Gara-gara Aturan Baru Pemprov Jabar, Sampah Menumpuk di Kota Bandung hingga 4.000 Ton
Kota Bandung kembali menghadapi darurat sampah setelah kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) mengubah sistem pembuangan sampah ke TPA Sarimukti dari ritase menjadi tonase.
Perubahan ini berdampak langsung pada berkurangnya kuota pembuangan sampah dari Kota Bandung, yang kini semakin terbatas.
Kondisi semakin pelik karena TPA Sarimukti juga menutup operasional setiap hari Minggu, sehingga volume sampah yang menumpuk terus meningkat.
Kebijakan tersebut tertuang dalam surat edaran Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor: 6174/PBLS.04/DLH tertanggal 1 Agustus 2025 tentang Peringatan dan Pembatasan Pembuangan Sampah ke TPAS. Berdasarkan catatan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung, estimasi penumpukan sampah di kota ini telah mencapai 4.000 ton.
"Saat ini estimasi penumpukan sudah mencapai 4.000 ton, dan akan terus bertambah kalau tidak ada upaya apapun," ujar Kepala Bidang Pengelolaan Persampahan dan Limbah B3 DLH Kota Bandung, Salman Faruq, Minggu (12/10/2025).
Mengapa kuota pembuangan sampah berkurang?
Salman menjelaskan bahwa dengan sistem baru berbasis tonase, Kota Bandung kini hanya diizinkan membuang 981 ton sampah per hari ke TPA Sarimukti.
Jumlah itu jauh lebih sedikit dibandingkan kapasitas sebelumnya yang mencapai 1.200 ton per hari. Akibat pengurangan tersebut, sekitar 200 hingga 300 ton sampah setiap harinya tidak dapat terangkut.
Penumpukan signifikan terjadi di sejumlah titik, termasuk TPS Ciwastra yang menampung hingga 250 meter kubik per hari, serta di beberapa pasar seperti Pasar Cihapit.
Meski begitu, DLH berupaya menangani penumpukan tersebut secara bertahap agar tidak mengganggu aktivitas masyarakat.
"Kami sudah melakukan berbagai langkah agar penumpukan tidak meluas, termasuk mengoptimalkan pengangkutan dan pemilahan di tingkat TPS," tambah Salman.
Aktivitas pembungaan sampah di TPA Sarimukti, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.
Apa langkah Pemkot Bandung mengatasi krisis sampah ini?
Pemerintah Kota Bandung kini menempuh berbagai langkah untuk mengantisipasi dampak dari kebijakan pembatasan pembuangan ini.
Salah satu strategi utama adalah memperkuat peran serta masyarakat dalam mengurangi dan mengelola sampah dari sumbernya.
Selain itu, Pemkot Bandung juga akan menambah jumlah insinerator sebagai solusi alternatif pengolahan sampah.
Insinerator merupakan alat pembakaran limbah padat dengan suhu tinggi untuk mengurangi volume, massa, dan sifat berbahaya dari sampah.
"Ada penambahan insinerator di 2025 ini melalui anggaran kecamatan dan DLH," kata Salman. Ia menambahkan, enam unit insinerator baru akan dipasang di Kecamatan Sukasari, Mandalajati, dan Rancasari. Setiap unit ditargetkan mampu mengolah hingga 10 ton sampah per hari.
Apakah insinerator aman bagi lingkungan?
Salman memastikan, penggunaan insinerator di Kota Bandung dilakukan sesuai dengan standar yang ditetapkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
"Insinerator yang dipasang di kewilayahan berjalan sesuai baku mutu atau standar yang telah ditentukan oleh Kementerian LH, sehingga tidak mencemari lingkungan, khususnya udara," ujarnya.
Saat ini, Kota Bandung sudah memiliki enam hingga tujuh unit insinerator aktif di berbagai wilayah, termasuk Kecamatan Bandung Kulon, TPS Patrakomala, dan Babakan Sari.
Menurut Salman, kapasitas setiap insinerator berbeda-beda dan pengelolaannya bisa dilakukan langsung oleh pemerintah maupun melalui kerja sama dengan pihak swasta.
"Insinerator yang ramah lingkungan merupakan solusi yang cukup signifikan untuk menanggulangi keadaan saat ini," tutur Salman. Ia menegaskan bahwa teknologi termal seperti insinerator menjadi opsi penting untuk mengatasi keterbatasan kuota pembuangan ke TPA Sarimukti.
Salman menjelaskan bahwa penggunaan insinerator sudah diatur oleh Kementerian LHK melalui surat edaran yang memuat syarat dan kriteria penerapan teknologi tersebut di daerah. Salah satu acuannya adalah Permen LHK Nomor 70 Tahun 2016 tentang Baku Mutu Emisi.
Sebagian artikel ini telah tayang di TribunJabar.id dan Kompas.com dengan judul "Kota Bandung Bersiap Hadapi Darurat Sampah, Apa Saja Langkahnya?".
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.