Jejak Bandara Kertajati: Pernah Sepi, Kini Dilirik AS Jadi Bengkel Pesawat

Bandara Kertajati, Jejak Bandara Kertajati: Pernah Sepi, Kini Dilirik AS Jadi Bengkel Pesawat

Kabar terbaru datang dari dunia penerbangan Indonesia. Menteri pertahanan (Menhan) RI mengkonfirmasi bahwa presiden Prabowo Subianto menerima tawaran AS untuk menjadikan bandara Kertajati sebagai ‘bengkel’ untuk pesawat angkut hercules se-Asia.

Melalui penawaran dari Menteri Perang Amerika Serikat (AS) Pete Hegseth, Prabowo Subianto mengajukan nama Bandara Kerjati di Majalengka sebagai pusat Maintenance, Repair and Overhaul (MRO) Pesawat Angkut Berat C-130 Hercules.

Dilansir dari , Menhan Sjafrie Sjamsoeddin mengungkapkan kabar ini dalam Rapat Kerja (Raker) Bersama antara Komisi I DPR dengan Kementerian Pertahanan (Kemhan) dan TNI pada Selasa (19/5/2026).

Kemhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait mengungkapkan bahwa pemilihan Bandara Kertajati mempertimbangkan ketersediaan lahan yang luas serta fasilitas penerbangan sudah memadai.

Lantas, apa yang membuat Bandara Kertajati dilirik sebagai pusat perawatan pesawat skala Asia? Berikut fakta dan sejarahnya.

Sejarah Bandara Kertajati

Pembangunan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati merupakan bandara yang gagasannya sudah muncul sejak era Presiden Megawati Soekarnoputri, saat Jawa Barat membutuhkan bandara.

Studi kelayakan proyek ini dilakukan sejak 2003, disusul dengan penetapan lokasi pada 2005. Saat itu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat bahkan menyatakan siap membiayai pembangunan melalui APBD.

Namun, rencana tersebut berjalan lambat dan belum juga terealisasi hingga beberapa tahun kemudian.

Setelah melalui evaluasi, pemerintah pusat akhirnya turun tangan. Proyek ini kemudian didukung pendanaan dari APBN, dengan proses pembebasan lahan dan pembangunan awal dimulai pada 2014.

Tak lama berselang, Bandara Kertajati masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN), yang mempercepat proses pembangunannya.

Konstruksi fisik berlangsung pada periode 2015 hingga 2017. Bandara ini resmi beroperasi pada 24 Mei 2018, ditandai dengan pendaratan perdana pesawat kepresidenan.

Saat itu, landasan pacu sepanjang 2.500 meter sudah dapat digunakan untuk pesawat berbadan sedang.

Dari sisi investasi, pembangunan Bandara Kertajati menelan biaya sekitar Rp2,6 triliun, dengan dukungan dari pemerintah dan pihak swasta.

Pengelolaannya kini berada di bawah PT Bandarudara Internasional Jawa Barat (BIJB), BUMD yang dibentuk untuk mengelola operasional bandara.

Alasan Bandara Sepi Penerbangan

Bandara Kertajati, Jejak Bandara Kertajati: Pernah Sepi, Kini Dilirik AS Jadi Bengkel Pesawat

Bandara Kertajati di Majalengka, Jawa Barat.

Meski sudah dibangun untuk transportasi penerbangan di Jawa Barat, namun bandara Kertajati tidak beroperasi sesuai harapan.

Salah satu tantangan utama yang dihadapi adalah minimnya akses menuju bandara.

Lokasi Kertajati yang cukup jauh dari pusat kota besar seperti Bandung membuat mobilitas penumpang menjadi kurang praktis.

Pada awal operasional, infrastruktur pendukung seperti jalan tol dan transportasi umum juga belum sepenuhnya siap.

Selain itu, konektivitas penerbangan yang terbatas membuat maskapai belum banyak membuka rute dari dan ke Kertajati. Kondisi ini berdampak langsung pada jumlah penumpang yang relatif rendah.

Situasi tersebut sempat membuat aktivitas penerbangan di Kertajati terlihat sepi, bahkan memunculkan anggapan bahwa bandara ini “mati suri”.

Kini, kabar mengenai rencana Bandara Kertajati sebagai pusat Maintenance, Repair and Overhaul (MRO) pesawat C-130 diharapkan dapat menjadi upaya penguatan mandiri industri pertahanan dan dukungan logistik penerbangan strategis nasional.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang