KSP Bakal Kaji Skema Impor BBM Satu Pintu Lewat Pertamina
Kantor Staf Kepresidenan (KSP) akan mengkaji kebijakan impor bahan bakar minyak (BBM) satu pintu melalui PT Pertamina (Persero).
Kepala KSP, Qodari berharap kajian-kajian yang dilakukan pihaknya dapat menjadi masukan terkait rencana kebijakan impor BBM.
"Kita mau kaji uang mudah-mudahan nanti kajian-kajian dari KSP ini bisa menjadi masukan, bila perlu pembanding," kata Qodari kepada wartawan di Kantor Staf Kepresidenan, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis, 18 September 2025.
Qodari mengatakan, kebijakan pemerintah lahir dari niat baik. Namun, terkadang ada saja masalah yang muncul saat di lapangan.
"Kadang-kadang begini, kebijakan itu berasal dan lahir dari suatu niat baik, tetapi karena ini masalah sosial yang kompleks, aktornya banyak, kadang-kadang ada implikasi-implikasi tertentu yang kurang diinginkan istilahnya itu, kalau kita bawa mobil itu blind spot lah, kadang-kadang begitu," ungkap dia.
"Nah mudah-mudahan kita akan membangun suatu mekanisme dimana blind spot-blind spot itu bisa diidentifikasi dari awal gitu, sehingga tidak menjadi pro kontra, kontroversi atau kerugian di kemudian hari, mudah-mudahan," pungkas Qodari.
Sebelumnya diberitakan, Kementerian ESDM bakal menetapkan impor BBM satu pintu melalui PT Pertamina (Persero), guna mengatasi masalah kekosongan BBM yang terjadi di sejumlah SPBU swasta dalam beberapa waktu terakhir.
Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung mengatakan, saat ini pihaknya masih menunggu data dari pihak-pihak SPBU swasta, guna memastikan bahwa impor yang akan dilakukan bisa benar-benar mencukupi kebutuhan mereka.
Dia menyebut, data sementara yang diperoleh dari hasil konsolidasi beberapa waktu lalu menunjukkan, total jumlah impor BBM yang dibutuhkan mencapai sebanyak 1,4 juta kiloliter (KL).
"Jadi untuk kebutuhan, data sementara 1,4 juta kiloliter. Dari ini kan (diketahui) berapa porsi Pertamina, berapa porsi badan usaha, ini data-datanya kita minta detilkan," kata Yuliot, dikutip Minggu, 14 September 2025.
Dia berharap, data itu bisa benar-benar merinci berapa kebutuhan para SPBU swasta yang akan dipenuhi dari impor BBM, yang nantinya akan dilakukan satu pintu melalu Pertamina tersebut.
"Karena itu nanti proses impornya akan dilakukan satu pintu. Jadi jangan sampai apa yang sudah diberikan itu tidak mencukupi, atau ada permasalahan dalam implementasinya," ujarnya.