3 Cara Membangun Resiliensi pada Anak, agar Bermental Tangguh dan Tak Mudah Menyerah

resiliensi, resiliensi adalah, resiliensi pada anak, cara agar anak kuat mental, cara membangun resiliensi pada anak, cara membangun anak resilien, cara membangun anak bermental tangguh, 3 Cara Membangun Resiliensi pada Anak, agar Bermental Tangguh dan Tak Mudah Menyerah

Resiliensi atau kemampuan untuk bertahan dan beradaptasi sehingga bisa bangkit dari masalah, saat ini semakin digaungkan kepada anak-anak, agar tumbuh menjadi sosok yang tangguuh dan tak mudah menyerah.

Namun, bagaimana cara membangun resiliensi pada anak?

Cara membangun resiliensi pada anak

1. Kenali emosi

Guru Besar PAUD dan Kesejahteraan Sosial di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Maila Dinia Husni Rahiem, mengatakan bahwa ayah dan ibu harus membantu anak mengenali emosi mereka.

“Kita harus mengenali dulu diri kita, harus mengenal kata emosi juga. Ini perasaan apa sih? Karena emosi itu kan sebenarnya bisa dikenali,” ujar Prof. Maila saat ditemui di Jakarta, Minggu (12/10/2025).

Ketika anak mengungkapkan apa yang dirasakan, orangtua bisa membantu anak mengenali emosi tesebut, apakah itu perasaan senang, sedih, marah, atau yang lainnya.

Terutama pada emosi marah, anak jadi bisa mengenali ketika ia marah sebelum perasaan itu memuncak.

“Jadi, sebelum anak benar-benar marah, anak sudah tahu. Berarti, anak bisa meregulasinya supaya marahnya tidak memuncak. Anak bisa membuat marahnya, secara bertahap, keluar sedikit demi sedikit,” kata Prof. Maila.

2. Pola pikir berkembang

Kemudian adalah memiliki pola pikir berkembang (growth mindset). Prof. Maila mengatakan, salah satu unsur resiliensi terkait hal tersebut adalah pola pikir bahwa manusia mampu bertahan.

“Karena, satu hal yang membuat orang tidak bisa bertahan adalah ketika berpikir kalau sudah terjadi kegagalan, ya sudah gagal saja. Atau, ‘ya sudah aku cuma nunggu ini semua berakhir saja’,” tutur dia.

Sementara itu, anak dengan pola pikir berkembang akan berpikir bahwa ketika terjadi kegagalan, ia akan berusaha agar kegagalan berubah menjadi sesuatu yang menjadi lebih baik dari sebelumnya.

“Dia akan berpikir, waktu akan mengubah sesuatu, usaha akan mengubah sesuatu. Maka, harus ada usaha yang berjalan,” terang Prof. Maila.

Anak bisa berpikir bahwa suatu kegagalan bakal berubah menjadi lebih baik, karena diajarkan dan dipandu oleh orangtua.

Prof. Maila mencontohkan karakter monyet kecil bernama Kimo dalam bukunya yang berjudul “Kimo, Monyet Kecil yang Berani”.

“Ketika Kimo pertama kali terjatuh, ibunya mengatakan ‘coba lagi Kimo, naik dari dahan yang pendek ya Kimo, coba kakimu dilangkahkan’. Itu diajarkan tahap demi tahap supaya mindset (Kimo akan selalu gagal dan terjatuh) yang diubah," tutur dia.

"Skill-nya diajarin, Kimo kakinya harus begini. Selain mindset Kimo yang diubah, ibu juga melatih keterampilan untuk memanjat seperti apa,” lanjutnya.

3. Ajarkan cara meregulasi emosi yang sehat

Kemudian adalah mengajari anak cara yang sehat untuk meregulasi emosinya. Prof. Maila mengatakan, tidak semua anak suka mencurahkan emosinya melalui gambar, tulisan, atau musik.

Untuk itu, orangtua harus membebaskan anak melakukan apapun yang menarik perhatiannya sejak usia dini.

Jadi, anak mengetahui aktivitas apa saja yang disukai, yang nantinya juga bisa dijadikan sebagai cara untuk menyalurkan emosinya.

“Makanya kan di TK diberi kesempatan sebesar-besarnya untuk anak (bereksplorasi). Ini yang disebut sebagai inklusif. Anak harus diberi kesempatan untuk mencari apa yang sebenarnya membuat dia nyaman,” pungkas Prof. Maila.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.