Pemain Asing Beri Warna IBL, Inovasi Ditjen Imigrasi Permudah Administrasi

Proliga, Super League 2025-2026, Ditjen Imigrasi, Pemain Asing Beri Warna IBL, Inovasi Ditjen Imigrasi Permudah Administrasi

Kompetisi olahraga Indonesia termasuk IBL banyak ditunjang kehadiran pemain asing. Ditjen Imigrasi pun membentuk tim khusus untuk memastikan kelancaran administrasi atlet luar negeri. 

Kualitas ajang olahraga di Indonesia semodel Super League, Indonesian Basketball League (IBL), dan Proliga diketahui juga banyak didorong oleh keberadaan pemain asing.

Pada Super League 2025-2026, klub kontestan boleh merekrut hingga 11 pemain asing dengan tujuh di antaranya bisa dimainkan secara bersamaan di lapangan dan sembilan masuk dalam daftar skuad pertandingan.

Sementara itu, IBL 2026 menerapkan aturan baru yang memperbolehkan setiap tim mengontrak tiga pemain asing sekaligus dan menurunkannya bersama di lapangan.

Di sisi lain, kompetisi Proliga menetapkan kuota dua pemain asing untuk setiap klub peserta.

Kehadiran pemain asing di kompetisi olahraga Tanah Air menjadi perhatian serius bagi Ditjen Imigrasi.

“Salah satu fungsi imigrasi adalah sebagai fasilitator, dan itu juga berlaku di bidang olahraga. Ketika saya baru menjabat, saya memiliki gagasan bahwa sektor olahraga harus diberikan kemudahan dalam proses administrasi,” ujar Direktur Jenderal Imigrasi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, Hendarsam Marantoko, dalam sebuah keterangan tertulis.

Ditjen Imigrasi akan menghadirkan inovasi berupa pembentukan tim khusus yang berfokus pada pelayanan atlet dan pelaku olahraga mancanegara yang berkarier di Indonesia.

Selain olahraga, bidang seni, budaya, serta sains juga jadi perhatian Ditjen Imigrasi.

“Sebenarnya tidak hanya olahraga, ada tiga bidang yang ingin kami dorong dari sisi imigrasi. Ada olahraga, seni dan budaya (termasuk musik dan lain sebagainya) serta sains."

"Ketiga bidang ini memiliki potensi besar untuk berkembang. Oleh karena itu, kami akan membentuk tim khusus untuk mempermudah proses-proses tersebut,” kata Hendarsam.

Salah satu fasilitas utama yang akan diberikan adalah jalur khusus atau fast track di bandara untuk mempercepat proses kedatangan atlet.

Jalur Khusus

Selain itu, sistem administrasi akan disederhanakan melalui aplikasi digital guna menghindari proses berulang yang memakan waktu.

“Kami akan membentuk tim khusus yang menangani sektor olahraga. Dengan begitu, para atlet tidak perlu mengalami kesulitan dalam proses administrasi."

"Contoh paling konkret, kami akan menyediakan jalur khusus (fast track) bagi para atlet, sehingga mereka tidak perlu mengantre. Selain itu, proses administrasi akan dipermudah melalui sistem aplikasi, sehingga mereka tidak perlu melalui pemeriksaan yang berulang atau antre seperti penumpang lainnya,” ujar Hendarsam.

Ia menilai antrean panjang dapat memengaruhi kondisi psikologis atlet yang berpotensi berdampak pada performa mereka di lapangan.

“Bagi seorang atlet, antrean panjang bisa mengganggu suasana hati (mood), dan itu tentu berdampak pada performa mereka."

"Padahal, mereka juga bisa menjadi duta bagi Indonesia. Jika mereka mendapatkan kesan yang baik sejak di pintu masuk negara, maka mereka akan menyampaikan bahwa imigrasi Indonesia itu mudah, ramah pengguna (user-friendly), namun tetap memiliki fungsi pengawasan,” ucapnya menambahkan.

Fungsi Pengawasan Tetap Dilakukan 

Meski ada kemudahan, Ditjen Imigrasi memastikan fungsi pengawasan terhadap atlet asing tetap berjalan sesuai ketentuan.

“Perlu diingat, ada dua pendekatan yang kami lakukan. Untuk atlet yang datang hanya untuk satu event (single entry), fungsi pengawasan tidak terlalu ketat. Namun, bagi mereka yang bekerja di Indonesia, pengawasan tetap dilakukan,” ucap Hendarsam.

Tim khusus ini juga akan berperan dalam mendukung ajang olahraga internasional yang digelar di Indonesia seperti MotoGP Mandalika dan event Clash of Legends yang menghadirkan Ronaldo Nazario de Lima dan Alessandro Del Piero di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada April ini.

“Tim ini akan segera terbentuk. Sebenarnya sudah ada tim yang menangani hal ini, tetapi saya ingin membuatnya lebih spesifik dan fokus pada sektor olahraga,” tutur Hendarsam.

“Kami tidak ingin citra Indonesia kurang baik di mata internasional. Selain itu, kehadiran event olahraga internasional juga berdampak pada pergerakan ekonomi,” ucapnya menambahkan.

Kebijakan ini mendapat respons positif dari Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (Perbasi).

“Kita lihat sendiri, luar biasa sekali dukungan dari Pak Dirjen Imigrasi terhadap basket," ujar Sekretaris Jenderal DPP Perbasi, Nirmala Dewi.

"Selama ini belum pernah ada dukungan sebesar ini, bahkan sampai beliau datang langsung untuk menonton."

"Jadi, tidak ada keraguan dari kami terhadap dukungan dari Pak Dirjen, dari kementerian, maupun dari teman-teman yang lain. Hal ini tentu mempermudah kami dalam melaksanakan event-event olahraga, khususnya di bidang basket,” ujar Nirmala di sela penyelenggaraan IBL All Star 2026 di Bandung Arena, Sabtu (11/4/2026).

Adapun Indonesia telah dipercaya menjadi tuan rumah sejumlah ajang basket internasional dalam beberapa tahun ke depan.

Indonesia akan jadi tuan rumah FIBA U16 Women’s Asia Cup 2027, FIBA U17 Women’s World Cup 2028, FIBA U18 Asia Cup 2028, serta FIBA U19 World Cup 2029.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang