Jejak Sindikat Penculik Bilqis, Jual 9 Bayi dan 1 Anak Lewat TikTok dan WhatsApp

Jambi, Bilqis, Makassar, penculikan anak, bilqis diculik, bilqis diculik makassar, bilqis balita diculik, penculikan Bilqis, bilqis diculik jambi, Bilqis Ramdhani, penculikan bilqis ramadhani, penculikan bilqis makassar, Jejak Sindikat Penculik Bilqis, Jual 9 Bayi dan 1 Anak Lewat TikTok dan WhatsApp, Pelaku Utama Dikenal Baik di Lingkungan Sekitar, Motif Ekonomi dan Perdagangan Anak Melalui Media Sosial, Peran Nadia Hutri, Pembeli dari Sukoharjo, Jejak Panjang Operasi Penyelamatan Bilqis, Penyelamatan Dramatis di Jambi

 Kasus penculikan Bilqis Ramadhani (4), bocah asal Makassar, Sulawesi Selatan, akhirnya terungkap setelah enam hari pencarian intensif lintas provinsi.

Bocah malang itu ditemukan di kawasan Tabir Selatan, Kabupaten Merangin, Jambi, pada Minggu (9/11/2025), setelah melalui perjalanan panjang sejauh lebih dari 2.600 kilometer.

Di balik penyelamatan dramatis itu, polisi berhasil membongkar jaringan perdagangan anak lintas provinsi yang melibatkan empat pelaku utama. Para pelaku diketahui memperjualbelikan anak-anak secara daring melalui aplikasi TikTok dan WhatsApp.

Pelaku Utama Dikenal Baik di Lingkungan Sekitar

Salah satu pelaku, Adefrianto Syahputra S (36), warga Kabupaten Merangin, Jambi, ternyata dikenal sebagai sosok yang rajin beribadah dan supel di lingkungan tempat tinggalnya.

"Sehari-hari orangnya baik, loyal, supel, suka ikut gotong royong dengan warga, ibadahnya juga rajin. Seperti orang biasa," kata seorang warga, dikutip dari TribunJambi.com, Selasa (11/11/2025).

Warga mengaku terkejut ketika mengetahui Adefrianto ditangkap atas dugaan keterlibatan dalam jaringan perdagangan anak.

Diketahui, Adefrianto merupakan tenaga honorer di salah satu instansi Pemerintah Provinsi Jambi. Ia telah menikah dan menetap di Kota Jambi, meski sesekali pulang ke kampung halamannya di Merangin.

“Pokoknya dia baik dengan warga sekitar. Saya tidak menyangka saja bisa seperti itu,” ujar tetangganya.

Motif Ekonomi dan Perdagangan Anak Melalui Media Sosial

Kapolda Sulawesi Selatan, Irjen Djuhandhani, mengungkapkan bahwa Adefrianto dan seorang pelaku lain bernama Meriana (42) memperjualbelikan anak-anak melalui platform digital.

“Keduanya mengaku telah memperjualkan 9 bayi dan 1 anak melalui TikTok dan WhatsApp,” ujar Djuhandhani.

Polisi kini telah menetapkan empat tersangka dalam kasus ini, yakni Sri Yuliana (SY), Nadia Hutri (NH), Meriana (MA), dan Adefrianto Syahputra (AS).

Mereka dijerat dengan pasal berlapis, yaitu:

  • Pasal 83 juncto Pasal 76F UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, dan
  • Pasal 2 ayat (1) dan (2) juncto Pasal 17 UU Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).
  • Ancaman hukuman bagi para pelaku maksimal 15 tahun penjara.

Peran Nadia Hutri, Pembeli dari Sukoharjo

Jambi, Bilqis, Makassar, penculikan anak, bilqis diculik, bilqis diculik makassar, bilqis balita diculik, penculikan Bilqis, bilqis diculik jambi, Bilqis Ramdhani, penculikan bilqis ramadhani, penculikan bilqis makassar, Jejak Sindikat Penculik Bilqis, Jual 9 Bayi dan 1 Anak Lewat TikTok dan WhatsApp, Pelaku Utama Dikenal Baik di Lingkungan Sekitar, Motif Ekonomi dan Perdagangan Anak Melalui Media Sosial, Peran Nadia Hutri, Pembeli dari Sukoharjo, Jejak Panjang Operasi Penyelamatan Bilqis, Penyelamatan Dramatis di Jambi

Bilqis Ramdhani yang digendong sang ayah Dwi Nursam setelah sempat dinyatakan hilang hampir sepekan dan tiba di Polrestabes Makassar, Jalan Ahmad Yani, Kota Makassar, Sulsel, Minggu (9/11/2025).

Salah satu pelaku lainnya, Nadia Hutri (29), diketahui tinggal di perumahan subsidi di Desa Kepuh, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.

Dalam kasus ini, Nadia berperan sebagai pihak yang membeli Bilqis dari pelaku pertama di Makassar sebelum kemudian menjualnya lagi ke Jambi.

Pantauan TribunSolo.com pada Senin (10/11/2025) menunjukkan rumah bercat krem milik Nadia tampak sepi dan tertutup rapat. Lampu teras masih menyala, namun tidak ada aktivitas di dalam rumah.

“Setelah penangkapan itu, rumahnya langsung sepi. Tidak ada orang di situ,” ujar seorang warga yang enggan disebutkan namanya.

Ketua RT setempat, Sukino Harsomarto (74), menyebut Nadia dikenal sebagai orang yang tertutup dan jarang berinteraksi.

“Dia beli rumah subsidi sekitar setahun lalu. Orangnya pendiam, jarang keluar rumah,” ujarnya.

Warga kaget saat aparat datang dini hari untuk menangkap Nadia.

“Kami semua tidak menyangka. Selama ini dia tampak seperti orang biasa,” tambah Sukino.

Jejak Panjang Operasi Penyelamatan Bilqis

Kasus ini berawal ketika Bilqis hilang saat bermain di Taman Pakui Sayang, Makassar, pada Minggu (2/11/2025). Ayahnya, Dwi Nurmas, segera melapor ke polisi.

Tim gabungan dari Polsek Panakkukang dan Polrestabes Makassar di bawah pimpinan Iptu Dr. Nasrullah dan Ipda Supriyadi Gaffar bergerak cepat dengan menelusuri rekaman CCTV di sekitar lokasi.

“Kami menemukan rekaman seorang ibu-ibu membawa anak keluar dari taman,” kata Iptu Nasrullah.

Pelaku pertama, Sri Yuliana (SY), segera ditangkap di kos barunya di Jalan Abu Bakar Lambogo. Dari keterangannya, Bilqis telah dijual ke Nadia Hutri di Sukoharjo seharga Rp 3 juta melalui sistem cash on delivery (COD).

Setelah menangkap Nadia di Solo pada Kamis (6/11/2025), polisi kembali mendapatkan informasi bahwa Bilqis telah dijual lagi ke Jambi oleh pasangan Meriana dan Adefrianto.

Penyelamatan Dramatis di Jambi

Tim Jatanras langsung bergerak ke Jambi dan menempuh perjalanan darat selama 16 jam menuju Merangin. Setelah sempat lolos dari razia, Meriana dan Adefrianto akhirnya ditangkap di sebuah penginapan di Sungai Penuh, Jambi.

Namun, Bilqis tak ditemukan bersama mereka. Bocah itu rupanya telah dijual lagi kepada warga di perkampungan adat terpencil dengan harga mencapai Rp 60 juta.

Untuk menyelamatkan Bilqis, polisi harus bernegosiasi dengan para pemangku adat selama dua malam satu hari.

“Kami memohon bahwa anak itu tidak sama dengan kalian... Kami memberikan pengertian, posisikan diri kalian bagaimana kalau anak kalian diculik,” ujar Ipda Supriyadi Gaffar.

Saat akhirnya Bilqis diserahkan, suasana haru menyelimuti tim. Bocah empat tahun itu sempat menangis saat digendong polisi karena mengira pengasuhnya adalah orangtuanya.

“Sedih lah, karena ini terkait anak-anak kami. Kami juga orang tua. Alhamdulillah, dengan bantuan teman-teman semua, anak itu bisa kami amankan,” tutur Iptu Nasrullah.

Sebagian Asrtikel Telah Tayang di Kompas.com dengan Judul dan Tribunnews.com dengan judul Kagetnya Tetangga Adefrianto Penculik Bilqis, Dikira Baik Ternyata Penjahat, Sudah Jual 10 Anak

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.