Pengamat Sebut 8 Pemain Asing di Super League Berlebihan

Super League, Erick Thohir, Super League 2025-2026, Ketua PSSI, super league pemain asing, Pengamat Sebut 8 Pemain Asing di Super League Berlebihan

Kebijakan I.League yang memperbolehkan tim menurunkan 8 pemain asing sekaligus, mendapatkan sorotan tajam dari pengamat sepak bola, Akmal Marhali.

Ia menilai regulasi pemain asing yang rencananya diterapkan di Super League 2025-2026 itu sebagai sebuah hal berlebihan.  

Menurutnya, keputusan tersebut bertentangan dengan arah pembenahan sepak bola nasional yang selama dua tahun terakhir digalakkan oleh Ketua Umum PSSI, Erick Thohir.

Baru-baru ini, Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, mendesak operator kompetisi tertinggi Super League, yakni I.League, untuk mengurangi jumlah pemain asing.

Erick Thohir mengusulkan jumlah pemain asing yang dapat turun berbarengan dalam satu laga  dikurangi, dari semula delapan, menjadi hanya tujuh.

“Kebijakan 8 pemain asing itu berlebihan dan justru bertentangan dengan arah pembangunan sepakbola nasional," kata Akmal Marhali.

"Ketum PSSI sudah menegaskan perlunya dikoreksi menjadi 7, dan kami di Save Our Soccer sepenuhnya mendukung,” kata Akmal Marhali, yang juga merupakan Ketua Save Our Soccer, dalam sebuah rilis yang diterima KOMPAS.com, Kamis (17/7).

Sebelumnya dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) di Jakarta, Senin (7/7/2025) silam, PT LIB yang telah berganti nama menjadi I-League merumuskan regulasi pemain asing untuk kompetisi kasta teratas Indonesia, Super League 2025-2026.

I.League, menyatakan bahwa pada musim 2025-2026, klub-klub kontestan Super League dapat mendaftarkan 11 pemain asing.

Dari 11 pemain asing tersebut, delapan di antaranya bisa bermain bersamaan di lapangan.

Akmal Marhali menegaskan, jika I.League ingin hadir sebagai kompetisi yang lebih profesional dan modern, maka keberpihakan terhadap pemain lokal, terutama kelompok usia U19 dan U23, harus ditunjukkan.

Ia menyebut potensi pemain muda Indonesia saat ini kian menjanjikan dan perlu ruang aktualisasi di level tertinggi kompetisi domestik.

“Jam bermain untuk pemain muda, terutama U23, harus ditambah secara signifikan," tutur Akmal Marhali.

Akmal juga menilai, penguatan kontribusi pemain muda di lapangan akan menjadi indikator sejauh mana transformasi sepak bola nasional berhasil dijalankan.

Ia mendesak klub-klub juga aktif mengambil tanggung jawab dalam pembinaan dan regenerasi.

"Itulah satu-satunya jalan untuk membangun skill, karakter, dan mental juara dalam kompetisi panjang seperti I-League. Klub wajib memberi peran lebih, bukan sekadar tempat latihan,” ujar Akmal Marhali.