Terbukti Bersalah, Dokter Priguna Divonis 11 Tahun Penjara atas Kasus Pencabulan di RSHS Bandung

Dokter Priguna Divonis 11 Tahun Penjara atas Kasus Pencabulan di RSHS Bandung
Dokter Priguna Divonis 11 Tahun Penjara atas Kasus Pencabulan di RSHS Bandung

 Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Bandung menjatuhkan vonis 11 tahun penjara dan denda Rp100 juta kepada terdakwa dokter Priguna Anugrah Pratama, dalam sidang pembacaan putusan yang digelar Rabu, (5/11/2025) sore

Dalam putusan yang dibacakan oleh Hakim Ketua Lingga Setiawan, didampingi dua hakim anggota, majelis menyatakan bahwa dokter Priguna terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pencabulan terhadap pasien dan keluarga pasien di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung.

Dokter Priguna dalam kasus pelecehan seksual di RSHS, Bandung

Hakim menilai perbuatan terdakwa merupakan bentuk penyalahgunaan profesi yang seharusnya memberikan perlindungan dan rasa aman kepada pasien. 

“Tindakan terdakwa merupakan tipu muslihat yang dilakukan dengan menggunakan obat bius untuk melampiaskan nafsu bejatnya kepada korban,” kata  hakim dalam persidangan.

Selain pidana badan, majelis hakim juga menghukum Priguna untuk membayar restitusi senilai Rp137.879.000 kepada tiga korban, sebagai bentuk ganti rugi atas perbuatan yang dilakukan.

Usai pembacaan putusan, kuasa hukum terdakwa, Aldi Rangga Adiputra, menyatakan akan mempertimbangkan langkah hukum selanjutnya. 

“Kami masih pikir-pikir apakah akan mengajukan banding atau tidak,” kata Aldi.

Ia menambahkan, dalam pledoi sebelumnya, Priguna telah menyampaikan bahwa perbuatannya terjadi karena tekanan dan stres berat yang dialami akibat perlakuan senior di lingkungan kerja RSHS Bandung, serta adanya kelalaian pihak rumah sakit.

Sementara itu, kuasa hukum korban, Fredi Panggabean, menyambut baik putusan majelis hakim dan menilai hukuman tersebut sudah sepadan dengan perbuatan terdakwa.

Baik jaksa penuntut umum (JPU) maupun pihak terdakwa diberikan waktu oleh majelis hakim untuk mempertimbangkan langkah hukum lanjutan. (Laporan Cepi Kurnia, tvOne, Bandung)