Dari Candaan Jadi Trauma, Saatnya Hentikan Normalisasi Catcalling di Kalangan Remaja

Di balik maraknya kasus catcalling, ada satu masalah yang lebih mendasar yaitu budaya yang menganggapnya sebagai hal biasa.
Banyak pelaku berlindung di balik alasan “bercanda”, tanpa memahami dampak yang ditinggalkan bagi korban. Fenomena ini tidak muncul begitu saja, melainkan terbentuk dari kebiasaan sosial yang terus diwariskan.
Menurut Esti Kurnianingsih S.Psi., M.A., konselor Pusat Konseling dan Pengembangan Pribadi Universitas Kristen Petra Surabaya, anggapan bahwa catcalling adalah candaan berakar dari budaya populer yang sudah lama berkembang.
“Karena budaya, jaman dulu kita sering melihat di film, bagaimana perempuan diperlakukan sebagai objek bercanda, dan ini terasa 'seru' di kalangan para pria,” kata konselor yang biasa disapa Esti itu kepada Kompas.com.
Remaja, yang sedang dalam fase mencari identitas kerap meniru apa yang mereka lihat tanpa mempertimbangkan dampaknya.
“Bagi remaja, hal yang seru kadang menghambat mereka untuk berpikir jauh ‘apakah ini akan berdampak pada mental korban atau tidak’?, dan mereka juga biasanya mengikuti ‘model’ yang dilihat entah dari tayangan, atau dari orang yang lebih dewasa yang melakukan hal tsb,” tutur Alumni Universitas Gadjah Mada Yogyakarta itu.
“Biasanya pelaku beralih ‘bercanda’ juga agar tidak dikenai sanksi yang berat, ingin lari dari tanggung jawab atas perbuatan mereka dengan membuat kesan perbuatan ini ‘ringan’ kok,” sambungnya.
Peran Anak Muda sebagai Agen Perubahan
Padahal, bagi korban, pengalaman tersebut bisa meninggalkan luka yang dalam. Dampaknya biasanya korban mengalami kecemasan sosial, menurunnya self esteem, insecure.
"Bahkan ada gejala PTSD (seperti memori kejadian yang muncul di mimpi, dsb), atau mungkin justru self blaming,” kata Esti.
Korban sering kali justru menyalahkan diri sendiri, mulai dari cara berpakaian hingga bentuk tubuh. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa catcalling bukan sekadar gangguan sesaat, tetapi bisa memengaruhi kesehatan mental dalam jangka panjang.
Kini di tengah tantangan ini, generasi muda justru memiliki peran penting untuk memutus rantai normalisasi catcalling.
“Anak muda, jangan mau jadi korban apalagi pelaku, kalian adalah agen perubahan yang memiliki awareness tentang kesehatan mental lebih baik dari generasi sebelumnya,” imbuh Esti.
Langkah sederhana bisa dimulai dari diri sendiri, tidak menjadikan orang lain sebagai bahan candaan, berani menegur tindakan yang salah, dan memberi dukungan kepada korban.
“Kedua, jika menemukan tindakan catcalling, jangan tinggal diam, atau malah ikutan menertawakan, kalian harus berani bilang ‘ini enggak lucu, ini pelecehan’,” lanjutnya.
“Ketiga, jika menjadi korban beranilah untuk bertindak tegas, sadarlah bukan kalian yang salah, namun tindakan pelaku itu yang salah,” katanya lagi.
Media Sosial sebagai Ruang Edukasi
Di era digital saat ini, media sosial menjadi alat yang sangat efektif untuk meningkatkan kesadaran. Sama seperti budaya catcalling yang dulu dipelajari dari tayangan, upaya menyadarkan anak muda melalui media sosial juga dirasa efektif.
"Media sosial bukan hanya tempat berbagi cerita, tetapi juga ruang untuk membangun empati dan edukasi. Dari sana, kesadaran kolektif bisa tumbuh," kata Esti.
Untuk itu ipaya melawan catcalling bukan hanya tugas individu, tetapi tanggung jawab bersama. Dibutuhkan keberanian, edukasi, dan konsistensi untuk mengubah budaya yang sudah mengakar.
“Kita perlu perjuangkan bersama-sama untuk memutus rantai normalisasi ini, tidak bisa hanya segelintir orang yang berjuang. Rasa aman di ruang publik adalah hak kita semua,” pungkasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang