Ketika Tanggul Tak Sekadar Penahan Ombak, Tapi Menjadi Urat Nadi Kehidupan Warga Pesisir
Perubahan iklim bukan lagi sekadar isu global yang terdengar jauh dari kehidupan sehari-hari. Bagi masyarakat pesisir di Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, ancaman abrasi, banjir rob, dan intrusi air laut menjadi tantangan nyata yang memengaruhi aktivitas, mobilitas, hingga sumber penghidupan mereka.
Di wilayah yang dikenal sebagai salah satu sentra kelapa terbesar di Indonesia itu, keberadaan tanggul kini memiliki fungsi yang jauh melampaui perannya sebagai pelindung kawasan dari ancaman alam. Infrastruktur tersebut berkembang menjadi akses penting yang membantu warga menjalankan aktivitas ekonomi dan sosial sehari-hari. Scroll untuk tahu lebih lanjut, yuk!
Corporate Communication Manager Sambu Group, Dwianto Arif, menjelaskan bahwa wilayah operasional utama perusahaan memang berada di kawasan pesisir dan rawa yang rentan terhadap berbagai dampak perubahan iklim.
“Wilayah operasional utama Sambu Group yang berada di Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, memiliki karakteristik wilayah pesisir dan rawa yang rentan terhadap abrasi, banjir rob, dan intrusi air laut. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi produktivitas perkebunan kelapa masyarakat sekaligus ketahanan rantai pasok Perusahaan,” ujar Dwianto Arif, dalam keterangannya, dikutip Sabtu 30 Mei 2026.

Kondisi tersebut membuat upaya adaptasi menjadi kebutuhan bersama. Salah satu langkah yang dilakukan adalah pembangunan tanggul pesisir yang dirancang untuk membantu melindungi lahan perkebunan kelapa sekaligus kawasan permukiman warga dari dampak banjir rob dan masuknya air laut.
Menariknya, manfaat tanggul tidak berhenti pada aspek perlindungan lingkungan. Dalam praktiknya, jalur tersebut juga dimanfaatkan masyarakat sebagai akses penghubung antarwilayah.
“Program pembangunan tanggul tidak hanya bagian dari manajemen risiko, namun juga berdampak bagi ekonomi sosial masyarakat. Tanggul selain berfungsi sebagai pelindung dari ancaman alam, juga bisa dimanfaatkan sebagai jalan bagi masyarakat. Baik untuk membawa hasil panen, maupun kebutuhan akses ekonomi dan sosial dari satu titik ke lokasi lainnya,” tambah Dwianto Arif.
Bagi masyarakat yang menggantungkan hidup pada sektor perkebunan kelapa, akses yang lebih baik berarti distribusi hasil panen menjadi lebih mudah. Mobilitas warga untuk menjalankan aktivitas sehari-hari juga menjadi lebih lancar, terutama di kawasan yang selama ini menghadapi tantangan geografis berupa rawa dan perairan pasang surut.
Pendekatan seperti ini dinilai semakin penting di tengah meningkatnya perhatian terhadap pembangunan berkelanjutan yang tidak hanya berfokus pada lingkungan, tetapi juga kesejahteraan masyarakat lokal.
Menurut Dwianto Arif, keberlanjutan saat ini telah menjadi bagian dari strategi jangka panjang perusahaan.
“Keberlanjutan menjadi bagian dari pengelolaan risiko bisnis dan penciptaan nilai jangka panjang,” katanya.
Komitmen tersebut turut mendapat apresiasi dalam ajang TOP CSR Awards 2026 yang digelar di Jakarta. Namun di luar penghargaan yang diraih, keberadaan infrastruktur yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat pesisir menjadi gambaran bagaimana adaptasi terhadap perubahan iklim dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas hidup warga.
“Kami mengembangkan ekosistem kelapa yang secara bersamaan menghadirkan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan secara berkelanjutan,” tutup Dwianto Arif.