Truk Impor China Serbu RI: Karoseri Biasa Dapat Order 50/Bulan, Kini Cuma 1-2!

Karawang

Serbuan truk impor China yang digunakan di area pertambangan bikin industri karoseri dalam negeri terancam. Kalau dulunya sebuah dealer bisa order 30 hingga 50 unit truk per bulan untuk dimodifikasi di karoseri, maka kini jumlahnya turun drastis, hanya sekitar 1-2 unit per bulan.

Informasi tersebut disampaikan Direktur PT Metalindo Teknik Utama (MTU), Syarifuddin Tangka. Syarifuddin yang memimpin perusahaan pembuat rumah-rumah atau bak truk tersebut tahu persis bagaimana serbuan truk-truk impor China berpotensi mengancam industri kendaraan komersial dalam negeri.

"Ini yang betul-betul mematikan kustomer kami yang ada di ATPM (dealer), yang sebelumnya biasa order 30 sampai 50 per bulan, ini tidak ada lagi. Paling ada, sisa 1-2," ungkap Syarifuddin di Karawang belum lama ini.

Array,Truk Impor China Serbu RI: Karoseri Biasa Dapat Order 50/Bulan, Kini Cuma 1-2!

Dump truck buatan karoseri lokal PT Metalindo Teknik Utama Foto: Luthfi Anshori/detikOto

Menurut Syarifuddin, situasi tersebut sudah terjadi dalam kurun 2-3 tahun terakhir. Soalnya, truk-truk impor China didatangkan secara utuh ke Indonesia tanpa mematuhi regulasi-regulasi yang ditetapkan. Bahkan truk-truk China itu juga sudah memiliki bak, sehingga tidak perlu dimodifikasi di karoseri lokal di Indonesia.

"Mereka (truk-truk China itu) datang itu sudah lengkap dengan dump-nya (baknya), sehingga jangan berhitung TKDN-nya. Kita dipaksa untuk mengarah ke TKDN, mereka datang sudah langsung dengan dump-nya. Jadi complete vehicle datang, impor, langsung terpakai di tambang," tegas Syarifuddin.

Syarifuddin juga menyebut pemerintah tidak adil lantaran memberikan banyak aturan buat industri lokal, sementara truk-truk impor China tidak perlu memenuhi peraturan tersebut dan bisa bebas digunakan di area-area pertambangan.

"Kita dibatasi dengan aturan, ada aturan ODOL yang harus kita patuhi. Sementara mobil-mobil (truk) impor ini (dari sisi emisi) ada yang masih Euro2, Euro3, (sementara) kita dipaksakan Euro4 dengan teknologinya kita. Itu betul-betul miris. Karena kita dipaksakan untuk mengikuti aturan yang ada, sementara yang impor jauh dari (aturan) itu, belum lagi kalau bicara ukuran dimensinya, sudah betul-betul tidak ada aturan kalau mobil impor," bilang Syarifuddin.

Sebelumnya, Ketua I Gaikindo, Jongkie D. Sugiarto, mengakui bahwa pihaknya telah menampung keluhan tersebut dan membawanya ke meja Kementerian Perindustrian (Kemenperin).

"Itu kami sudah sampaikan ke Kemenperin, jadi mungkin nanti akan dicarikan jalan," ujar Jongkie di Jakarta, Januari lalu. Jongkie menjelaskan, ada beberapa jalur legal atau celah yang dimanfaatkan truk-truk China itu. Salah satunya melalui skema investasi.

Gaikindo pun memberikan usulan konkret kepada pemerintah agar persaingan kembali sehat. Solusinya sederhana, semua yang punya roda dan mesin harus lolos standar Indonesia. "Bisa juga nanti ditertibkan dari Perindustrian dengan bikin keputusan semua mobil, truk atau apapun, harus laik jalan di sini. Beres kan," tegas Jongkie.

Saksikan Live DetikSore :