Ingin Jadi Kelas Atas di 2030? Segini Kekayaan Minimum yang Harus Dimiliki

Ilustrasi orang kaya
Ilustrasi orang kaya

Mimpi menjadi bagian dari kelas atas bukan lagi sekadar angan-angan. Dengan biaya hidup yang terus meningkat dan standar gaya hidup yang semakin tinggi, batas untuk disebut “upper class” pun ikut naik. 

Banyak orang merasa nyaman dengan tabungan atau aset sederhana, namun untuk resmi masuk kategori kelas atas, diperlukan perhitungan dan strategi keuangan yang matang.

Ahli keuangan menekankan bahwa kekayaan bersih akan menjadi tolok ukur utama. Bukan hanya sekadar merasa cukup, tetapi benar-benar memiliki standar finansial yang membuat seseorang berada di tingkat sosial-ekonomi yang tinggi. 

Dalam beberapa tahun terakhir, harga properti dan aset lain melonjak pesat, yang memengaruhi target kekayaan di masa depan.

Menurut Rami Sneineh, produsen asuransi berlisensi dan wakil presiden Insurance Navy, definisi kelas atas diproyeksikan berubah drastis pada 2030. Untuk masuk ke kelas atas, seseorang diperkirakan akan memerlukan kekayaan bersih minimal US$5 juta, atau setara Rp82,5 miliar, berbeda jika dibandingkan kondisi saat ini yang sekitar US$3,5 juta atau Rp57,75 miliar.

“Perubahan ini sangat dipengaruhi oleh inflasi, apresiasi aset, serta perubahan distribusi kekayaan,” kata Sneineh, seperti dikutip dari Go Banking Rate, Jumat, 17 Oktober 2025. “Tolok ukur yang terus meningkat ini dapat dilihat dari kenaikan harga properti antara 20 sampai 40 persen di berbagai wilayah utama pada 2020 hingga 2025,” ujarnya. 

Menabung Saja Tidak Cukup

Ilustrasi menyisihakan uang untuk menabung dan dana darurat

Sneineh menekankan bahwa untuk mencapai target ini dalam lima tahun ke depan, menabung saja tidak akan cukup. Strategi yang paling efektif adalah melalui investasi. 

Menurut U.S. News & World Report, pasar saham tetap menjadi salah satu cara paling nyata untuk menjadi jutawan.

“Pertimbangkan alternatif selain saham dan obligasi, seperti properti di negara berkembang, bahkan perusahaan teknologi sebelum IPO, yang telah memberikan dividen besar bagi investor cerdas,” tambah Sneineh. 

Ia menjelaskan bahwa semua opsi ini memang memiliki risiko, tetapi imbal hasilnya sangat besar bagi mereka yang memahami pasar dan mengambil keputusan cepat.

Selain itu, strategi lain untuk mempercepat masuk kelas atas adalah dengan membangun berbagai sumber pendapatan. Mulai dari side hustle, investasi pasif, hingga bisnis digital, properti, e-commerce, atau layanan otomatis.

“Ini adalah pendekatan diversifikasi dalam penciptaan kekayaan yang tidak meninggalkan peluang apa pun, dan inilah yang membuat orang mencapai kelas atas lebih cepat dibandingkan mereka yang hanya mengandalkan satu sumber penghasilan,” jelas Sneineh.

Untuk tetap unggul dalam ekonomi yang cepat berubah, Sneineh menekankan perlunya bersikap proaktif, selalu mendapat informasi, dan siap mengambil keputusan finansial berani.

Menjadi bagian dari kelas atas pada 2030 bukan sekadar menabung atau menyimpan uang. Dengan tolok ukur kekayaan bersih yang diproyeksikan mencapai US$5 juta atau Rp82,5 miliar, strategi investasi yang cerdas, diversifikasi pendapatan, dan keberanian dalam pengambilan keputusan finansial menjadi kunci.

Berita baiknya, target ini tidak harus dicapai dalam semalam. Dengan momentum yang konsisten, risiko yang diperhitungkan, dan pola pikir yang jauh melampaui tabungan tradisional, seseorang bisa tidak hanya mengikuti kenaikan standar hidup, tetapi juga menjadi lebih unggul dan sukses secara finansial.