Top 6+ Hal di Dapur Ini Bisa Picu Kanker, Nomor 4 Sering Dipakai Masyarakat

Ilustrasi Peralatan Dapur
Ilustrasi Peralatan Dapur

 Dapur, dengan aroma rempah yang menggoda dan suara desisan wajan, selalu identik dengan kehangatan dan kebersamaan. Namun di balik suasana yang akrab dan nyaman itu, ternyata ada ancaman diam-diam yang bisa mengganggu kesehatan kita.

Tanpa disadari, beberapa benda yang umum kita temui di dapur ternyata berpotensi berkaitan dengan risiko kanker. Oleh karena itu, penting untuk mengenali bahaya tersembunyi ini karena kesadaran adalah langkah pertama untuk melindungi diri dan keluarga dari ancaman yang tak terlihat.

Berikut beberapa bahan atau peralatan dapur yang diam-diam bisa memicu risiko kanker seperti dilansir dari laman Times of India, Senin 10 November 2025.

1. Peralatan masak anti lengket (non-stick cookware)

Wajan atau panci anti lengket yang banyak digunakan di dapur ternyata bisa menyimpan bahaya tersembunyi. Zat kimia bernama perfluorooctanoic acid (PFOA), yang digunakan untuk membuat lapisan anti lengket, diduga berkaitan dengan risiko kanker. Ketika digunakan pada suhu tinggi, peralatan anti lengket dapat mengeluarkan uap beracun yang menyebabkan gejala mirip flu, dan dalam jangka panjang, dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker. Jadi, sebaiknya hindari memanaskan peralatan ini terlalu lama atau tanpa makanan di atasnya.

2. Peralatan makan dan wadah plastik

Menurut Senior Consultant dan Kepala Departemen Histopatologi di Oncquest Laboratories, Dr. Bhavna Bansal menjelaskan peralatan plastik yang sering kita gunakan di dapur bisa meningkatkan risiko kesehatan karena mengandung Bisphenol A (BPA). BPA adalah bahan kimia yang digunakan dalam pembuatan botol dan wadah plastik, dan diketahui dapat mengganggu keseimbangan hormon serta menurunkan sistem imun jika terpapar terus-menerus. Oleh karena itu, penting untuk mulai beralih ke wadah bebas BPA atau menggunakan bahan alami seperti kaca, baja tahan karat, atau bambu agar lebih aman dan ramah lingkungan.

3. Gula rafinasi (refined sugar)

Selain membuat makanan terasa manis, gula rafinasi ternyata juga bisa mempercepat pertumbuhan sel kanker. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa konsumsi gula berlebihan dapat meningkatkan kadar insulin dan menciptakan kondisi tubuh yang mendukung perkembangan sel kanker. Fakta ini menjadi pengingat untuk mulai mengurangi asupan gula tambahan dan menggantinya dengan pemanis alami seperti madu, stevia, atau buah segar.

4. Daging olahan (processed meat)

Sosis, nugget, bakso dan berbagai daging olahan lainnya memang praktis dan lezat, tapi di balik itu tersimpan risiko serius. Proses pengawetan daging menggunakan nitrat dan nitrit dapat menghasilkan senyawa berbahaya bernama nitrosamin di dalam tubuh. Senyawa ini dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker, terutama kanker usus besar (kolorektal). Oleh karena itu, konsumsi daging olahan sebaiknya dibatasi dan diganti dengan sumber protein yang lebih sehat, seperti ikan, tahu, tempe, atau daging segar tanpa pengawet.

5. Makanan kaleng

Makanan kaleng memang praktis, tapi sebagian produk masih menggunakan lapisan dalam kaleng yang mengandung BPA. Zat ini bisa larut ke dalam makanan, terutama jika kaleng terkena panas atau berisi makanan asam. BPA telah lama diperdebatkan karena dugaan kaitannya dengan gangguan hormon dan peningkatan risiko kanker. Untuk lebih aman, pilih produk bebas BPA atau beralih ke bahan segar dan masakan rumah. Selain lebih sehat, rasanya juga jauh lebih nikmat!

6. Aluminium foil

Aluminium foil sering digunakan untuk memanggang, membungkus, atau menyimpan makanan. Namun, jika digunakan untuk membungkus makanan asam (seperti tomat atau lemon), kandungan aluminium dapat larut dan masuk ke dalam makanan. Paparan aluminium dalam jumlah tinggi dikaitkan dengan gangguan kesehatan jangka panjang, termasuk peningkatan risiko kanker. Agar lebih aman, gunakan kertas roti (baking paper) atau wadah kaca tahan panas sebagai alternatif saat memasak.