Doa Nabi Muhammad SAW agar Terhindar dari Pikun di Usia Tua
Saat menginjak lanjut usia atau lansia seseorang kerap menghadapi risiko pikun atau demensia, kondisi yang menyebabkan penurunan daya ingat serta fungsi berpikir. Meski tidak semua lansia mengalaminya, data WHO menunjukkan bahwa lebih dari 55 juta orang di dunia menderita demensia, dan hampir 10 juta kasus baru muncul setiap tahun.
Secara medis, demensia disebabkan oleh gangguan pada otak akibat penyakit atau cedera. Risiko meningkat pada usia di atas 65 tahun, serta dipengaruhi oleh faktor seperti hipertensi, diabetes, obesitas, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, kurang aktivitas fisik, isolasi sosial, dan depresi.
Gejalanya bisa berupa kesulitan menyelesaikan masalah, gangguan komunikasi, perubahan emosi, hingga hilangnya kemampuan menjalankan aktivitas harian.
Ilustrasi lansia.
Pandangan Islam tentang Pikun dan Usia Senja
Dalam Islam, fenomena pikun telah disebutkan dalam Al-Qur’an surat An-Nahl ayat 70:
“Allah telah menciptakanmu, kemudian mewafatkanmu. Di antara kamu ada yang dikembalikan pada usia yang tua renta (pikun) sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahakuasa.” (QS An-Nahl: 70)
Mengutip NU Online, menurut Wahbah az-Zuhayli dalam At-Tafsirul Munir, istilah tua renta dalam ayat tersebut menggambarkan kondisi seseorang yang kembali seperti anak-anak, gampang lupa, lemah daya pikir, dan kehilangan kemampuan memahami sesuatu.
Az-Zuhayli menegaskan bahwa pikun adalah bentuk kuasa Allah, yang mengingatkan manusia akan lemahnya daya ingat di usia lanjut sebagai bagian dari perjalanan hidup yang harus disyukuri.
Upaya Medis dan Spiritual untuk Mencegah Demensia
Para ahli medis menyarankan sejumlah langkah untuk mencegah demensia, antara lain menjaga kualitas tidur, berolahraga secara rutin seperti senam otak, hingga menghindari stres dan isolasi sosial. Aktivitas tersebut terbukti dapat menjaga fungsi kognitif dan kebugaran fisik pada lansia.
Selain usaha lahiriah, Islam juga menekankan usaha batiniah melalui doa. Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk memohon perlindungan dari usia tua yang buruk. Doa tersebut berbunyi:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan aku berlindung kepada-Mu dari dikembalikan ke usia yang paling buruk (pikun).” (HR Ibnu Majah)
Dalam riwayat lain dari Al-Bukhari, Rasulullah SAW juga berdoa:
أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبُخْلِ وَالْكَسَلِ وَأَرْذَلِ الْعُمُرِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ وَفِتْنَةِ الدَّجَّالِ وَفِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ
“Aku berlindung kepada-Mu dari sifat kikir, kemalasan, usia yang paling buruk, siksa kubur, fitnah Dajjal, dan fitnah kehidupan serta kematian.” (HR Al-Bukhari)
Hadis ini menunjukkan pentingnya doa setelah shalat agar dijauhkan dari fase pikun yang menyulitkan diri sendiri maupun keluarga.
Menurut Ibnu Ruslan, memohon perlindungan dari fase pikun sangat penting karena kondisi ini bisa menimbulkan kesedihan, gangguan akal, hingga kesulitan beribadah. Senada dengan itu, Saifuddin ad-Dahlawi menegaskan bahwa sebaik-baiknya umur panjang adalah yang diisi dengan ketaatan dan kebahagiaan dalam beribadah.
Sementara itu, al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi menulis bahwa demensia bukan hanya membebani diri sendiri, tetapi juga keluarga. Lebih berat lagi jika penderita tidak memiliki keluarga yang dapat merawatnya.