Friday the 13th Dianggap Sial, Ini Alasan Orang Tetap Percaya Mitos

Friday the 13th, mitos, angka 13, Friday the 13th Dianggap Sial, Ini Alasan Orang Tetap Percaya Mitos, Otak manusia suka mencari pola, Pengaruh budaya dan lingkungan, Rasa ingin mengendalikan situasi, Peran media sosial, Friday the 13th hanyalah tanggal biasa

Setiap kali Friday the 13th muncul di kalender, banyak orang kembali membicarakan soal angka sial.

Padahal, tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa tanggal tersebut benar-benar membawa kesialan.

Melansir Economic Times (13/2/2026), Friday the 13th masih dianggap sebagai hari tidak beruntung di banyak budaya Barat. Sebagian orang bahkan menghindari membuat keputusan penting pada tanggal tersebut.

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan: mengapa orang tetap percaya mitos, meskipun fakta tidak mendukungnya?

Otak manusia suka mencari pola

Mengutip Gulf News (13/2/2026), psikiater Abu Dhabi's Burjeel Medical City Dr. Amir Javaid, menjelaskan bahwa manusia secara alami suka mencari pola.

Menurutnya, orang cenderung mengingat kejadian buruk yang terjadi pada Friday the 13th dan melupakan kejadian normal atau positif pada hari yang sama.

Hal ini disebut confirmation bias, yaitu kecenderungan mencari dan mengingat informasi yang sesuai dengan keyakinan yang sudah dimiliki.

Jika seseorang percaya angka 13 membawa sial, otaknya akan lebih mudah mengaitkan peristiwa negatif dengan angka tersebut.

Pengaruh budaya dan lingkungan

Friday the 13th, mitos, angka 13, Friday the 13th Dianggap Sial, Ini Alasan Orang Tetap Percaya Mitos, Otak manusia suka mencari pola, Pengaruh budaya dan lingkungan, Rasa ingin mengendalikan situasi, Peran media sosial, Friday the 13th hanyalah tanggal biasa

Ilustrasi Friday the 13th. Friday the 13th sering dianggap membawa sial, tetapi psikologi menunjukkan bahwa keyakinan itu lebih banyak dipengaruhi cara kerja otak daripada fakta.

Melansir Medical News Today (19/2/2024), banyak kepercayaan terhadap angka tertentu berasal dari tradisi budaya dan agama.

Dalam budaya Barat, angka 13 sering dikaitkan dengan kisah religius dan legenda lama, walaupun asal-usulnya tidak sepenuhnya jelas.

cerita tersebut terus diwariskan dan diperkuat oleh film, media, serta kebiasaan masyarakat.

Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan yang mempercayai angka 13 membawa sial bisa menyerap keyakinan itu tanpa banyak mempertanyakan.

Rasa ingin mengendalikan situasi

Penelitian yang dikutip Medical News Today menunjukkan bahwa takhayul sering muncul ketika seseorang merasa tidak memiliki kendali penuh atas hidupnya. Dalam situasi yang tidak pasti, otak manusia mencari cara untuk merasa lebih aman.

Percaya bahwa menghindari angka tertentu bisa mencegah kesialan memberi rasa kontrol, walaupun tidak terbukti secara logis.

Kepercayaan seperti ini membantu sebagian orang merasa lebih tenang menghadapi ketidakpastian.

Peran media sosial

Amir juga menjelaskan bahwa media sosial membuat mitos lebih cepat menyebar.

Semakin sering orang melihat konten yang mengaitkan Friday the 13th dengan kesialan, semakin kuat keyakinan itu terasa. Paparan berulang membuat sesuatu terlihat benar hanya karena sering dibahas.

Fenomena ini dikenal sebagai availability bias, yaitu kecenderungan menganggap suatu hal lebih umum hanya karena mudah diingat.

Friday the 13th hanyalah tanggal biasa

Secara fakta, Friday the 13th tidak berbeda dari tanggal lainnya. Tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan angka 13 meningkatkan risiko kejadian buruk. Namun makna yang diberikan masyarakat membuat tanggal tersebut terasa istimewa.

Para ahli menilai, kepercayaan terhadap mitos lebih berkaitan dengan cara kerja otak dan pengaruh budaya dibanding kenyataan objektif.

Friday the 13th menjadi contoh bagaimana pikiran manusia bisa memberi arti khusus pada sesuatu yang sebenarnya netral.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang