Foto Pernikahan Ikut Dijarah, Uya Kuya: Tolong Kembalikan Dong
Uya Kuya hingga kini nampaknya masih mencari tahu barang-barang apa saja yang hilang di rumahnya setelah aksi penjarahan pada Sabtu 30 Agustus 2025 lalu. Selain perabotan rumah tangga, Uya Kuya diketahui kehilangan sejumlah kucingnya yang sampai saat ini masih berusaha didapatkan kembali.
Selain itu, ada satu barang berharga yang menurut Uya Kuya tidak bisa lagi ia miliki yakni foto pernikahan dangan sang istri. Foto lawas dalam bingkai berwarna emas itu memuat hari bahagia Uya Kuya dan Astrid. Nampak keduanya masih mengenakan pakaian pernikahan serba putih.
Uya Kuya pun membagikan pengumuman bahwa ia sedan mencari foto tersebut. Uya Kuya memohon agar foto itu segera dikembalikan.
"Siapapun yang nemu foto ini tolong dikembalikan dong," tulis Uya Kuya, mengutip unggahan Instagram @tante.rempong.official, Minggu 7 September 2025.
Alasan utama mengapa Uya Kuya meminta foto itu dikembalikan karena ia tak memilikinya lagi. Tentu saja, momen pernikahan yang diabadikan dalam foto itu tidak bisa diulang lagi oleh Uya Kuya. Anggota dewan tersebut juga nampaknya tidak menyimpan berkas asli fotonya sehingga ia sangat berhaap agar segera dikembalikan.
"Saya nggak punya lagi fotonya," tambahnya.
Uya Kuya meminta kepada siapapun warga yang membawa atau menemukan foto tersebut bisa meletakkannya saja di depan rumahnya.
"Taro aja depan rumah saya please," pungkasnya.

Sebagai informasi, penjarahan rumah Uya Kuya (Surya Utama), anggota DPR RI dari Komisi IX (nonaktif) dan artis terkenal, menjadi salah satu insiden paling mencolok dari gelombang kemarahan publik terhadap anggota legislatif pada akhir Agustus 2025.
Penyebab utamanya adalah sikap anggota DPR yang dianggap tidak sensitif terhadap penderitaan rakyat, di tengah krisis ekonomi dan kebijakan kontroversial pemerintah. Video viral Uya Kuya dan rekan-rekannya berjoget di gedung MPR/DPR saat sidang tahunan pada 16 Agustus 2025, bertepatan dengan pengumuman kenaikan tunjangan DPR (termasuk tunjangan rumah Rp50 juta per bulan), memicu kecaman luas.
Hal ini dilihat sebagai simbol arogansi elit, memicu demo massal di Jakarta yang berujung anarkis, mirip krisis 1998. Uya Kuya kemudian meminta maaf melalui Instagram, mengklaim joget hanya menghargai musisi, tapi terlambat meredam amarah.
Kejadian penjarahan dimulai Sabtu, 30 Agustus 2025, sore. Sekitar pukul 17.30 WIB, massa menggeruduk rumah Ahmad Sahroni di Tanjung Priok, Jakarta Utara, menjarah perabot, uang, dan merusak mobil mewahnya. Aksi ini disiarkan live di TikTok, memicu warganet menargetkan rumah Eko Patrio dan Uya Kuya.
Malam harinya, sekitar pukul 22.30-23.00 WIB, ratusan massa (banyak dari luar daerah, bukan warga setempat) mendatangi rumah Uya Kuya di Pondok Bambu, Duren Sawit, Jakarta Timur. Mereka merobohkan pagar, menerobos masuk hingga lantai dua, dan menjarah barang-barang seperti kursi, lemari, TV, elektronik, pakaian, hingga kucing peliharaan (koleksi bernilai puluhan juta).
Polsek Duren Sawit mencoba imbauan, tapi gagal karena massa terlalu besar; aparat gabungan akhirnya turun tangan, tapi kerusakan parah terjadi, termasuk pembakaran parsial.
Uya Kuya, yang saat itu tidak di rumah (keluarga aman), menyatakan ikhlas atas kerugian materi, tapi sedih kucingnya dijarah. Polisi langsung bertindak: tangkap 9 pelaku awal (31 Agustus), naik jadi 12 tersangka (6 September) dengan peran provokator, penjarah, dan penyerang petugas.
Beberapa barang dikembalikan karena pelaku ketakutan; satu lansia dimaafkan Uya via restorative justice. Rumah kini reruntuhan, dipasang garis polisi, dan kasus masih dikembangkan. Insiden ini bagian dari serangkaian penjarahan rumah pejabat, mencerminkan ketidakstabilan sosial-politik.