Tiga Hari, Dua Kasus Keracunan MBG di Bandung Barat: 600 Siswa Jadi Korban
Kabupaten Bandung Barat kembali diguncang kasus keracunan massal dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dalam kurun tiga hari, dua insiden berbeda tercatat menimpa ratusan pelajar dengan total korban lebih dari 600 orang.
Kasus pertama terjadi pada Senin (22/9/2025), menimpa 411 siswa dari sejumlah sekolah. Selang dua hari, insiden serupa kembali muncul di Kecamatan Cipongkor pada Rabu (24/9/2025) dengan sekitar 220 korban.
Ambulans Hilir Mudik Evakuasi Korban
Rabu siang, suasana Cipongkor berubah panik. Ambulans hilir mudik mengangkut pelajar yang mengalami gejala keracunan, mulai dari pingsan, lemas, hingga harus digendong keluarganya.
Puluhan korban lain sementara ditampung di GOR Kecamatan Cipongkor. Ruangan tersebut penuh sesak dengan siswa terbaring di atas tempat tidur lipat, beberapa diinfus, bahkan ada yang memakai alat bantu pernapasan.
"Sampai saat ini mungkin sudah sekitar 220 yang datang. Jumlahnya terus bertambah," kata Kepala Puskesmas Cipongkor, Yuyun Sarihotimah.
Menurut Yuyun, petugas medis kewalahan menghadapi lonjakan pasien. Keterbatasan alat medis seperti infus, oksigen, dan obat-obatan membuat penanganan berlangsung darurat.
"Kami membutuhkan infus, oksigen, obat-obatan segera. Ini kondisinya cukup chaos karena datangnya hampir bersamaan. Petugas medis juga cukup kewalahan," ungkapnya.
Sumber Keracunan dari Dapur Baru
Yuyun menegaskan, kasus Cipongkor berbeda dengan insiden sebelumnya. Jika pada Senin lalu keracunan menimpa 411 siswa dari satu dapur MBG tertentu, maka kasus terbaru berasal dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kampung Pasirsaji, Desa Negalsari, Cipongkor.
"Untuk kasus baru ini berasal dari dapur berbeda. Karena dapur MBG ini masih beroperasi," ujarnya.
Kesalahan Teknis di Dapur MBG
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menduga kesalahan teknis menjadi penyebab utama keracunan di Cipongkor.
“Keterangan awal kan menunjukkan bahwa SPPG itu memasak terlalu awal sehingga masakan terlalu lama,” kata Dadan usai meninjau posko penanganan di Cipongkor, Rabu (24/9/2025).
Dadan menegaskan, distribusi makanan MBG seharusnya tidak lebih dari empat jam setelah selesai dimasak. Karena itu, SPPG baru diminta menyesuaikan jam produksi dan tidak terburu-buru dalam memasak.
“Kita minta agar mereka mulai masak di atas jam setengah dua agar waktu antara masak processing dengan delivery-nya tidak lebih dari 4 jam," jelasnya.
Menurut dia, SPPG yang baru beroperasi sering khawatir makanan tidak selesai tepat waktu sehingga memilih memasak terlalu dini. Padahal, pola memasak dan distribusi merupakan kunci utama agar makanan tetap layak dikonsumsi.
“Oleh sebab itu, salah satu yang saya instruksikan kepada SPPG baru itu ketika memulai, mereka sudah punya daftar penerima manfaat. Katakanlah 3.500 di 20 sekolah, saya meminta agar mereka di awal-awal melayani 2 sekolah dulu. Kemudian setelah terbiasa baru naik ke 4 sekolah, lalu ke 10 sekolah. Setelah bisa menguasai proses, baru bisa memaksimalkan jumlah penerima manfaat," ujarnya.
Evaluasi SPPG dan Trauma Anak
Dadan juga menyoroti kasus serupa yang pernah terjadi di Banggai, Sulawesi Tengah. Di daerah tersebut, kualitas makanan menurun setelah SPPG mengganti pemasok bahan baku secara mendadak.
"Oleh sebab itu, kita instruksikan lagi bagi yang (SPPG) lama agar mau mengganti supplier harus bertahap. Jadi segala sesuatu tidak boleh berubah secara drastis,” ujarnya.
BGN kini meminta seluruh SPPG yang terlibat kasus, termasuk di Cipongkor, menghentikan distribusi MBG sementara waktu.
“Kami juga minta setop dulu sampai mereka bisa membiasakan dan melakukan analisis mendetail terkait dengan pelayanan," tambahnya.
Selain aspek teknis, Dadan menekankan pentingnya pemulihan psikologis bagi para siswa yang terdampak.
"Jangan lupa bahwa anak-anak yang mengalami gangguan pencernaan pasti akan mengalami trauma. Jadi salah satu aspek yang juga termasuk harus mereka kelola adalah bagaimana agar yang trauma ini bisa kembali percaya bahwa mereka itu akan aman ketika mengonsumsi makan bergizi (gratis)," pungkasnya.
Sebagian tayang di TribunJabar.id dengan topik Keracunan MBG di Bandung Barat
Di saat situasi tidak menentu, Kompas.com tetap berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update terkini dan notifikasi penting di Aplikasi Kompas.com.