Rusia Blokir Permanen WhatsApp, Ada Apa?
Aplikasi pesan asal Amerika Serikat, WhatsApp resmi diblokir sepenuhnya di Rusia. Aplikasi yang dimiliki oleh Meta Platforms ini resmi diblokir pada Kamis 12 Februari 2025.
Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov mengatakan kepada wartawan bahwa keputusan tersebut memang telah diambil dan diberlakukan karena Meta tidak bersedia mengikuti aturan Rusia. Menyusul dengan pemblokiran WhatsApp per Kamis kemarin, pemerintah Rusia mengusulkan agar masyarakat setempat menggunakan aplikasi pesan milik Rusia bernama MAX.
“MAX adalah alternatif yang tersedia, messenger yang sedang berkembang, messenger nasional, dan sudah bisa diakses warga sebagai pilihan lain,” ujar Peskov dikutip dari laman Reuters, Jumat 13 Februari 2026.
Sayangnya pengalihan penggunaan aplikasi dari WhatsApp ke MAX ini mendapat banyak pertentangan. Banyak pengkritik menilai MAX merupakan alat mata-mata negara untuk mengawasi masyarakatnya. Namun tudingan tersebut dibantah oleh pemerintah Rusia, dan menyatakan bahwa aplikasi tersebut, yang mengintegrasikan berbagai layanan terkait pemerintah, dirancang untuk mempermudah dan meningkatkan kualitas kehidupan sehari-hari warga.
Di satu sisi, langkah pemerintah Rusia terhadap WhatsApp menjadi puncak dari tekanan selama enam bulan terakhir terhadap perusahaan asal AS itu.
Kebijakan ini juga mencerminkan upaya lebih luas pemerintah Rusia di tengah situasi perang untuk membangun dan mengendalikan infrastruktur komunikasi yang berdaulat, di mana perusahaan teknologi asing harus tunduk pada hukum lokal atau keluar dari pasar.
Meta sendiri sebelumnya telah ditetapkan sebagai organisasi ekstremis di Rusia. WhatsApp menyebut langkah ini sebagai upaya untuk sepenuhnya memblokir layanannya.
“Upaya mengisolasi lebih dari 100 juta pengguna dari komunikasi yang privat dan aman adalah langkah mundur dan hanya akan membuat masyarakat di Rusia kurang aman,” demikian pernyataan WhatsApp.
Sejumlah nama domain yang terkait dengan WhatsApp hilang dari daftar registrasi domain nasional Rusia. Akibatnya, perangkat di dalam negeri tidak lagi menerima alamat IP dari aplikasi tersebut dan hanya bisa mengaksesnya melalui jaringan privat virtual (VPN).
Sebagai informasi, tak hanya WhatsApp, pemerintah Rusia, juga memblokir atau membatasi platform media sosial seperti Snapchat, Facebook, Instagram, dan YouTube, belakangan ini gencar mempromosikan MAX.
Roskomnadzor (Badan Pengawas Komunikasi Rusia) mulai membatasi WhatsApp dan layanan pesan lainnya sejak Agustus, dengan membuat panggilan telepon melalui aplikasi tersebut tidak dapat diselesaikan. Otoritas menuduh platform milik asing itu tidak mau membagikan informasi kepada aparat penegak hukum dalam kasus penipuan dan terorisme.
Pada Desember, badan itu menyatakan akan mengambil langkah baru untuk membatasi aplikasi secara bertahap. WhatsApp dituding terus melanggar hukum Rusia dan menjadi platform yang digunakan untuk mengorganisasi dan melaksanakan aksi terorisme di wilayah negara, merekrut pelakunya, serta melakukan penipuan dan kejahatan lainnya.
Pengadilan Rusia juga telah menjatuhkan denda kepada WhatsApp karena gagal menghapus konten yang dilarang. Otoritas menyatakan perusahaan tersebut harus memiliki kantor perwakilan lokal di Rusia agar dianggap patuh terhadap aturan.
Sejak Desember, banyak warga Rusia hanya bisa menggunakan WhatsApp dengan bantuan VPN dan mulai beralih ke aplikasi pesaing, meskipun beberapa di antaranya juga menghadapi tekanan dari pemerintah dengan alasan serupa.