Jangan Sepelekan Kurang Tidur dan Banyak Duduk, Bisa Sebabkan Demensia di Usia Tua
Durasi istirahat yang tidak tepat memiliki peran besar terhadap kemungkinan seseorang mengalami demensia, termasuk penyakit Alzheimer.
Selain itu, sebuah analisis berskala besar baru-baru ini menemukan, lebih banyak menggerakkan tubuh dan mengurangi waktu duduk dapat menurunkan risiko penurunan kognitif di masa depan hingga 25 persen.
Kabar baiknya, penulis utama studi sekaligus peneliti dari York University Kanada, Akinkunle Oye-Somefun, Ph.D., menuturkan bahwa berbagai faktor pemicu tersebut dapat diubah dan sepenuhnya berada dalam kendalimu.
"Hal yang membuat temuan ini sangat meyakinkan adalah betapa konsistennya kaitan tersebut. Dalam skala masyarakat luas, konsistensi ini membawa dampak nyata terhadap cara pandang kita dalam mencegah demensia," tutur dia, mengutip Everyday Health, Senin (13/4/2026).
Kaitan jam tidur dan banyak duduk dengan demensia
Untuk memahami pengaruh gaya hidup terhadap kesehatan saraf di masa depan, para ahli meninjau data dari 69 penelitian jangka panjang.
Riset ini melibatkan jutaan orang dewasa berusia 35 tahun ke atas dengan melacak aktivitas fisik, durasi duduk, serta pola istirahat malam.
Hasil tinjauan terhadap jutaan partisipan
Hasilnya menunjukkan, orang yang rutin berolahraga memiliki risiko 25 persen lebih rendah terkena demensia dibandingkan mereka yang jarang bergerak.
Di sisi lain, tidur kurang dari tujuh jam semalam dikaitkan dengan peningkatan risiko hingga 18 persen, sedangkan terlelap lebih dari delapan jam meningkatkan risiko sekitar 28 persen.
Risiko serupa juga mengintai mereka yang duduk lebih dari delapan jam sehari, dengan peningkatan potensi demensia sebesar 27 persen.
"Ada semakin banyak bukti yang menghubungkan perilaku sehari-hari seperti aktivitas fisik, tidur, dan waktu duduk, dengan kesehatan kognitif," kata asisten profesor epidemiologi di Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health di Baltimore, Amal A. Wanigatunga, Ph.D., MPH.,.
"Apa yang menarik dari penelitian ini adalah ia menyatukan data dari jutaan orang dan menunjukkan pola yang konsisten, yaitu faktor-faktor gaya hidup ini terkait dengan risiko demensia," tambah dia.
Menurut Oye-Somefun, rutinitas bergerak sangatlah penting. Sebab, risiko demensia 25 persen lebih rendah pada mereka yang beraktivitas fisik secara teratur.
Wanigatunga menyetujui pentingnya olahraga, tetapi ia menyoroti bahwa orang yang sudah memenuhi target latihan pun tetap berisiko jika terlalu banyak menghabiskan hari dengan duduk.
"Itu bagian yang lebih baru dari analisis ini, bahwa berapa lama orang menghabiskan waktu duduk secara independen berkaitan dengan risiko," ucap dia.
Peran penting durasi tidur
Saat kamu terlelap, sistem saraf membersihkan produk limbah dan kelebihan protein yang menumpuk sepanjang hari layaknya mesin pencuci piring. Proses ini mencapai puncaknya pada fase tidur nyenyak.
Asisten profesor psikiatri dan neurologi di Yale Medicine di New Haven, Connecticut, AS, dr. Arman Fesharaki-Zadeh, Ph.D., menjelaskan, otak bekerja membuang zat berbahaya seperti amiloid yang memicu penyakit Alzheimer pada fase tersebut.
"Ketika tidur secara konsisten terlalu singkat, sistem pembersihan itu tidak berfungsi dengan baik," ungkap dr. Fesharaki-Zadeh.
Menurutnya, protein ini bisa menumpuk seiring berjalannya waktu dan menjadi penyebab utama kurang tidur kronis, yang berujung pada demensia. Di sisi lain, durasi terlelap yang kelewat panjang juga perlu diwaspadai.
"Tidur yang sangat panjang mungkin merupakan sinyal bahwa ada hal lain yang terjadi di dalam tubuh atau otak, alih-alih penyebab langsung demensia," jelas dr. Fesharaki-Zadeh.
Meski begitu, Oye-Somefun mengingatkan agar temuan ini tidak dijadikan aturan baku. Jika kamu merasa durasi istirahatmu berlebihan, ia menyarankan untuk berkonsultasi dengan dokter.
Bahaya duduk terlalu lama
Wanigatunga menjelaskan bahwa sering bergerak, meski sekadar berdiri, akan melancarkan aliran darah dan menyalurkan oksigen dan nutrisi ke area penting di kepalamu. Kontraksi otot juga melepaskan zat yang mendukung fungsi saraf jangka panjang.
Sebaliknya, kebiasaan menghabiskan waktu yang lama untuk duduk diketahui terkait dengan kondisi penyerta lainnya yang tidak kalah berbahaya.
Penyakit jantung, diabetes, dan peradangan kronis adalah kondisi yang semuanya juga terhubung kuat dengan risiko demensia di hari tua.
Cara mencegah demensia
Guna menjaga fungsi otak jangka panjang, Wanigatunga menekankan pentingnya kedisiplinan dalam membangun perilaku dan kebiasaan sehari-hari yang sehat.
"Mencoba membangun konsistensi terlebih dahulu, dan kemudian mengoptimalkannya nanti, adalah tujuan yang sebenarnya," tutur dia.
Untuk menekan risiko penurunan fungsi otak, dr. Fesharaki-Zadeh menyarankan beberapa kebiasaan sehat. Kamu dianjurkan melakukan senam aerobik minimal 20 menit sehari dan menerapkan pola makan ala Mediterania.
Pastikan juga kamu mendapat istirahat tujuh jam setiap malam dengan jadwal teratur. Terakhir, asah pikiranmu dengan membaca atau melakukan tugas menantang, serta tetaplah aktif bersosialisasi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang