Studi: ChatGPT Lebih Sering Dipakai untuk Urusan Pribadi Ketimbang Pekerjaan
Chatbot ChatGPT dari OpenAI ternyata tidak begitu sering dipakai untuk membantu pekerjaan pengguna.
Hal itu cukup melenceng dari saat chatbot ini dirilis oleh OpenAI pada November 2022, di mana ChatGPT dipromosikan sebagai alat penunjang produktivitas yang bisa membantu mengerjakan tugas seperti membalas e-mail atau menulis memo.
Ketimbang urusan kerja, ChatGPT justru lebih sering dipakai untuk untuk membantu kehidupan pribadi pengguna. Temuan ini terungkap dalam makalah yang dipublikasikan OpenAI baru-baru ini.
Menurut makalah itu, nyaris separuh percakapan yang berlangsung di ChatGPT pada Juni 2024, berkaitan dengan pekerjaan. Namun pada Juni 2025, jumlahnya terhitung turun jadi sekitar seperempat saja.
Penurunan itu bukan berarti bahwa orang-orang makin jarang pakai ChatGPT, melainkan penggunaannya yang agak berubah. Dari semula meminta chatbot untuk menjawab pertanyaan terkait pekerjaan, menjadi tentang kehidupan sehari-hari.
"Sebagian besar percakapan berfokus pada tugas sehari-hari seperti mencari informasi dan panduan praktis," demikian keterangan pada makalah itu yang juga dikutip di situs resmi OpenAI.
Lebih spesifik, percakapan non-pekerjaan pada Juni 2024 adalah sebesar 53 persen dari total percakapan di ChatGPT. Jumlahnya naik menjadi 73 persen pada Juni 2025.
Makalah yang disusun oleh National Bureau of Economic Research (NBER) bersama peneliti dari OpenAI, Duke University, dan Harvard University itu juga menyebutkan bahwa ada sekitar 700 juta pengguna aktif mingguan ChatGPT di seluruh dunia.
Mereka mengirimkan lebih dari 2,5 miliar pesan per hari atau sekitar 29.000 pesan per detik. Jumlah itu pula yang dijadikan salah satu acuan data dalam studi ini.
Pengguna suka minta wejangan ke ChatGPT
Lebih lanjut makalah ini juga merinci pola penggunaan ChatGPT oleh pengguna yang terbagi dalam tiga kategori yaitu Asking (bertanya), Doing (melakukan) dan Expressing (berekspresi). Studi terkait ini didasarkan pada isi perintah atau pesan pengguna.
Dari total pesan yang diterima chatbot OpenAI, sebanyak 49 persen di antaranya adalah pertanyaan. Hal ini dimaknai bahwa pengguna memposisikan ChatGPT sebagai penasihat, bukan hanya asisten yang membantu menyelesaikan tugas.
Ilustrasi chatbot AI ChatGPT dan manusia.
Kategori Doing mencapai persentase besar pula, sekitar 40 persen. Penggunaan ini mencakup interaksi pengguna dengan ChatGPT yang terkait dengan tugas seperti menyusun teks, merencanakan atau memprogram sesuatu hingga menyelesaikan tugas sederhana.
Sementara itu, kategori Expressing mencapai 11 persen. Dalam kategori ini, pengguna tidak meminta ChatGPT untuk melakukan apa-apa, melainkan hanya sekedar mengeksplor sesuatu, bercengkrama, bermain dan lain sebagainya, sebagaimana dirangkum KompasTekno, Rabu (17/9/2025).
Pengguna "feminin" meningkat
Dalam studi yang sama, terungkap bahwa populasi pengguna ChatGPT dari kalangan wanita meningkat. Pada Januari 2024, persentase pengguna kategori ini adalah 37 persen. Namun per Juli 2025, jumlahnya naik menjadi 52 persen.
Akan tetapi, perlu dicatat bahwa kalkulasi tersebut diklasifikasikan berdasarkan nama pengguna yang dibagi atas nama maskulin dan feminin, bukan berdasarkan gender masing-masing pengguna sebenarnya, dihimpun KompasTekno dari situs resmi OpenAI.
Di saat situasi tidak menentu, Kompas.com tetap berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update terkini dan notifikasi penting di Aplikasi Kompas.com.