Punya 9 Istri, Siapa yang Temani Soekarno hingga Akhir Hayat?
Presiden pertama RI, Soekarno, dikenal bukan hanya sebagai tokoh proklamator dan orator ulung, tetapi juga sebagai sosok dengan kehidupan rumah tangga yang penuh warna.
Tercatat, Bung Karno menikah dengan sembilan perempuan sepanjang hidupnya.
Mereka adalah Oetari, Inggit Garnasih, Fatmawati, Hartini, Ratna Sari Dewi, Haryati, Heldy Djafar, Yurike Sanger, dan Kartini Manoppo.
Setiap pernikahan memiliki kisah unik, tetapi hanya satu sosok yang paling setia mendampingi Soekarno hingga detik-detik terakhir hidupnya, yakni Hartini.
Awal Pertemuan Soekarno dan Hartini
Hartini lahir di Ponorogo, Jawa Timur, sebagai anak pasangan Osan Murawi dan Mairah.
Ayah Hartini bekerja di Dinas Kehutanan, sehingga keluarga kerap berpindah-pindah kota.
Setelah menyelesaikan sekolah dasar di Malang, Hartini tinggal bersama keluarga angkat di Bandung dan melanjutkan pendidikan di Nijheidschool (Sekolah Kepandaian Putri).
Di usia muda, ia menikah dengan Suwondo, tetap bercerai pada usia 28 tahun dengan lima anak.
Kehidupan Hartini berubah drastis ketika ia bertemu Bung Karno pada 1952 di rumah dinas Wali Kota Salatiga.
Saat itu, Soekarno tengah dalam perjalanan menuju Yogyakarta untuk meresmikan Masjid Syuhada.
Pertemuan tersebut berlanjut pada surat cinta pertama dari Bung Karno: “Tuhan telah mempertemukan kita Tien, dan aku mencintaimu. Ini adalah takdir.”
Presiden pertama Indonesia Soekarno didampingi istri keempatnya, Hartini, dalam acara makan siang di kediaman Duta Besar Yugoslavia.
Pernikahan dengan Bung Karno
Pada 15 Januari 1953, Soekarno meminta izin Fatmawati untuk menikahi Hartini.
Namun, Fatmawati menolak poligami. Meski begitu, Bung Karno tetap melangsungkan pernikahan dengan Hartini di Istana Cipanas pada 7 Juli 1953.
Sejak itu, Hartini kerap tampil mendampingi Bung Karno di berbagai acara kenegaraan, mulai dari menyambut Ho Chi Minh, Pangeran Sihanouk, hingga Putra Mahkota Jepang Akihito dan Michiko.
Pernikahan ini sempat menuai protes dari organisasi perempuan Indonesia, terutama Perwari, yang menentang praktik poligami.
Namun, Soekarno tetap mempertahankan rumah tangganya bersama Hartini.
Menemani Bung Karno di Masa Sulit
Setelah peristiwa Supersemar 1966 yang menandai berakhirnya kekuasaan politik Soekarno, kehidupan Sang Proklamator berubah drastis.
Ia dipaksa meninggalkan Istana Bogor pada Desember 1967 dan kemudian tinggal di rumah sederhana di Batu Tulis, Bogor, bersama Hartini.
Kondisi kesehatan Bung Karno semakin memburuk. Ginjal kirinya tidak berfungsi, sedangkan fungsi ginjal kanan tinggal 25 persen.
Hartini berusaha keras meminta izin kepada Presiden Soeharto agar suaminya bisa mendapatkan perawatan lebih layak di Jakarta.
Meski surat pertama tak mendapat jawaban, Hartini kembali mengirimkan surat kedua, bahkan meminta bantuan putri Bung Karno, Rachmawati, untuk menyampaikannya langsung ke Cendana.
Baru pada Februari 1969, Bung Karno dipindahkan ke Wisma Yaso (kini Museum Satria Mandala).
Mendampingi di Detik-detik Terakhir Bung Karno
Di Wisma Yaso, kondisi Bung Karno semakin lemah. Walaupun awalnya menolak dirawat di RSPAD, akhirnya ia luluh setelah dibujuk Hartini.
Pada 21 Juli 1970, sekitar pukul 07.00 WIB, Bung Karno mengembuskan napas terakhir di usia 69 tahun.
Saat ajal menjemput, Hartini tetap berada di sisinya, mendampingi dengan setia hingga akhir hayat Sang Proklamator.
Meski Soekarno dikenal memiliki sembilan istri dengan kisah cinta yang berliku, sejarah mencatat bahwa Hartini adalah istri yang mendampingi Bung Karno hingga tutup usia.
Sosok Hartini bukan hanya pasangan hidup, melainkan juga perawat, sahabat, dan penopang semangat Soekarno di masa sulit.
Hartini Soekarno tutup usia pada 12 Maret 2002 di Jakarta. Ia dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta.
Dari pernikahannya dengan Soekarno, Hartini melahirkan dua orang anak, yakni Taufan Soekarnoputra dan Bayu Soekarnoputra.
Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul dan "Mengenal 9 Istri Bung Karno".
Di saat situasi tidak menentu, Kompas.com tetap berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update terkini dan notifikasi penting di Aplikasi Kompas.com.