Kisah Legendaris: Lahirnya Manusia Tercepat di Bumi
Melalui Kisah Legendaris, VIVA Sport mengajak pembaca bernostalgia dengan berbagai cerita timeless dari dunia olahraga, mulai dari rivalitas panas, perjuangan atlet, hingga momen menarik yang mengubah sejarah Pada Olimpiade Beijing 2008 lalu, sebuah sejarah tercipta. Seorang pelari menuntaskan lomba 100 meter hanya 9,69 detik, catatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Ya, rekor itu diciptakan oleh Usain Bolt. Malam ini, dia tidak sekadar memenangkan final nomor 100 meter Olimpiade. Ia mengubah wajah sprint dunia untuk selamanya.
Bolt datang ke garis start dengan cara yang berbeda. Ia menari, bercanda dengan kamera, dan tersenyum lepas di tengah tekanan final Olimpiade. Saat pelari lain terlihat tegang, sprinter asal Jamaika itu justru tampak seperti sedang menikmati pesta.
Beberapa detik setelah pistol ditembakkan, Bolt langsung melesat meninggalkan rival-rivalnya. Kecepatannya terasa tidak masuk akal. Bahkan sebelum mencapai garis finis, ia sudah sempat menepuk dada dan memperlambat langkahnya karena sadar kemenangan sudah ada di tangan.
Yang membuat dunia makin tercengang, tali sepatu Bolt ternyata terlepas saat ia mencetak rekor dunia tersebut. Meski begitu, ia tetap finis dengan catatan waktu 9,69 detik—rekor dunia baru sekaligus salah satu momen olahraga paling ikonik sepanjang sejarah Olimpiade.
Mantan sprinter Trinidad dan Tobago, Ato Boldon, menyebut balapan itu sebagai perlombaan paling mengejutkan yang pernah ia lihat. “Cara dia berakselerasi, selebrasi sebelum finis, dan besarnya panggung Olimpiade membuat balapan itu terasa tidak nyata,” kata Boldon.
Menurutnya, jika ada makhluk luar angkasa yang ingin melihat seperti apa manusia tercepat di bumi, maka video yang harus ditunjukkan adalah final 100 meter Beijing 2008.
Kala itu, Bolt sebenarnya belum sepenuhnya dikenal dunia. Banyak orang lebih mengenalnya sebagai pelari 200 meter. Bahkan sebelum Olimpiade Beijing, ia baru beberapa kali tampil di nomor 100 meter level elite.
Namun semua berubah dalam semalam. Setelah memenangkan emas Olimpiade pertamanya, Bolt langsung menjelma menjadi ikon global. Gayanya yang santai, penuh percaya diri, dan jauh dari kesan kaku membuat dunia atletik terasa lebih hidup.
Tak sedikit yang mengkritik aksinya yang dianggap terlalu sombong karena sudah merayakan kemenangan sebelum garis finis. Namun seiring waktu, momen itulah yang justru membuat balapan tersebut dikenang sepanjang masa.
Bolt bukan hanya cepat. Ia punya karisma yang membuat orang sulit mengalihkan pandangan. Rekor dunia 100 meter miliknya memang akhirnya pecah lagi pada 2009 saat ia mencatat waktu 9,58 detik di Berlin. Tetapi banyak orang percaya, balapan paling ikonik tetap terjadi di Beijing.
Bukan semata karena catatan waktunya, melainkan karena cara Bolt memenangkan lomba itu. Ia membuat nomor 100 meter yang biasanya penuh ketegangan berubah menjadi panggung hiburan dunia.
Legenda Bolt bahkan melampaui batas olahraga atletik. Bintang basket Kevin Durant mengaku momen itu menjadi salah satu kenangan olahraga terbaik dalam hidupnya. Sementara legenda ski alpine Mikaela Shiffrin masih mengingat detail kecil saat menyaksikan final tersebut bersama keluarganya.
Bagi masyarakat Jamaika, kemenangan Bolt memberi dampak luar biasa. Atlet sprint Jamaika, Warren Weir, mengatakan kemenangan itu membuat seluruh negaranya merasa mampu melakukan apa saja.
Malam di Beijing itu bukan hanya tentang medali emas atau rekor dunia. Itu adalah malam ketika dunia pertama kali benar-benar melihat sosok manusia tercepat sepanjang masa.