Mencegah Penularan Campak Saat Mudik

Mencegah Penularan Campak Saat Mudik

Campak termasuk penyakit menular yang masih harus diwaspadai di musim mudik Lebaran. Apalagi penularan penyakit ini jauh lebih cepat dibandingkan influenza.

Dijelaskan oleh dr. Venty, Sp.A, CIMI, dokter spesialis anak di Bethsaida Hospital Gading Serpong, pencegahan utama dari penyakit ini adalah anak sudah divaksinasi MR/MMR dan mendapatkan booster lanjutan di usia 5-7 tahun.

"Sedangkan pencegahan umum dilakukan dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, antara lain rutin mencuci tangan dengan sabun, menerapkan etika batuk dan bersin yang benar, dan mengisolasi penderita di rumah," katanya.

Penyebaran virus terjadi melalui percikan droplet di udara ketika penderita batuk atau bersin. 

"Virus campak juga dapat bertahan di udara atau pada permukaan benda selama beberapa waktu yang dimana dapat menyebabkan resiko pada orang-orang disekitar penderita," kata dr.Venty dalam siaran pers.

Ia mengatakan, campak sering dianggap sebagai penyakit biasa, padahal dalam beberapa kondisi penyakit ini dapat menimbulkan komplikasi yang serius bahkan berisiko menyebabkan kematian, terutama pada anak yang tidak mendapatkan imunisasi atau memiliki daya tahan tubuh yang rendah. 

Gejala awal campak

Pada tahap awal, gejala campak seringkali mirip dengan flu biasa sehingga banyak orang tua tidak langsung menyadarinya.

Ditambahkan oleh dr.Venty, gejala awal yang sering muncul yaitu demam tinggi disertai dengan 3Ck, yaitu Cough (batuk), Coryza (pilek), dan Conjunctivitis (mata merah dan berair).

Salah satu ciri khas campak adalah bercak koplik (bercak putih kecil pada lapisan dalam mulut) yang muncul 1-2 sebelum timbulnya ruam di kulit. 

"Ruam di kulit muncul pada saat demam tinggi dimulai dari bagian kepala terutama wajah dan belakang telinga, kemudian menyebar ke leher, badan, hingga tangan dan kaki. Ruam awalnya berwarna merah pucat dan akhirnya berubah menjadi merah gelap dan memudar," katanya.

Perawatan pasien campak

Hingga saat ini belum ada obat antivirus khusus untuk mengatasi virus campak. Oleh karena itu, penanganan campak umumnya bersifat suportif dan simptomatik, yaitu membantu tubuh melawan infeksi serta meredakan gejala yang muncul.

Penanganan suportif yang dapat dilakukan antara lain memastikan anak cukup istirahat, memberi nustiri yang baik, memastikan kecukupan cairan, dan pemberian vitamin A sesuai usia.

“Vitamin A diberikan untuk membantu mengurangi risiko komplikasi dan angka kematian. Pemberian vitamin A dilakukan selama dua hari berturut-turut sesuai dengan dosis yang dianjurkan,” jelas dr. Venty.

Perawatan di fasilitas kesehatan diperlukan apabila anak mengalami komplikasi, seperti diare yang disertai dehidrasi, pneumonia, malnutrisi, kejang pertama atau kejang demam kompleks, serta radang otak (ensefalitis). 

"Selain itu, bayi berusia kurang dari 6 bulan dan anak dengan kondisi imunokompromais atau daya tahan tubuh yang rendah juga perlu mendapatkan pemantauan dan perawatan medis, tambah dr. Venty.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang