Menimbun Foto dan File di HP? Bisa Jadi Tanda-tanda Digital Hoarding
Di era serba digital, hampir semua aktivitas meninggalkan jejak berupa file, foto, hingga pesan yang tersimpan di perangkat. Mulai dari ribuan tangkapan layar, dokumen lama, hingga notifikasi yang tak pernah dibuka, semua itu perlahan menumpuk dan memenuhi ruang penyimpanan.
Bagi sebagian orang, kondisi ini sekadar dianggap sebagai “memori penuh”. Namun, para ahli menilai ada dampak yang lebih serius di baliknya. Kebiasaan menyimpan terlalu banyak file digital tanpa pernah mengelolanya bisa memicu stres, mengganggu fokus, hingga menurunkan produktivitas.
Jika dibiarkan, perilaku ini bisa berkembang menjadi gangguan yang dikenal dengan istilah digital hoarding, yaitu kecenderungan untuk menimbun data digital secara berlebihan karena rasa takut kehilangan informasi di kemudian hari.
Lantas apa yang dimaksud dengan digital hoarding? Selengkapnya KompasTekno menguraikan penjelasannya.
Apa itu Digital Hoarding
Fenomena menimbun file digital kini mendapat perhatian serius dari para ahli kesehatan mental. Dirangkum dari laman uclahealth.org, perilaku ini disebut sebagai digital hoarding, yakni kecenderungan menyimpan data digital seperti foto, email, dokumen, hingga artikel dalam jumlah besar tanpa pernah menghapusnya.
Sekilas, perilaku ini tampak sepele, tetapi jika dilakukan terus-menerus, bisa memicu stres, kecemasan, bahkan gangguan perilaku. Menurut Dr. Emanuel Maidenberg, PhD, profesor psikiatri dan ilmu perilaku di David Geffen School of Medicine UCLA sekaligus direktur Cognitive Behavioral Therapy Clinic, digital hoarding adalah “versi baru dari tantangan psikologis lama”.
Ia menekankan bahwa menimbun file digital sebenarnya memiliki pola yang sama dengan menimbun barang fisik. Bedanya, di era modern, teknologi mempermudah penyimpanan data tanpa batas sehingga perilaku menimbun menjadi lebih sulit dikendalikan.
Lebih lanjut, Dr. Maidenberg menjelaskan bahwa perilaku ini biasanya didorong oleh rasa takut kehilangan informasi penting di masa depan. Orang yang mengalami digital hoarding merasa harus menyimpan file, dan jika tidak melakukannya akan muncul perasaan tidak nyaman hingga kecemasan berlebih.
Bahkan, mereka sering kali jarang atau tidak pernah menggunakan kembali file yang sudah disimpan. Perilaku ini mirip dengan gangguan kompulsif, di mana tindakan menyimpan file memberikan rasa lega sementara, tetapi pada akhirnya justru memperkuat kebiasaan menimbun.
Dampak digital hoarding tidak hanya terlihat pada memori perangkat yang cepat penuh atau sulitnya mencari file tertentu. Dirangkum dari uclahealth.org, perilaku ini juga bisa mengganggu produktivitas, menurunkan fokus, hingga memengaruhi hubungan sosial.
Misalnya, seseorang bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mengorganisasi, memeriksa ulang, atau bahkan sekadar memastikan file masih tersimpan. Akibatnya, aktivitas lain yang lebih penting terbengkalai dan memicu siklus stres yang lebih dalam.
Meski sulit dikendalikan, Dr. Maidenberg menekankan bahwa digital hoarding bisa diatasi dengan strategi bertahap. Ia menyarankan untuk mulai menyadari pola kebiasaan, lalu membuat rencana sederhana untuk mengurangi aktivitas menimbun file sedikit demi sedikit.
Jika perilaku ini sudah menimbulkan tekanan berat atau mengganggu fungsi sehari-hari, langkah berikutnya adalah mencari bantuan profesional.
Digital hoarding mengingatkan kita bahwa ruang digital juga perlu dirapikan layaknya ruang fisik. Dengan kebiasaan mengelola file secara rutin, kita bukan hanya menjaga kapasitas perangkat, tetapi juga kesehatan mental dan produktivitas sehari-hari.
Dapatkan update berita teknologi dan gadget pilihan setiap hari. Mari bergabung di Kanal WhatsApp KompasTekno.
Di saat situasi tidak menentu, Kompas.com tetap berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update terkini dan notifikasi penting di Aplikasi Kompas.com.