Terungkap! Ketegangan Memuncak Sebelum Gencatan Senjata AS-Iran Disepakati
Setelah lebih dari sebulan terjadi saling serang antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel, ketiga pihak akhirnya sepakat untuk melakukan gencatan senjata. Kesepakatan ini tercapai hanya 90 menit sebelum batas waktu yang ditetapkan oleh Amerika Serikat berakhir.
Di balik tercapainya gencatan senjata ini, ternyata ada banyak cerita dan proses panjang yang tidak terlihat di permukaan. Menurut laporan Axios, pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei untuk pertama kalinya sejak konflik dimulai mendorong tim perundingnya untuk mulai mengarah pada kesepakatan.
Menteri Luar Negeri Iran menyatakan bahwa dalam kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu itu, jalur pelayaran di Selat Hormuz yang menjadi jalur penting bagi sekitar seperlima distribusi minyak dan gas dunia akan tetap terjamin.
“Lalu lintas kapal akan tetap memungkinkan melalui koordinasi dengan Angkatan Bersenjata Iran dan dengan mempertimbangkan batasan teknis yang ada,” tulis Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, di platform X dikutip dari laman NDTV, Rabu 8 April 2026.
Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, pada hari Selasa memuji kesepakatan gencatan senjata tersebut dan menyebutnya sebagai kemenangan bagi Amerika Serikat.
“Keberhasilan militer kami menciptakan posisi tawar yang sangat kuat, sehingga Presiden Trump dan tim dapat melakukan negosiasi yang keras, yang kini membuka jalan menuju solusi diplomatik dan perdamaian jangka panjang,” ujarnya.
Kabar ini langsung disambut antusias oleh pasar saham, yang melonjak karena harapan bahwa krisis yang telah mengguncang ekonomi global selama lebih dari sebulan akan segera berakhir.
Di Balik Layar Gencatan Senjata
Di saat Trump secara terbuka melontarkan ancaman kehancuran besar-besaran, sebenarnya ada pergerakan diplomasi yang cukup intens di balik layar.
Pasukan Amerika Serikat di Timur Tengah dan para pejabat di Pentagon saat itu tengah bersiap menghadapi kemungkinan kampanye pengeboman besar terhadap infrastruktur Iran, sambil mencoba membaca arah keputusan Trump.
Negara-negara sekutu di kawasan juga bersiap menghadapi potensi serangan balasan Iran dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Pada hari Senin, ketika Trump sedang menghadiri perayaan Paskah di Gedung Putih, utusan khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, dilaporkan sedang sibuk berkomunikasi melalui telepon dalam kondisi sangat marah.
Proposal balasan dari Iran yang berisi 10 poin, yang baru saja diterima Washington, disebutnya sebagai bencana besar, menurut laporan tersebut.
Hari itu pun diwarnai dengan berbagai revisi yang disebut ‘kacau’ di mana mediator dari Pakistan bolak-balik menyampaikan draf terbaru antara Witkoff dan Abbas Araghchi. Sementara itu, menteri luar negeri Mesir dan Turki turut membantu menjembatani perbedaan.
Menjelang larut malam Senin, para mediator akhirnya berhasil mendapatkan persetujuan dari pihak AS terhadap proposal terbaru untuk gencatan senjata dua minggu.
Keputusan akhir kini berada di tangan Mojtaba, yang sejak ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi belum pernah tampil di hadapan publik. Namun, ia disebut terlibat aktif dalam proses ini sepanjang Senin dan Selasa.
Di tengah ancaman pembunuhan oleh Israel, Khamenei lebih banyak berkomunikasi melalui pesan tertulis yang disampaikan oleh kurir.
Persetujuannya untuk melanjutkan kesepakatan disebut sebagai terobosan penting. Araghchi juga memainkan peran besar, baik dalam proses negosiasi maupun dalam meyakinkan para komandan Garda Revolusi Iran agar menerima kesepakatan.
China pun disebut ikut menyarankan Iran untuk mencari jalan keluar dari konflik.
Namun, keputusan akhir tetap berada di tangan Khamenei. Semua keputusan penting selama dua hari negosiasi intens itu harus melalui persetujuannya.
“Tanpa lampu hijau darinya, kesepakatan ini tidak akan terjadi,” kata seorang sumber di negara kawasan.
Pada Selasa pagi, tanda-tanda kemajuan mulai terlihat. Namun, hal itu tidak menghentikan Trump untuk kembali melontarkan ancaman paling mengerikan yakni satu peradaban akan musnah malam ini.
Meski sempat muncul laporan dari beberapa media AS bahwa Iran mundur dari perundingan, sumber yang terlibat membantah hal tersebut.
Wakil Presiden AS, JD Vance, juga aktif berkomunikasi dari Hungaria, terutama dengan pihak Pakistan.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, terus berkoordinasi dengan Trump dan timnya sepanjang hari, meski pihak Israel mulai khawatir kehilangan kendali atas proses tersebut.
Menjelang siang hari Selasa, mulai muncul kesepakatan umum bahwa perjanjian hampir tercapai.
Beberapa jam kemudian, Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, mengumumkan poin-poin kesepakatan gencatan senjata melalui X dan mengimbau kedua pihak untuk menerimanya.
Trump pun menyetujui tawaran tersebut.
“Saya setuju untuk menghentikan pengeboman dan serangan terhadap Iran selama dua minggu,” tulisnya di media sosial.
Ia kemudian berbicara dengan Panglima Angkatan Darat Pakistan, Asim Munir, untuk merampungkan kesepakatan.
Sharif juga menyatakan telah mengundang delegasi Iran dan AS untuk bertemu di Islamabad pada hari Jumat.
Sekitar 15 menit setelah pernyataan Trump, pasukan AS diperintahkan untuk menghentikan operasi.
Araghchi kemudian menegaskan bahwa Iran akan mematuhi gencatan senjata tersebut.
Untuk saat ini, situasi terlihat relatif aman.