Dukung Ekspor Nasional, Teknologi Baru Ini Percepat Uji Mutu Produk F&B

Ilustrasi minimarket.
Ilustrasi minimarket.

 Perkembangan teknologi di sektor industri makanan dan minuman (F&B) semakin pesat. Pelaku usaha kini memiliki lebih banyak pilihan untuk memastikan keamanan dan kualitas produknya sebelum beredar di pasaran. 

Salah satu inovasi yang menarik perhatian datang dari ajang Trade Expo Indonesia (TEI) 2025 di ICE BSD, Tangerang, yang menghadirkan teknologi pengujian pangan berakurasi tinggi untuk mendukung efisiensi proses produksi.

Penyedia layanan pengujian laboratorium, Alvalab, memperkenalkan alat uji kadaluwarsa dan kandungan gizi pangan berakurasi 99,5 persen bernama Climatic Chamber ASLT (Accelerated Shelf Life Testing). 

Teknologi ini memungkinkan produsen makanan dan minuman mengetahui masa kadaluwarsa, stabilitas, serta kandungan gizi dan mikrobiologi produk dalam waktu lebih singkat dibanding metode konvensional.

“Alat ini kami datangkan langsung dari Eropa. Bentuknya menyerupai lemari pendingin satu pintu, namun dilengkapi sistem pemantauan suhu, kelembaban, dan cahaya yang dapat disesuaikan untuk simulasi kondisi penyimpanan berbagai jenis produk,” ujar Head of Sales and Marketing Alvalab, Jonathan A. Widakdo, sebagaimana dikutip dari siaran pers, Kamis, 23 Oktober 2025.

Jonathan menjelaskan, proses pengujian dilakukan dengan memasukkan sampel produk ke dalam alat tersebut selama jangka waktu minimum 30 hari hingga maksimal 60 hari, tergantung jenis produknya. 

Hasil pengujian mencakup laporan komprehensif mengenai umur simpan, perubahan fisik dan rasa, hingga potensi paparan mikrobiologi.

“Sebagai contoh, ketika sebuah perusahaan meluncurkan produk permen dengan varian rasa baru, maka sebelum mendapatkan izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), produk tersebut wajib diuji oleh lembaga independen," jelasnya. 

"Kami memberikan analisis objektif mengenai kelebihan dan kekurangan produk sebelum diserahkan ke otoritas terkait yang bisa dipertanggung jawabkan dengan sertifikat analisa atau biasa disebut CoA,” tambahnya.

Lebih lanjut, Jonathan menuturkan bahwa hasil pengujian dari lembaganya telah diakui secara luas oleh berbagai pelaku industri, terutama bagi perusahaan yang menargetkan ekspor. 

“Banyak produk ekspor yang melampirkan sertifikat hasil uji lab dari kami karena tingkat akurasinya sangat tinggi dan telah memenuhi standar internasional. Laboratorium kami sudah berakreditasi ISO 17025 serta diakui oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN) dan BPOM,” ungkapnya.

Untuk memperluas jangkauan layanan, perusahaan tersebut juga membuka sistem drop point dan pengiriman sampel dari empat kota besar, yakni Jakarta, Surabaya, Lampung, dan Pontianak. Pelaku usaha dapat mengirimkan produk melalui jasa ekspedisi disertai dokumen pendukung seperti Nomor Wajib Pajak (NPWP), Nomor Induk Berusaha (NIB), dan Surat Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak (SPPKP).

“Setelah pendaftaran, kami akan memberikan akses akun khusus berupa username dan password agar klien dapat memantau seluruh tahapan pengujian secara real time, mulai dari penerimaan sampel hingga terbitnya hasil analisa,” kata Jonathan.

Selain layanan pengujian, lembaga tersebut juga memberikan konsultasi gratis bagi pelaku usaha, terutama UMKM, untuk membantu mereka memahami standar mutu produk di pasar domestik maupun global. 

“Kami ingin mendorong lebih banyak produk Indonesia agar dapat memenuhi syarat ekspor dengan harga uji laboratorium yang terjangkau, mulai dari Rp100 ribu hingga jutaan rupiah, tergantung kompleksitas jenis pengujian,” tambahnya.

Tak hanya fokus pada produk pangan, pengujian juga mencakup sektor agrikultur, rempah, essential oil, serta produk impor. Langkah ini menjadi bagian dari upaya menjaga keamanan dan kualitas produk yang beredar di pasar. 

“Hingga saat ini, sudah ribuan produk dari berbagai sektor yang kami uji demi menjamin kenyamanan dan keamanan konsumen,” tegas Jonathan.

Kehadiran teknologi uji pangan seperti Climatic Chamber ASLT di TEI 2025 dinilai mendukung peningkatan mutu industri nasional sekaligus memperkuat daya saing ekspor Indonesia di pasar global.

Sebagai catatan, Menteri Perdagangan RI Budi Santoso menyampaikan bahwa hingga hari kedua penyelenggaraan TEI 2025, total nilai transaksi sementara telah mencapai US$17,27 miliar atau setara Rp286 triliun. Nilai tersebut mencerminkan besarnya potensi ekspor produk Indonesia di berbagai sektor, termasuk makanan dan minuman.