Tradisi dan Mitos Selasa Kliwon, Salah Satu Hari Sakral dalam Kalender Jawa

kalender jawa, weton, Selasa Kliwon, Mitos Selasa Kliwon, weton Selasa Kliwon, tradisi Selasa Kliwon, malam Selasa Kliwon, mitos meninggal selasa kliwon, Tradisi dan Mitos Selasa Kliwon, Salah Satu Hari Sakral dalam Kalender Jawa, Menghindari Acara Pemakaman pada Hari Selasa Kliwon, Menjaga Makam Orang yang Meninggal pada Selasa Kliwon, Waktu Pelaksanaan Ritual di Pantai Selatan, Pelaksanaan Bersih Desa dan Tradisi Dhukutan

Malam ini adalah malam Selasa Kliwon yang dimulai sejak malam 3 November 2025.

Adapun weton yang berlaku malam ini mengikuti weton esok hari dalam kalender Masehi, yaitu Selasa, 4 November 2025.

Berbeda dengan kalender Masehi yang menghitung pergantian hari pada pukul 24.00, kalender Jawa memulai hitungan harinya sejak matahari terbenam atau saat waktu surup.

Waktu surup yang juga dikenal dengan sebutan sandekala dipandang sebagai momen sakral yang sering dikaitkan dengan kehadiran hal-hal gaib.

Sehingga, malam Selasa Kliwon akan dimulai pada sore hari setelah waktu surup hingga esok ketika matahari mulai terbit.

Mengenal Weton Selasa Kliwon

Dalam tradisi Jawa, weton adalah perpaduan antara hari dan pasaran yang diyakini memiliki pengaruh spiritual terhadap perjalanan hidup seseorang.

Salah satu hari yang dianggap istimewa adalah Selasa Kliwon, gabungan dari hari Selasa dengan nilai neptu 3 dan pasaran Kliwon dengan nilai 8, sehingga totalnya menjadi 11.

Menurut primbon Jawa, Selasa Kliwon dipercaya memiliki energi besar dan kekuatan magis yang kuat.

Karena itu, masyarakat Jawa yang masih berpegang pada tradisi sering menjadikannya acuan untuk menentukan waktu pelaksanaan kegiatan penting.

Tradisi di Malam Selasa Kliwon

Dalam tradisi Jawa, malam Selasa Kliwon diyakini sarat makna spiritual, dan dianggap hari sakral dan dikeramatkan karena kepercayaan turun-temurun dari nenek moyang.

Beberapa tradisi mengungkap bahwa hitungan weton Selasa Kliwon banyak menjadi pertimbangan untuk melakukan atau tidak melakukan ritual tertentu.

Menghindari Acara Pemakaman pada Hari Selasa Kliwon

Dilansir dari TribunSolo.com, kepercayaan terkait Selasa Kliwon juga diungkap oleh pegiat sejarah dan budaya Jawa, R. Surojo. 

Hal ini terkait dengan waktu pemakaman Sinuhun Pakubuwono XIII yang tidak dilaksanakan pada hari Selasa Kliwon (4/11/2025) melainkan pada Rabu Legi (5/11/2025).

Surojo menduga pemilihan hari Rabu bukan tanpa alasan. Menurutnya, hari Selasa yang bertepatan dengan pasaran Kliwon sengaja dihindari karena dianggap tidak baik untuk prosesi pemakaman.

“Kalau orang Jawa, ora ilok (tidak baik) memakamkan pada Selasa Kliwon,” ujar Surojo kepada TribunSolo.com, Minggu (2/11/2025).

Ia menjelaskan, dalam keyakinan masyarakat Jawa, Selasa Kliwon kerap dikaitkan dengan hari yang angker karena diyakini menjadi waktu turunnya energi besar alam gaib.

“Makanya, untuk acara seperti pemakaman, orang tua dulu menghindari Selasa Kliwon,” katanya.

Sebaliknya, hari Rabu Legi yang dipilih untuk pemakaman dipercaya membawa makna baik.

“Rabu itu pasaran Legi, artinya manis. Jadi kalau dikebumikan hari itu, harapannya mendapat manisnya kubur, kubur yang tenteram, damai, dan baik bagi arwahnya,” jelas Surojo.

Ia menambahkan, pemilihan hari dan pasaran dalam tradisi Jawa bukan sekadar hitungan tanpa makna, melainkan bentuk penghormatan kepada leluhur serta keseimbangan antara dunia lahir dan batin.

“Apalagi untuk raja, setiap hari dan pasaran diperhitungkan betul agar selaras dengan tatanan Jawa,” pungkasnya.

Menjaga Makam Orang yang Meninggal pada Selasa Kliwon

Dilansir dari Tribunnews.com, terdapat kepercayaan bahwa apabila seseorang meninggal pada hari Selasa Kliwon maka perlu dijaga kuburannya. 

Bagi penganut ilmu hitam, jenazah yang meninggal pada Selasa Kliwon dipercaya bisa dijadikan jimat atau mahar pesugihan.

Hal ini membuat sejumlah daerah pernah mengalami kasus makam dibongkar, tali pocong hilang, hingga jenazah lenyap.

Di Gunungkidul, Yogyakarta, misalnya, warga Desa Karangwuni, Kecamatan Rongkop, selalu berjaga di makam warganya yang meninggal tepat pada Selasa Kliwon.

Penjagaan dilakukan untuk mengantisipasi gangguan atau pencurian jenazah oleh pihak yang berniat buruk.

Kepala Desa Karangwuni, Suparta, mengatakan, “Kalau di desa kami biasanya ditunggui seminggu atau sampai 7 hari setelah meninggal, tetapi ada yang sampai 40 hari.”

Ia menjelaskan, warga menunggui makam karena percaya jenazah yang meninggal di malam Selasa Kliwon sering dicuri hewan liar.

“Sampai saat ini memang belum ada peristiwa pencurian jenazah, tetapi warga mengantisipasi,” ucapnya.

“Warga berada di kuburan karena menunggu jenazah yang baru dikubur, acara ini dilaksanakan untuk antisipasi hewan liar,” kata seorang warga bernama Sunyoto.

Sementara itu, Kapolsek Rongkop AKP Hendra Prastawa menyebut, pihaknya turut membantu kegiatan warga tersebut.

“Sudah menjadi kebiasaan di Dusun Teken, setiap ada yang meninggal, warga menunggu di kuburan sampai 7 hari secara bergantian,” ujarnya.

Beberapa masyarakat juga meyakini, istilah “hewan liar” yang dimaksud bisa jadi merupakan jelmaan orang yang sedang mendalami ilmu hitam.

Waktu Pelaksanaan Ritual di Pantai Selatan

Dilansir dari laman Intisari, sebagian masyarakat Yogyakarta juga masih menganggap hari Selasa Kliwon memiliki nilai sakral. 

Pada malam itu, warga biasa melakukan ritual di Sela Sengker, kawasan Cepuri di PAntai Parangkusumo sebagai bentuk penghormatan kepada penunggu gaib di tempat tersebut.

Menurut para pelaku ritual, penunggu itu harus diberi sesajen karena dipercaya sebagai wakil dari Kanjeng Gusti Ratu Kidul, yang diyakini berkuasa di wilayah laut selatan.

Masyarakat percaya bahwa dengan melaksanakan ritual ini, segala keinginan dapat terkabul. Prosesi dijalankan dalam suasana mistis yang kental dengan tradisi kejawen

Pelaksanaan Bersih Desa dan Tradisi Dhukutan

Dilansir dari laman Kabupaten Karanganyar, di Dusun Nglurah, Kelurahan Tawangmangu, setiap Selasa Kliwon Wuku Dukut akan digelar tradisi Dhukutan. 

Tradisi ini dilakukan sebagai bentuk bersih desa dan peringatan hari pernikahan Kyai Menggung dengan Nyi Rasa Putih.

Warga menyiapkan sesaji dari palawija, sayur, dan nasi jagung, tanpa menggunakan beras dan tanpa mencicipi masakan.

Semua sesaji dikumpulkan di rumah sesepuh untuk didoakan, lalu dikirab menuju Candi Menggung sebagai puncak ritual.

Di candi, dua kelompok warga membawa sesaji dan mengelilingi candi tiga kali. Pada putaran keempat, sisa sesaji digunakan untuk tawur atau adu sesaji oleh dua “jago” desa, melambangkan pertarungan antara Kyai Menggung dan Nyi Rasa Putih.

Kyai Menggung sendiri talah lama dipandang sebagai dhanyang pelindung Desa Nglurah.

Setelah itu, acara ditutup dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk.

Bagi warga, tradisi Dhukutan danggap penting karena menjadi ungkapan syukur dan permohonan keselamatan.

doanya dibacakan menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an agar tetap sejalan dengan ajaran Islam.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.