Anak-anak dan Perubahan Iklim: dari Kerentanan Menuju Harapan

PAUD, perubahan iklim, krisis iklim, Anak usia dini, isu lingkungan, pendidikan iklim, Anak-anak dan Perubahan Iklim: dari Kerentanan Menuju Harapan

Anak usia dini sering kali dipandang sebagai kelompok yang paling rentan terdampak perubahan iklim. Namun, justru di tangan merekalah masa depan bumi bisa diselamatkan. 

Hal tersebut ditegaskan Head of Knowledge Management Division SEAMEO CECCEP, sekaligus anggota tamu ECED Council, Iwan Aries Setyawan. 

“Perubahan iklim bukan sekadar isu lingkungan, tetapi isu tumbuh kembang anak. Anak usia dini adalah kelompok paling terdampak sekaligus paling penting untuk menjadi agen perubahan,” katanya dalam siaran pers, Jumat (12/9/20245).

Iwan menjelaskan, seorang tokoh pendidikan dari Italia pencetus metode pembelajaran montessori, Maria Montesssori, menekankan pendekatan pendidikan harus disesuaikan dengan setiap tahap perkembangan anak. 

Maria mengatakan, bumi adalah akar bagi kehidupan. Anak-anak seharusnya dilatih untuk merasakan dan hidup selaras dengan bumi. 

"Apa yang disampaikan puluhan tahun lalu oleh Maria Montessori menjadi sangat relevan dengan isu perubahan iklim yang kita hadapi saat ini," jelas Iwan. 

Ia menambahkan, perubahan iklim membawa dampak nyata pada anak usia dini, mulai dari kesehatan, rasa aman, hingga terbatasnya interaksi dengan alam.

Iwan menyebutkan, polusi udara, suhu panas ekstrem, banjir, sampai kekeringan memengaruhi kesehatan anak. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi fisik, tetapi juga psikologis mereka. 

“Anak bisa kehilangan rasa aman saat harus mengungsi karena bencana, bahkan kehilangan kesempatan bermain di luar ruangan karena kualitas udara yang buruk,” jelasnya.

Menurut Iwan, masa usia dini adalah periode perkembangan otak tercepat dan paling tepat untuk menanamkan nilai kepedulian terhadap lingkungan. 

“Pendidikan anak usia dini (PAUD) menjadi kunci menciptakan generasi yang tangguh dan ramah lingkungan,” tambahnya.

Peran PAUD dalam pendidikan iklim

PAUD adalah lembaga pendidikan yang bisa mengenalkan konsep sederhana menjaga bumi, misalnya merawat tanaman, menghemat air, memilah sampah, hingga menggunakan barang bekas sebagai alat permainan edukatif.

Iwan mengatakan, jika anak sejak kecil sudah terbiasa menyiram tanaman, mematikan lampu yang tidak terpakai, atau mengolah barang bekas menjadi mainan, itu akan membentuk kebiasaan positif jangka panjang. 

“Mereka belajar bahwa tindakan kecil bisa memberi dampak besar,” katanya.

Lebih jauh, Iwan menekankan pentingnya memberi ruang bagi suara anak dalam pendidikan iklim. 

“Kita jangan hanya menjadikan anak sebagai objek. Mereka perlu diposisikan sebagai subjek, punya hak untuk bicara dan menyampaikan pandangannya tentang lingkungan,” ujarnya.

Terlebih, strategi mengembangkan interaksi bermakna untuk pendidikan iklim kini bisa beragam. 

Iwan menjelaskan, pendidikan iklim yang berpusat pada anak berarti berangkat dari pengetahuan dan minat mereka. 

Dengan begitu, pembelajaran menjadi bagian dari perjalanan anak, bukan sekadar instruksi dari guru.

Beberapa hal menurut Iwan yang bisa dilakukan untuk sarana edukasi perubahan iklim pada anak adalah: 

1. Membaca bersama 

Penelitian dari Yuwei Xu dari University of Nottingham menunjukkan, kegiatan membaca bersama dapat menjadi cara sederhana, tetapi berdampak besar untuk memicu percakapan tentang iklim di rumah. 

Anak dapat mengajukan pertanyaan, mengekspresikan rasa ingin tahunya, sekaligus belajar dari orangtua atau guru. 

Dengan cara itu, terjadi pembelajaran timbal balik, orangtua dan guru juga belajar dari sudut pandang anak.

2. Terhubung dengan alam dan budaya lokal

Akademisi Teguh Wijaya Mulya dari Universitas Surabaya menekankan pentingnya menumbuhkan hubungan anak dengan alam, budaya, dan komunitasnya. 

Menurutnya, anak bisa belajar tentang kearifan lokal dalam menjaga alam, mengenal tanaman obat tradisional, atau mendengarkan cerita rakyat tentang pentingnya menghormati lingkungan. 

Kegiatan berkebun, bermain di luar, atau proyek kelas seperti membuat kompos dan kebun bersama pun dapat mendekatkan anak dengan alam.

Lebih dari itu, kegiatan tersebut bermanfaat besar untuk mengajarkan kerja sama dan mengambil peran dalam tanggung jawab bersama.

3. Pendidikan berpusat pada anak

Francesca Salvi dari Universitas Nottingham menyampaikan, pendidikan iklim paling efektif ketika anak diberi kesempatan menentukan apa yang penting bagi mereka. 

Ada beberapa prinsip kunci:

  • Mulai dari pengetahuan anak

Guru perlu melakukan asesmen awal mengenai apa yang sudah diketahui anak dan apa yang membuat mereka penasaran tentang lingkungan. 

Pengetahuan awal itu menjadi landasan untuk memperkenalkan konsep baru mengenai pendidikan iklim dengan cara yang relevan.

  • Belajar melalui pengalaman berinteraksi dengan alam

Anak sebaiknya diajak untuk berinteraksi langsung dengan alam dan lingkungannya dengan menggunakan semua indra. 

Mengamati tanaman yang tumbuh, merasakan tekstur kulit pohon, mendengarkan suara burung atau serangga, hingga merasakan hujan, semua pengalaman ini menumbuhkan empati sekaligus rasa keterhubungan dengan alam.

  • Tujuan belajar disesuaikan dengan minat anak

Alih-alih kaku, proses belajar dikembangkan mengikuti minat dan eksplorasi anak. 

Dengan demikian, anak merasa pembelajaran adalah bagian dari perjalanan mereka untuk menjawab keingintahuan ataupun minat mereka, bukan hanya pemberian guru untuk belajar suatu tema

Harapan untuk masa depan

Iwan optimistis, pendidikan iklim di PAUD bisa menjadi solusi untuk menyiapkan generasi masa depan. 

“Anak-anak tidak perlu tumbuh dengan rasa takut akan krisis iklim. Mereka justru bisa tumbuh dengan optimisme, bahwa meskipun kecil, mereka bisa berkontribusi nyata bagi bumi,” katanya.

Iwan menilai, upaya itu juga akan mengubah posisi anak usia dini dari kelompok yang paling rentan menjadi kelompok yang paling penting bagi keberlanjutan Indonesia dan dunia.

Di saat situasi tidak menentu, Kompas.com tetap berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update terkini dan notifikasi penting di Aplikasi Kompas.com.