Grey Divorce Bisa Picu Depresi, Ini Penyebabnya pada Pasangan Lanjut Usia
Grey divorce adalah perceraian yang terjadi pada pasangan berusia lebih dari 50 tahun dengan masa pernikahan lebih dari 20 tahun. Namun, benarkah perceraian ini tidak berdampak secara psikologis?
Hal ini karena keduanya telah mengalami pasang surut kehidupan sehingga dianggap lebih “tahan banting” ketika dihadapkan pada situasi seperti perceraian.
Simak penjelasan psikolog berikut ini.
Pasangan lanjut usia berisiko depresi karena grey divorce
1. Perceraian sepihak
Benarkah pasangan yang bercerai saat usia matang (grey divorce) bisa mengalami depresi? Simak penjelasan psikolog berikut ini.
Psikolog klinis sekaligus pendiri Cup of Stories, Fitri Jayanthi, M.Psi. membantah anggapan tersebut. Setiap orang yang mengalami perceraian, termasuk grey divorce, bisa terganggu secara psikologis, bahkan berisiko mengidap depresi.
“Dan memang bisa meningkatkan risiko depresi pada individu, terutama untuk orang-orang yang memang tidak mau melakukan perceraian,” ucap Fitri, Selasa (7/10/2025).
Tidak semua perceraian terjadi karena keinginan suami dan istri. Ada perceraian yang terjadi secara sepihak, yang mana dampak psikologisnya berisiko membuat mereka depresi.
Pasalnya, mereka merasa ditinggalkan, diabaikan, dan bahkan tidak diinginkan lagi. Padahal, keduanya sudah bersama selama beberapa dekade, yang mana waktu tersebut tidaklah singkat.
- Baca juga:
2. Pernikahan adalah pusat kehidupan
Benarkah pasangan yang bercerai saat usia matang (grey divorce) bisa mengalami depresi? Simak penjelasan psikolog berikut ini.
Penyebab lainnya pasangan lanjut usia berisiko depresi setelah bercerai adalah karena menjadikan pernikahan sebagai pusat kehidupannya.
“Dia sudah melekat banget peran sebagai suami siapa, istri siapa, ayah siapa, atau ibunya siapa sehingga ketika bercerai langsung timbul kondisi syok berat karena semua peran itu hilang,” jelas Fitri.
3. Terbiasa bersama
Benarkah pasangan yang bercerai saat usia matang (grey divorce) bisa mengalami depresi? Simak penjelasan psikolog berikut ini.
Penyebab selanjutnya adalah karena mereka sudah terbiasa selalu bersama-sama dalam melakukan sesuatu ketika masih berkeluarga.
Karena terbiasa, keduanya menjadi support system satu sama lain. Namun, karena satu dan lain hal, keduanya memutuskan untuk berpisah di usia matang. Masing-masing jadi kehilangan support system.
“Sehingga mereka harus memulai hidup sendiri, memulai lagi untuk mencari support system baru (seperti pertemanan), ditambah misalnya mereka harus pindah rumah atau memulai lagi dari awal. Itu yang membuat timbulnya depresi,” kata Fitri.
Memulai tahap kehidupan baru
Benarkah pasangan yang bercerai saat usia matang (grey divorce) bisa mengalami depresi? Simak penjelasan psikolog berikut ini.
Psikolog klinis dewasa Diandra Ayu Citi Wardhani, M.Psi. mengatakan, memulai tahap kehidupan baru juga bisa menyebabkan pasangan lanjut usia depresi setelah bercerai.
“Biasanya, menjelang atau setelah bercerai, mengalami ketakutan atau kekhawatiran berlebih tentang kehidupan setelah perceraian,” ujar Diandra yang berpraktik di lembaga Ibunda.id dan Pusat Penguatan Karakter dan Konseling (P2K2) Universitas Padjadjaran ini, Rabu (8/10/2025).
Kekhawatiran mencakup penilaian orang lain terhadap mereka, serta stigma terhadap duda dan janda, terutama jika pasangan ini sudah memiliki anak.
Krisis ekonomi pasca-perceraian
Untuk suami atau istri yang sebelumnya tidak bekerja, alias bapak atau ibu rumah tangga, Diandra mengatakan bahwa mereka bisa mengalami depresi setelah bercerai karena krisis ekonomi.
“Ada krisis ekonomi tentang bagaimana menyesuaikan diri untuk tetap melanjutkan hidupnya dengan masalah ekonomi itu. Dan ini juga biasanya berpengaruh pada kepercayaan diri,” tutur psikolog yang juga berpraktik di Telkom University.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.