Kemenperin Bakal Batasi Truk Impor Dengan Dua Pendekatan
Gempuran impor truk dari Cina sempat mengganggu penjualan kendaraan komersial di dalam negeri.
Unit truk impor yang ditawarkan dari Cina terbilang cukup banyak. Dari segi harga juga terbilang lebih murah, sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi para konsumen.
Padahal banyak truk yang diimpor dari Cina tidak memenuhi regulasi emisi. Banyak di antaranya masuk dengan standar Euro 2, bukan Euro 4.
Guna mengatasi hal tersebut, Kementerian Perindustrian telah menyiapkan sejumlah langkah untuk mengurangi maraknya truk impor dari Tiongkok. Salah satunya melalui dokumen TPT atau tanda pendaftaran tipe dan varian kendaraan bermotor impor.
Ini sebelumnya sudah tercatat dalam Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 34 Tahun 2019. Namun perlu dievaluasi lebih lanjut agar regulasinya bisa lebih ketat
“Kita akan mengusulkan ke Kementerian Perdagangan, (merumuskan) Permendag terkait tata perdagangan impor,” kata Andi Komara, Staf Direktorat IMATAP, Ditjen ILMATE Kemenperin di JIExpo Kemayoran, Kamis (09/04).
Andi menegaskan sebelum regulasi tersebut diberlakukan, tetap perlu ada kajian yang dilakukan.
Sebab regulasi yang mengatur impor truk ataupun kendaraan niaga secara keseluruhan, disebut dapat mempengaruhi industri pendukung di sektor lainnya.
“Untuk membatasi truk impor ini, kita bisa dekati jadi dua. Kita terapkan satu lartas (larangan dan pembatasan) atau dengan pengenaan tarif,” kata Andi.
Lebih lanjut dijelaskan, Kementerian Perindustrian mengusulkan bahwa truk-truk impor dikenakan pajak.
“Karena PPnBM sekarang ini tidak serta-merta terkait kemahalan satu kendaraan, tetapi juga faktor emisi dan fuel consumption,” tegas dia.

Sebagai informasi, sebelumnya masalah impor truk dari Cina turut jadi sorotan manufaktur seperti Mitsubishi Fuso.
Banyak truk impor ilegal asal Cina yang digunakan buat aktivitas tambang tidak memenuhi regulasi dan standar emisi dari pemerintah.
“Sektor mining kendalanya tidak hanya soal permintaan, tetapi juga saingannya saya bilang mungkin tidak sehat. Tadi itu ada brand-brand yang datang tak sesuai prosedur,” kata Aji Jaya, Sales and Marketing Director PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors di Jakarta beberapa waktu lalu.