Menlu 10 Negara Tuntut Pembebasan Aktivis Global Sumud Flotilla
Menteri Luar Negeri dari 10 negara yakni Turki, Bangladesh, Brazil, Indonesia, Spanyol, Kolombia, Libya, Maladewa, Pakistan dan Yordania megecam keras serangan Israel terhadap Global Sumud Flotila. Seperti diketahui, Senin 18 Mei 2026, 39 kapal Global Sumud Flotilla berupaya menembus blokade Israel di Gaza dan mengirimkan bantuan untuk rakyat Palestina.
Dalam pernyataan bersama yang dirilis Senin kemarin, para menteri dari kesepuluh negara tersebut mengutarakan keprihatinan mendalam terhadap aksi Israel yang berulang kali menghalangi misi bantuan di perairan internasional.
“Serangan-serangan ini, termasuk penyerangan terhadap kapal dan penahanan sewenang-wenang terhadap para aktivis, merupakan pelanggaran nyata terhadap hukum internasional dan hukum humaniter internasional,” bunyi pernyataan tersebut dikutip dari laman presstv.ir, Selasa 19 Mei 2026.
Para menteri mendesak pembebasan segera seluruh aktivis yang ditahan serta meminta agar hak dan martabat mereka dihormati sepenuhnya. Mereka juga menyerukan kepada komunitas internasional untuk menjalankan tanggung jawab hukum dan moral dalam melindungi warga sipil dan misi kemanusiaan.
Flotilla Dicegat, Aktivis Disebut “Diculik”
Pasukan Israel mencegat flotilla tersebut pada Senin di perairan internasional sebelah barat Siprus, sekitar 70 mil laut dari pulau itu.
Pihak Global Summud Flotila menyebut 10 kapal dari konvoi yang terdiri dari 60 kapal diserang dan dinaiki paksa. Sekitar 100 aktivis dilaporkan ditahan, termasuk 96 orang asal Turki serta warga dari 39 negara lain seperti Amerika Serikat, Jerman, Irlandia, Spanyol, Malaysia, dan Indonesia.
“Pendudukan Israel sekali lagi secara ilegal dan brutal mencegat armada kapal kemanusiaan internasional kami serta menculik para relawan kami,” tulis Global Sumud Flotilla di platform X.
Mereka menuntut seluruh tahanan segera dibebaskan dan blokade Gaza diakhiri.
Flotilla tersebut berlayar dari distrik Marmaris di pesisir Mediterania Turki pada Kamis lalu dengan membawa lebih dari 420 peserta.
Misi itu bertujuan menarik perhatian dunia terhadap bencana kemanusiaan di Gaza serta berupaya menembus blokade Israel yang telah diberlakukan sejak 2007.
Kecaman Dunia Internasional
Pejabat Turki mengecam pencegatan itu dan menyebutnya sebagai aksi pembajakan baru.
Menteri Luar Negeri Spanyol Jose Manuel Albares juga mengutuk tindakan tersebut dengan menegaskan bahwa tidak ada agen Israel yang memiliki yurisdiksi di perairan itu.
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengatakan dunia tidak boleh terus tunduk pada penindasan dan menuntut pembebasan segera seluruh aktivis yang ditahan, termasuk 16 warga Malaysia.
“Penganiayaan terhadap warga Palestina dan aktivis kemanusiaan harus segera dihentikan,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa Israel harus menghadapi keadilan dan pertanggungjawaban.
Anggota biro politik Hamas, Bassem Naim, mengecam serangan itu sebagai terorisme negara dan upaya sistematis merusak tatanan internasional secara keseluruhan.
Pencegatan ini menjadi serangan kedua terhadap Global Sumud Flotilla dalam kurun waktu kurang dari satu bulan.
Pada 29 April lalu, pasukan Israel juga menyerang misi bantuan tersebut di lepas pantai Pulau Kreta, Yunani, lalu mendeportasi para aktivis yang berada di atas kapal.
Blokade Israel terhadap Gaza yang telah berlangsung selama puluhan tahun menyebabkan kelangkaan besar makanan, obat-obatan, dan kebutuhan pokok lainnya. Berbagai organisasi bantuan internasional berulang kali memperingatkan bahwa kondisi di Gaza telah berubah menjadi bencana kemanusiaan.