Mendefinisikan Ulang Kesiapan Sekolah: Fasih Calistung Bukan Jaminan Siap Belajar

anak usia dini, sekolah, parenting, ECED Tanoto Foundation, Mendefinisikan Ulang Kesiapan Sekolah: Fasih Calistung Bukan Jaminan Siap Belajar

Dalam dunia pendidikan anak usia dini (PAUD), banyak orang yang terlalu fokus pada pencapaian kemampuan akademik, sementara aspek kesiapan belajar anak belum sepenuhnya diperhatikan.

Membuat anak bisa membaca jauh lebih mudah dibanding menyiapkan anak siap membaca. Membuat anak bisa menulis jauh lebih mudah dibanding menyiapkan anak siap menulis. Membuat anak duduk rapi di kelas juga jauh lebih mudah dibanding menyiapkan anak siap bersekolah

Kalimat-kalimat tersebut mencerminkan kegelisahan banyak pendidik dan pemerhati pendidikan anak usia dini.

“Kita sering bangga ketika anak lima tahun sudah bisa membaca lancar. Tapi pertanyaan pentingnya jarang muncul: apakah ia memahami bacaan? Apakah ia bisa mengatur diri, menunggu giliran, atau mengelola frustasi?” ujar anggota Early Childhood Education and Development (ECED) Council sekaligus pengurus Yayasan Mutiara Ibu dan Mutiara Bangsa Sisilia Maryati dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Jumat (28/11/2025).

Ia menyebutkan, kemampuan teknis bukan berarti kesiapan belajar. Hal tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Studi Center on the Developing Child dari Harvard University (2023).

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa kemampuan akademik awal tidak selalu sejalan dengan kesiapan belajar yang meliputi aspek sosial-emosional, bahasa, serta fungsi eksekutif seperti konsentrasi, fleksibilitas berpikir, dan pengelolaan diri.

UNESCO (2021) dan UNICEF (2019) menegaskan bahwa kesiapan sekolah adalah perpaduan kematangan kognitif, sosial, emosional, fisik, serta lingkungan belajar yang responsif.

Oleh karena itu, Sisilia menyebutkan bahwa konsep kesiapan sekolah perlu dimaknai ulang.

“Kesiapan sekolah bukan soal bisa secepat mungkin, tetapi soal apakah anak cukup matang dari segi fisik, mental, bahasa, dan sosial menghadapi proses belajar,” tegasnya.

Di banyak kesempatan, anak yang sudah bisa membaca sejak dini justru menangis saat menerima tugas di kelas awal sekolah dasar (SD) karena belum terbiasa menghadapi tantangan.

Mereka mampu mengeja huruf, tetapi belum bisa menunggu giliran. Mereka dapat menulis, tetapi masih kesulitan memegang pensil karena motorik halusnya belum matang.

Survei Bank Dunia (2021) menunjukkan lebih dari separuh anak usia 5-6 tahun di Indonesia belum siap bersekolah, terutama dalam hal kemandirian, kemampuan bahasa, dan regulasi emosi.

Hal tersebut didukung oleh Laporan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pada tahun 2022 yang mencatat bahwa 80 persen guru kelas awal SD kesulitan mengajarkan literasi dasar karena banyak anak belum matang secara sosial-emosional.

“Anak-anak kita bisa, tetapi belum tentu siap. Mereka bisa menulis, tetapi belum mampu menyampaikan ide. Bisa berhitung, tapi belum siap memecahkan masalah,” jelas Sisilia.

Belajar dari sepasang sepatu

Merujuk pada kisah di sebuah PAUD, seorang anak menolak untuk melepas sepatunya. Orangtuanya berdiri agak jauh, memberi ruang bagi guru untuk mengambil alih.

“Coba lepas sepatunya. Kamu punya tangan yang kuat, kok,” kata guru dengan tenang.

Perlahan anak mencoba, melepas perekat sepatu, menata sepatunya di rak, sambil berdialog dengan guru mengenai warna dan posisi sepatu.

Momen sederhana itu memperlihatkan anak sedang belajar banyak hal: motorik halus, bahasa, regulasi diri, kepercayaan diri, hingga tanggung jawab. 

UNESCO (2021) menekankan bahwa belajar melalui permainan dan pengalaman nyata adalah fondasi kesiapan belajar.

“Inilah esensi kesiapan bersekolah: anak tidak hanya diajari, tetapi diberi ruang mengalami dan menguasai keterampilan sesuai tahap perkembangannya,” jelas Sisilia.

Dalam cerita tersebut, orangtua juga tidak ikut campur. Sikap ini yang mencerminkan pemahaman bahwa proses belajar bukan mengejar hasil cepat, tetapi memberi kesempatan anak mencoba.

“Sayangnya, di banyak rumah, justru atas nama cinta, anak kehilangan kesempatan ini. Sepatu dipakaikan, meja dibereskan, pekerjaan rumah (PR) dikerjakan orangtua. Akibatnya, anak tidak pernah belajar mengelola diri atau bertanggung jawab,” pungkas Sisilia.

Padahal, rumah adalah laboratorium stimulasi alami. Saat anak menyusun mainan, membantu menata meja, menuang air, atau bercakap dengan orangtua, ia sedang mengembangkan bahasa, kemandirian, fungsi eksekutif, dan rasa percaya diri.

Nurturing Care Framework (WHO, UNICEF, World Bank, 2018) menegaskan bahwa interaksi keluarga adalah fondasi utama kesiapan sekolah.

Orangtua atau pengasuh dapat mengasah keterampilan dasar yang anak usia dini di rumah antara lain dengan mematangkan motorik untuk menulis dan mengurus diri, bahasa dan komunikasi sebagai fondasi berpikir.

Anak juga dapat meregulasi diri untuk fokus dan menyelesaikan tugas, kepercayaan diri dan ketahanan menghadapi tantangan, dan kemampuan sosial seperti bekerja sama dan menunggu giliran.

Langkah membantu anak siap sekolah

Sisilia memberi saran ada lima hal yang bisa dilakukan orangtua atau pengasuh untuk membantu anak siap sekolah, seperti berikut: 

1. Mulailah dari rumah: pendidikan tidak dimulai di sekolah

Rumah adalah sekolah pertama bagi anak. Jangan membayangkan bahwa menyiapkan anak sekolah hanya tugas guru. 

Orangtua dapat memberikan stimulasi yang sangat kaya melalui aktivitas harian, seperti mengancing baju, menyusun piring, bercakap, atau membaca cerita bersama. Aktivitas sederhana ini terbukti mendukung perkembangan bahasa, kemandirian, dan fungsi eksekutif anak. 

2. Guru PAUD sebagai fasilitator pengalaman, bukan pengajar hafalan

Tugas guru PAUD bukan menyediakan worksheet, tetapi menciptakan pengalaman belajar yang bermakna dan menyenangkan. 

Bermain air, bermain peran, kegiatan dapur, berkebun, mengamati alam, adalah “kelas akademik” terbaik di usia dini.

3. Hentikan obsesi calistung dini

Mengajarkan membaca dan menulis sebelum waktunya tidak hanya kurang efektif, tetapi dapat mematikan minat belajar. 

Akademik dini yang dipaksakan justru berisiko menimbulkan frustasi dan menghambat pembelajaran. Yang tepat bukan mempercepat, tapi mematangkan. Kecepatan bukan ukuran keberhasilan belajar.

4. Bangun kemitraan guru-orangtua

Kelas orangtua tidak boleh jadi formalitas. Guru perlu menjembatani pemahaman orangtua tentang perkembangan anak, bukan sekadar mengirim laporan kegiatan tetapi membangun pemahaman yang sama sejak awal. Komunikasi ini mengurangi kesenjangan ekspektasi antara sekolah dan keluarga

5. Kebijakan nasional harus berpihak pada kualitas, bukan angka

Penguatan PAUD tidak bisa hanya dilakukan melalui lomba hafalan atau mengejar persentase anak yang bisa calistung. 

Pemerintah perlu memperkuat kapasitas guru, menyediakan lingkungan bermain yang kontekstual, dan memberi ruang inovasi berbasis budaya lokal. Kesiapan sekolah adalah investasi jangka panjang, bukan strategi pencapaian cepat.

“Kita sering kali terburu-buru ingin anak bisa membaca tanpa menumbuhkan rasa ingin tahunya. Padahal anak yang matang tidak perlu dipaksa belajar, ia akan siap belajar,” jelas Sisilia

Terakhir Sisilia juga mengingatkan bahwa anak yang hanya “dibuat bisa” akan berhenti ketika guru tidak lagi mengajarinya. Tetapi anak yang “siap belajar” akan terus mengeksplorasi, bahkan tanpa guru di sampingnya.

“Sebelum kita mengajarkan huruf kepada anak, ajarkan dulu makna belajar: bahwa belajar itu menyenangkan, bermakna, dan sesuai dengan ritme perkembangan mereka,” pungkasnya. 

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang