan mendorong Beijing melakukan penindakan besar-besaran.

Salah satu proyek paling kontroversial miliknya adalah kota Shwe Kokko. Lantas seperti apa itu Shwe Kokko di Myanmar proyek paling kontroversial miliknya?

Melansir laman BBC Internasional, Shwe Kokko ini merupakan kota yang terletak di perbatasan antara Myanmar dan Thailand. Kota ini disebut-sebut dibangun sebagai rumah bagi jaringan penipuan online, pencucian uang dan perdagangan manusia.

Perusahaan milik She Zhijiang, Yatai dalam video promosinya menggambarkan kota ini sebagai resort city yang aman, serta destinasi bagi wisatawan asal China serta tempat perlindungan bagi para konglomerat.

Pembangunan Shew Kokko dimulai sejak tahun 20017 di area terlarang. Setelah kudeta militer di Myanmar pada 2021 lalu, untuk bisa menjangkau kota ini setidaknya bisa memakan waktu hingga tiga hari dari ibu kota Myanmar. Bahkan selama diperjalanan juga tidak mudah, mereka yang akan menuju daerah tersebut perlu melewati banyak pos pemeriksaan, hingga risiko tertembak di tengah baku tembak.

Tak hanya lewat Yangon, mereka yang ingin ke kota ini juga bisa mengaksesnya melalui Thailand. Meski jarak tempuhnya lebih singkat namun butuh perencanaan yang matang agar tidak tertangkap patroli polisi dan tentara Thailand.

Untuk penampakan kota tersebut, Shwe Kokko dilengkapi dengan vila mewah, dan pepohonan hijau yang ditanam rapi. Sekilas kota ini juga nampak seperti kota kecil di China, hal ini terasa dari penggunaan huruf mandarin di bangunan gedung di sana hingga truk-truk buatan Tiongkok berlalu lalang membawa material konstruksi. Selain itu, kota ini juga memiliki hotel hingga kasino.

Bermasalah

She Zhijiang dan perusahaannya, Yatai, telah dijatuhi sanksi oleh pemerintah Inggris dan Amerika Serikat karena keterkaitannya dengan pelanggaran HAM di kompleks-kompleks penipuan tersebut.

Dalam wawancara BBC Internasional dengan She Zhijiang saat dipenjara tahun ini, She bersikeras bahwa perusahaannya tidak pernah menerima atau mendukung penipuan dan kejahatan telekomunikasi. Namun, ia juga mengakui bahwa para pelaku penipuan kemungkinan masuk ke Shwe Kokko karena kota itu terbuka sepenuhnya untuk siapa pun.

Pada September lalu, Departemen Keuangan Amerika Serikat juga telah menjatuhkan sanksi terhadap sembilan perusahaan dan individu yang terlibat dalam proyek Shwe Kokko karena keterkaitan mereka dengan jaringan penipuan dan perdagangan manusia di kawasan tersebut.

Pada Rabu di hari yang sama, Amerika Serikat juga menjatuhkan sanksi keuangan terhadap kelompok milisi Myanmar karena mendukung operasi penipuan siber yang menargetkan warga Amerika dari wilayah yang mereka kuasai. Sanksi terbaru dari Departemen Keuangan AS itu menargetkan Democratic Karen Benevolent Army (DKBA) dan empat pemimpinnya, serta beberapa entitas dan individu yang terkait dengan kejahatan terorganisir asal Tiongkok.

Untuk diketahui, wilayah perbatasan antara Thailand, Myanmar, Laos, dan Kamboja telah menjadi pusat aktivitas penipuan online sejak masa pandemi Covid-19. PBB melaporkan bahwa miliaran dolar dihasilkan dari eksploitasi ratusan ribu orang yang dipaksa bekerja di kompleks-kompleks penipuan tersebut.

Dalam beberapa tahun terakhir, ratusan ribu orang telah menjadi korban perdagangan manusia oleh sindikat kriminal di Asia Tenggara dan dipaksa bekerja di pusat-pusat penipuan, banyak di antaranya berada di wilayah Myanmar yang dilanda konflik.